Ini tentang kemarin, waktu hujan terus mengguyur sepanjang hari tanpa menyisakan celah bagi matahari untuk bersinar. Semua menjadi terlihat murung, yang mungkin dikarenakan sugesti dari kelamnya langit. Tapi sebenarnya bukan ini yang mau aku bicarakn disini, ini hanya prolog, ya semacam itulah.
Kemarin, kita bertemu lagi. Demi menepati janji yang sudah kuucapkan di waktu yang lalu, sekitar tiga bulan yang lalu. “Segeralah menemuiku, dua tahun tidak bertemu, aku lupa senyummu.” Ucapmu dalam sebuah pesan singkay yang kamu kirim ditengah hari yang kelabu. Aku tersenyum seketika. “Tunggu, akhir tahun nanti aku datang, kita bertemu, dan lihat lagi senyumku.” Balasku singkat seraya mengira responmu kemudian. Tapi sayang, tak ada balasan saat itu, hari itu, bahkan hingga 3 bulan ke depan, menjelang kedatanganku ke kotamu. Aku tak peduli, semua sudah bulat, rencanaku sudah terlalu matang untuk dibiarkan menjadi basi. Aku akan menemuimu.
Kemudian aku kembali ke kotamu, kota yang kamu keluhkan tentang kemacetannya. Tempat dimana kita dulu pernah membuat sebuah cerita, meski hanya sebuah cerita pendek. Tempat dimana kita sering menghabiskan waktu bersama, meski selalu di rumahmu, karena aku tak mau ambil resiko ketahuan, dan kamu setuju.
Aku ingat, dulu kita pernah merayakan ulang tahunmu yang ke-24 secara kecil – kecilan di rumahmu. Bersama keluargamu, sahabatmu, dan juga pacarmu, ya meski dia hanya datang sebentar lalu pergi lagi karena masih ada keperluan. Kemudian kamu murung, di hari yang istimewa bagimu. Untungnya sahabatmu bisa mengiburmu kembali, sehingga suasana kembali menjadi normal kembali. Aku ingat, hari itu, kamu tiba – tiba saja menggandeng tanganku ditengah obrolan yang sedang kita lakukan bersama keluargamu dan juga sahabatmu. Aku hanya diam. Oh iya, aku juga ingat, hari itu, ada satu ucapan selamat untukmu yang tak tersampaikan. Ucapan selamat yang seharusnya kusampaikan tapi tak jadi karena takut membuatmu murung lagi. Ucapan selamat itu darinya yang dititipkan kepadaku.
Di rumahmu jugalah kita terakhir kali berbincang, sebelum akhirnya aku pergi meninggalkan kotamu untuk satu urusan. Hari itu hujan turun, meski tak terlalu deras, tapi cukup membuat jaketku kebahasan waktu datang ke rumahmu malam itu. Lalu kita seperti biasa, duduk di teras rumahmu, di sebuah bangku yang terbuat dari bambu. Malam itu aku datang menemuimu karena kamu meminta penjelasan dariku mengenainya. Kamu tahu aku membohongimu. Aku berbicara dan kamu diam. Lalu aku pulang. Dengan kebisuan yang ada diantara kita sejak malam itu, kita mulai menjauh. Lalu semakin menjauh, semenjak kamu juga harus meninggalkan kotamu untuk meneruskan studimu di kota lain. 2 tahun pun berlalu. Aku bahkan belum sempat menepati janjiku untuk mengantarmu menemui ibu keduamu.
Kemarin, kita bertemu kembali. Kemarin dua mata sipit itu kembali berada dalam jarak pandangku, dekat. Kemarin, lesung pipimu kembali menunjukan keramahan yang kamu miliki ketika kamu menyambutku di depan gerbang rumahmu. Kemarin kita kembali tertawa, bersama.
Kemarin aku sadar, intensi untuk bersama denganmu memang masih ada. Meski kamu tak menunjukan hal yang serupa. Mungkin kini sudah ada yang lain, mungkin juga intensi itu memang masih ada, namun kamu tak berani menunjukannya. Kamu tak mau semua terulang lagi seperti dulu, karena kamu tahu, aku tak sendiri.
Kemarin kita menghabiskan hari dengan menonton serial drama kesukaanmu lewat notebookmu. Lalu pergi mencari makan di tengah hujan. Pukul tujuh malam aku pergi meninggalkan rumahmu. Aku pergi dengan harapan kamu akan menunjukan intensi mu pada saat aku pergi meski sekedar mengirimkan pesan pendek. Namun sayang, itu tidak terjadi.
Tejo.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar