Salah
Arah (?)
Bumi
sudah semakin tua. Usia bumi sat ini telah mencapi umur 5.54 miliar tahun.
Penghitungan ini dilakukan berdasarkan penanggalan radiometric yang dilakukan
oleh US Geological Survey (USGS) yang
dimuat dalam buku Age of the Earth
(1997). Tahun ini dari perhitungan bumi mengelilingi matahari yang sudah
disepakati, berada di angkat 2013 masehi. Angka baru untuk tahun baru. Lalu
apa? Cara hidup yang semakin mengikuti perkembangan zaman di era pascamodern
demi mendapatkan predikat manusia modern? Entahlah.
Dilihat
dari sejarahnya, manusia modern sudah muncul sebelum kata modern sendiri itu
muncul. Manusia modern muncul ketika pemikiran simbolik mereka membentuk sebuah
kreatifitas kultural seperti bahasa, kesenian, agama, dan juga mitos. Mencoba
memahami sejarah bagaimana manusia modern terbentuk berarti mencoba memahami
terbentuknya pemikiran orang – orang yang mengaku dirinya modern.
Kini,
di era pascamodern yang diciptakan sendiri oleh pola pikir – pola pikir manusia
modern yang semakin terbuka karena sumber informasi yang semakin mudah diakses,
sebuah krisis muncul ketika persepsi kebenaran menjadi semakin bias dan
menghilang.
“Kita
tahu bahwa kontradiksi antara ruang privat dan ruang publik yang merupakan
cirri tahap awal era modern, telah menjadi fenomena temporer yang
memperkenalkan penghilangan perbedaan utama antara ruang privat dan ruang
publik, serta penggabungan keduanya dalam wilayah ruang social.”
(Hannah Arendt, The Human Condition,
1959)
Dalam
The Political Philosophy of Hannah Arendt
(1994) Maurizo Passerin d’Entreves mengungkapkan bahwa, pada zaman modern,
kekuasaan untuk menentukan realitas ada pada subjektivitas (diri manusia).
Realitas seakan – akan menjadi persoalan pribadi. Dengan menolak asumsi bahwa
ralitas bisa diverifikasi melalui pancaindra, masa modern justru telah
kehilangan seluruh kepercayaan pada realitas.
Keterasingan
yang muncul akibat hilangnya kepercayaan manusia terhadap apapun sehingga lebih
memercayai dirinya sendiri membuat manusia mulai meningkatkan nilai – nilai
narsisme pada dirinya yang dapat dilihat dalam jejaring social. Pada fase
inilah muncul persepsi – persepsi kebenaran individu, realitas dan kebenaran
ditentukan secara subjektif karena manusia tak lagi memercayai apa – apa. Nalar
dan rasa yang dimiliki telah hilang hingga muncul keraguan. Keraguan inilah
yang mengakibatkan manusia memiliki orientasi lebih terhadap dirinya
sendiri. dengan semakin tingginya nilai
kebenaran berdasarkan persepsi subjektif, kita mulai menutup diri dari segela
kebenaran lainnya.
The Postmodern Condition
(1984) yang ditulis oleh Jean Francois Lyotard mengungkapkan bahwa
pascamodernisme menolak pandangan tentang kebenaran sebagai objek abadi.
Pascamodernisme juga menolak ide metanarasi atau kisah agung yang dapat memberikan
kepada kita pengetahuan spesifik tentang arah, makna dan tujuan moral
‘perkembangan’ manusia. Hal ini membuat manusia dituntut untuk lebih mandiri,
bahkan cenderung ke arah individualis, karena tak ada lagi yang bisa dipercayai
selain dirinya sendiri dalam menentukan arah perkembangan hidupnya.
Hidup
di era pascamodern yang ditopang oleh kemajuan teknologi informasi jelas telah
memicu ledakan informasi di Indonesia, sehingga kita tak lagi dikenal sebagai
masyarakat industri melainkan masyrakat informasi. Sebagai seorang akademisi
yang mempelajari tentang bagaimana informasi didapat dan disalurkan melalui
media massa, ada baiknya kita lebih bisa membuka pikiran mengenai bagaimana
parahnya dampak realitas subjektif dalam dunia perputaran informasi.
Kita
adalah orang – orang yang memiliki pengaruh besar dalam konstruksi sosial di negara
ini. Ingat bagaimana rezim Alm. Soeharto dapat runtuh 98 silam? Mereka yang
berhasil mengubah keadaan adalah mereka yang memiliki status sama dengan kita,
mahasiswa. Ketika itu, arus informasi bahkan belum sampai seperti saat ini,
dimana kita bisa menerima informasi dalam hitungan detik. Apakah justru karena
adanya keterbatasan mereka berhasil menciptakan sebuah perubahan dalam
peradaban Negara ini?
Dalam
film James Bond berjudul Tomorrow Never
Dies, Elliot Carter nyaris berhasil menguasai pikiran orang awam hanya
dengan menentukan apa saja yang akan mereka dengar dan lihat. “Pesan transparan yang diberikan oleh film
ini, dan banyak film lain serupa yang muncul sejak tahun 1997 bahwa kita hidup
dalam dunia yang semakin terancam oleh pihak – pihak pengendali ‘kekuasaan
media’, yaitu mereka yang menguasai jaringan televise, studio produksi film dan
computer”(Marcel Danesi, Understanding
Media Semiotics, 2002) . Disinilah mengapa realitas subjektif menjadi
sangat berbahaya, kita akan terus digiring ke dalam suatu dunia hasil rekaan
kebenaran individu melalui media massa.
Yang
lebih berbahaya sebenarnya bukan hanya mengenai bagaimana realitas subjektif
dijadikan sebuah dasar untuk mendominasi, melainkan ketika kita, mahasiswa,
juga membenarkan hal itu terjadi atau malah tidak perduli terhadap hal
tersebut. Dengan didasari kebenaran subjektif, setiap individu kini berhasil
menciptakan kebenaran masing – masing mengenai apa itu realitas, sehingga
kepedulian terhadap permasalahan bersama hilang dan lebih berorientasi
terhadap diri sendiri “Modernitas melahirkan manusia dengan
karakteristik individualis, apolitis, dan kehilangan rasionalitas.” (Hannah
Arendt). Kelebihan sebagai akademisi yang mempelajari ilmu komunikasi dan hidup
di era informasi menjadi sia - sia.
Melakukan
perubahan memang tidak mudah. Perubahan terhadap diri sendiri saja terkadang
sulit untuk dilakukan, apalagi perubahan dalam skala besar. Tuhan saja perlu
memutarkan bumi ini selama 365 hari untuk merubah satu tahun umur bumi sebagai
bukti bahwa melakukan perubahan memang tidak mudah.
Kembali
ke persoalan, modernitas sebenarnya bukan sekedar perkembangan teknologi yang
semakin canggih, melainkan perkembangan pola pikir ke arah yang benar. Benar
bukan sekedar benar, karena kebenaran seharusnya ditentukan melalui objektifitas, bukan subjektifitas.
Manusia
yang modern adalah manusia yang membuka
pemikirannya untuk kemajuan peradaban, bukan malah menutup pemikirannya
terhadap kebenaran – kebenaran yang sebenarnya dan membiarkan peradaban maju ke
arah yang salah. Hal ini tentu menjadi pengecualian jika kita adalah manusia primitif
yang hidup di era pascamodern.
***
Tulisan ini juga di muat di majalahkaldera edisi Januari lalu...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar