19 Januari 2012

Surat Cinta (?)

Seolah - olah mengikuti trend, aku menulis ini untuk kamu, kamu yang mungkin saat ini tengah asik bergumul dengan imajinasimu.



Apa kabar kamu? seperti biasa aku basa - basi, mencairkan suasana yang sudah terlalu beku karena jarak membuat semua menjadi dingin, kamu dan sikapmu kepadaku. Sebenarnya apa daya yang dipunya dari yang aku tulis ini? Toh, bukankah sehari - hari kita sudah berkomunikasi secara rutin melalui layanan pesan singkat.

Hari ini, hari Rabu, tanggal 19, bulan 1, tahun 2012. Kamu ingat tentang apa yang kita lewati pada tanggal yang sama tahun lalu? Aku harap kamu ingat, karena aku sudah lupa, aku hanya ingat kamu berada disini, di kota dimana aku tinggal untuk sesaat, meninggalkan kamu jauh disana, 600 kilo jauhnya. Aku minta maaf sebelumnya, karena tidak terlalu mengingat apa yang sudah kita lewati bersama pada saat itu, karena jujur saja, tanpa kamu, aku pelupa.

Aku lupa, alasan pasti kenapa aku menulis ini untukmu, yang aku ingat aku hanya ingin menulis sesuatu untukmu, kamu yang selalu mengingatkanku, akan segala hal. Mengingatkanku untuk beristirahat kala aku terlalu sibuk, padahal disatu sisi kamu membutuhkanku untuk menemanimu. Kamu yang mengingatkanku untuk segera makan, padahal disatu sisi kamu mungkin belum makan. Dan segala aktivitas yang aku lakukan setiap harinya selalu kamu ingatkan, seolah - olah kamu sedang menjadi ibuku, yang mengkhawatirkan akan kondisi putranya. Tidak aku tidak akan menyamakanmu dengan ibuku, karena bagaimanapun juga, kamu berbeda, kamu tidak memiliki wajah yang sama, postur tubuhmu juga berbeda jauh dengan ibuku, dan satu hal yang pasti, aku tidak lahir dari rahimmu.

Hanya saja, satu hal yang sama antara kamu dan ibuku adalah, sifatmu, kamu mengkahatirkanku layaknya ibuku mengkhawatirkanku, kamu merindukanku layaknya ibuku merindukanku, meski untuk urusan sayang, aku yakin sepertinya ibuku lebih menyayangiku.Bukan, bukannya aku tidak yakin kamu menyayangiku secara tulus, tapi, bagaimanapun juga, pasti berbeda bukan sayang antara seorang ibu dan seorang anak.Ah, maafkan aku, aku lupa, bukankah aku sedang menulis surat untukmu, bukan ibuku.

Maka, ketika apa yang aku tulis ini akan berakhir, aku mulai mengingat apa tujuanku menulis ini. Aku membutuhkanmu. Karena seperti apa yang telah aku katakan sebelumnya, tanpa kamu, aku pelupa. Aku mau kamu terus ada didekatku untuk tetap mengingatkanku ketika aku lupa, mengingatkanku ketika apa yang kuperbuat salah, mengingatkanku untuk terus menyayangimu atas segala alasan yang ada, mengingatkanku untuk tetap membuatmu bahagia meski kita terpisah jarak, dan mengingatkanku akan segala janji - janji yang belum terbukti hingga saat ini. Dengan ini aku akhiri apa yang aku tulis ini, terima kasih atas kesediaanmu membaca, maaf bila terdapat banyak kesalahan, aku hanyalah seseorang yang bisa membaca namun tak pandai membuat tulisan untuk dibaca. Yours, Ams.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar