26 Januari 2013

Salah Arah (?)


Salah Arah (?)

Bumi sudah semakin tua. Usia bumi sat ini telah mencapi umur 5.54 miliar tahun. Penghitungan ini dilakukan berdasarkan penanggalan radiometric yang dilakukan oleh US Geological Survey (USGS) yang dimuat dalam buku Age of the Earth (1997). Tahun ini dari perhitungan bumi mengelilingi matahari yang sudah disepakati, berada di angkat 2013 masehi. Angka baru untuk tahun baru. Lalu apa? Cara hidup yang semakin mengikuti perkembangan zaman di era pascamodern demi mendapatkan predikat manusia modern? Entahlah.

Dilihat dari sejarahnya, manusia modern sudah muncul sebelum kata modern sendiri itu muncul. Manusia modern muncul ketika pemikiran simbolik mereka membentuk sebuah kreatifitas kultural seperti bahasa, kesenian, agama, dan juga mitos. Mencoba memahami sejarah bagaimana manusia modern terbentuk berarti mencoba memahami terbentuknya pemikiran orang – orang yang mengaku dirinya modern.

Kini, di era pascamodern yang diciptakan sendiri oleh pola pikir – pola pikir manusia modern yang semakin terbuka karena sumber informasi yang semakin mudah diakses, sebuah krisis muncul ketika persepsi kebenaran menjadi semakin bias dan menghilang.

“Kita tahu bahwa kontradiksi antara ruang privat dan ruang publik yang merupakan cirri tahap awal era modern, telah menjadi fenomena temporer yang memperkenalkan penghilangan perbedaan utama antara ruang privat dan ruang publik, serta penggabungan keduanya dalam wilayah ruang social.” (Hannah Arendt, The Human Condition, 1959)

Dalam The Political Philosophy of Hannah Arendt (1994) Maurizo Passerin d’Entreves mengungkapkan bahwa, pada zaman modern, kekuasaan untuk menentukan realitas ada pada subjektivitas (diri manusia). Realitas seakan – akan menjadi persoalan pribadi. Dengan menolak asumsi bahwa ralitas bisa diverifikasi melalui pancaindra, masa modern justru telah kehilangan seluruh kepercayaan pada realitas.

Keterasingan yang muncul akibat hilangnya kepercayaan manusia terhadap apapun sehingga lebih memercayai dirinya sendiri membuat manusia mulai meningkatkan nilai – nilai narsisme pada dirinya yang dapat dilihat dalam jejaring social. Pada fase inilah muncul persepsi – persepsi kebenaran individu, realitas dan kebenaran ditentukan secara subjektif karena manusia tak lagi memercayai apa – apa. Nalar dan rasa yang dimiliki telah hilang hingga muncul keraguan. Keraguan inilah yang mengakibatkan manusia memiliki orientasi lebih terhadap dirinya sendiri.  dengan semakin tingginya nilai kebenaran berdasarkan persepsi subjektif, kita mulai menutup diri dari segela kebenaran lainnya.

The Postmodern Condition (1984) yang ditulis oleh Jean Francois Lyotard mengungkapkan bahwa pascamodernisme menolak pandangan tentang kebenaran sebagai objek abadi. Pascamodernisme juga menolak ide metanarasi atau kisah agung yang dapat memberikan kepada kita pengetahuan spesifik tentang arah, makna dan tujuan moral ‘perkembangan’ manusia. Hal ini membuat manusia dituntut untuk lebih mandiri, bahkan cenderung ke arah individualis, karena tak ada lagi yang bisa dipercayai selain dirinya sendiri dalam menentukan arah perkembangan hidupnya.  

Hidup di era pascamodern yang ditopang oleh kemajuan teknologi informasi jelas telah memicu ledakan informasi di Indonesia, sehingga kita tak lagi dikenal sebagai masyarakat industri melainkan masyrakat informasi. Sebagai seorang akademisi yang mempelajari tentang bagaimana informasi didapat dan disalurkan melalui media massa, ada baiknya kita lebih bisa membuka pikiran mengenai bagaimana parahnya dampak realitas subjektif dalam dunia perputaran informasi.

Kita adalah orang – orang yang memiliki pengaruh besar dalam konstruksi sosial di negara ini. Ingat bagaimana rezim Alm. Soeharto dapat runtuh 98 silam? Mereka yang berhasil mengubah keadaan adalah mereka yang memiliki status sama dengan kita, mahasiswa. Ketika itu, arus informasi bahkan belum sampai seperti saat ini, dimana kita bisa menerima informasi dalam hitungan detik. Apakah justru karena adanya keterbatasan mereka berhasil menciptakan sebuah perubahan dalam peradaban Negara ini?

Dalam film James Bond berjudul Tomorrow Never Dies, Elliot Carter nyaris berhasil menguasai pikiran orang awam hanya dengan menentukan apa saja yang akan mereka dengar dan lihat. “Pesan transparan yang diberikan oleh film ini, dan banyak film lain serupa yang muncul sejak tahun 1997 bahwa kita hidup dalam dunia yang semakin terancam oleh pihak – pihak pengendali ‘kekuasaan media’, yaitu mereka yang menguasai jaringan televise, studio produksi film dan computer”(Marcel Danesi, Understanding Media Semiotics, 2002) . Disinilah mengapa realitas subjektif menjadi sangat berbahaya, kita akan terus digiring ke dalam suatu dunia hasil rekaan kebenaran individu melalui media massa.

Yang lebih berbahaya sebenarnya bukan hanya mengenai bagaimana realitas subjektif dijadikan sebuah dasar untuk mendominasi, melainkan ketika kita, mahasiswa, juga membenarkan hal itu terjadi atau malah tidak perduli terhadap hal tersebut. Dengan didasari kebenaran subjektif, setiap individu kini berhasil menciptakan kebenaran masing – masing mengenai apa itu realitas, sehingga kepedulian terhadap permasalahan bersama hilang dan lebih berorientasi terhadap  diri sendiri “Modernitas melahirkan manusia dengan karakteristik individualis, apolitis, dan kehilangan rasionalitas.” (Hannah Arendt). Kelebihan sebagai akademisi yang mempelajari ilmu komunikasi dan hidup di era informasi menjadi sia - sia.

Melakukan perubahan memang tidak mudah. Perubahan terhadap diri sendiri saja terkadang sulit untuk dilakukan, apalagi perubahan dalam skala besar. Tuhan saja perlu memutarkan bumi ini selama 365 hari untuk merubah satu tahun umur bumi sebagai bukti bahwa melakukan perubahan memang tidak mudah.

Kembali ke persoalan, modernitas sebenarnya bukan sekedar perkembangan teknologi yang semakin canggih, melainkan perkembangan pola pikir ke arah yang benar. Benar bukan sekedar benar, karena kebenaran seharusnya ditentukan  melalui objektifitas, bukan subjektifitas.

Manusia yang modern  adalah manusia yang membuka pemikirannya untuk kemajuan peradaban, bukan malah menutup pemikirannya terhadap kebenaran – kebenaran yang sebenarnya dan membiarkan peradaban maju ke arah yang salah. Hal ini tentu menjadi pengecualian jika kita adalah manusia primitif yang hidup di era pascamodern.

***

Tulisan ini juga di muat di majalahkaldera edisi Januari lalu...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar