Ada tangis yang tersembunyi tiap malam datang
Kesedihan yang melanda kala maut menghampiri dengan tenang
Tapi bukankah seharusnya aku senang
Karena ingatan tentang mereka tak pernah hilang
Kepada mereka yang menunggu dengan sabar
Dan kedua matanya yang selalu menatap nanar
Waktu terus saja berputar
Melupakan mereka yang sesungguhnya benar
Malam memang tak selalu terang benderang
Tapi bukankah ia memiliki bintang
Melayang seperti kunang – kunang
Seolah – olah sebagai pengantar pulang
Rasanya seperti berlayar
Setiap kali bermain dengan nalar
Kadang jelas kadang juga buyar
Dan aku tak perlu membayar
Pulanglah wahai engkau yang berada dalam
Marilah segera kita bersulang
Atas nama darah dan tulang
Dan juga hati yang tengah berang
Hati memang tak bercadar
Hampir sama seperti telur dadar
Kadang ia terlihat kekar
Tapi kadang mudah terluka oleh mawar
Hazmi. Iskandar
Tata kaca
Yogyakarta, 24 - 04 - 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar