Seolah - olah mengikuti trend, aku menulis ini untuk kamu, kamu yang mungkin saat ini tengah asik bergumul dengan imajinasimu.
Apa kabar kamu? seperti biasa aku basa - basi, mencairkan suasana yang sudah terlalu beku karena jarak membuat semua menjadi dingin, kamu dan sikapmu kepadaku. Sebenarnya apa daya yang dipunya dari yang aku tulis ini? Toh, bukankah sehari - hari kita sudah berkomunikasi secara rutin melalui layanan pesan singkat.
Hari ini, hari Rabu, tanggal 19, bulan 1, tahun 2012. Kamu ingat tentang apa yang kita lewati pada tanggal yang sama tahun lalu? Aku harap kamu ingat, karena aku sudah lupa, aku hanya ingat kamu berada disini, di kota dimana aku tinggal untuk sesaat, meninggalkan kamu jauh disana, 600 kilo jauhnya. Aku minta maaf sebelumnya, karena tidak terlalu mengingat apa yang sudah kita lewati bersama pada saat itu, karena jujur saja, tanpa kamu, aku pelupa.
Aku lupa, alasan pasti kenapa aku menulis ini untukmu, yang aku ingat aku hanya ingin menulis sesuatu untukmu, kamu yang selalu mengingatkanku, akan segala hal. Mengingatkanku untuk beristirahat kala aku terlalu sibuk, padahal disatu sisi kamu membutuhkanku untuk menemanimu. Kamu yang mengingatkanku untuk segera makan, padahal disatu sisi kamu mungkin belum makan. Dan segala aktivitas yang aku lakukan setiap harinya selalu kamu ingatkan, seolah - olah kamu sedang menjadi ibuku, yang mengkhawatirkan akan kondisi putranya. Tidak aku tidak akan menyamakanmu dengan ibuku, karena bagaimanapun juga, kamu berbeda, kamu tidak memiliki wajah yang sama, postur tubuhmu juga berbeda jauh dengan ibuku, dan satu hal yang pasti, aku tidak lahir dari rahimmu.
Hanya saja, satu hal yang sama antara kamu dan ibuku adalah, sifatmu, kamu mengkahatirkanku layaknya ibuku mengkhawatirkanku, kamu merindukanku layaknya ibuku merindukanku, meski untuk urusan sayang, aku yakin sepertinya ibuku lebih menyayangiku.Bukan, bukannya aku tidak yakin kamu menyayangiku secara tulus, tapi, bagaimanapun juga, pasti berbeda bukan sayang antara seorang ibu dan seorang anak.Ah, maafkan aku, aku lupa, bukankah aku sedang menulis surat untukmu, bukan ibuku.
Maka, ketika apa yang aku tulis ini akan berakhir, aku mulai mengingat apa tujuanku menulis ini. Aku membutuhkanmu. Karena seperti apa yang telah aku katakan sebelumnya, tanpa kamu, aku pelupa. Aku mau kamu terus ada didekatku untuk tetap mengingatkanku ketika aku lupa, mengingatkanku ketika apa yang kuperbuat salah, mengingatkanku untuk terus menyayangimu atas segala alasan yang ada, mengingatkanku untuk tetap membuatmu bahagia meski kita terpisah jarak, dan mengingatkanku akan segala janji - janji yang belum terbukti hingga saat ini. Dengan ini aku akhiri apa yang aku tulis ini, terima kasih atas kesediaanmu membaca, maaf bila terdapat banyak kesalahan, aku hanyalah seseorang yang bisa membaca namun tak pandai membuat tulisan untuk dibaca. Yours, Ams.
Tampilkan postingan dengan label Rindu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rindu. Tampilkan semua postingan
19 Januari 2012
20 November 2010
Merindu itu... Hak.
" Sudah pukul 3 pagi dan aku masih belum bisa tertidur lagi setelah terbangun dari tidur sebelumnya ". Ucap Tejo ketika terdiam sambil memandangi layar laptopnya. ia lekas keluar dari kamarnya dan membuat segelas kopi hangat untuk menjaga tubuhnya tetap hangat di malam yang dingin.
Sambil memangdangi langit yang gelap diluar jendela ia merenung. Tak sadar, sudah 4 tahun sejak ia pergi meninggalkan kota kelahirannya untuk mencari lembaran lembaran kertas berwarna yang berharga. itu semua ia lakukan untuk membalas jasa orang tuanya yang telah susah payah membiayai hidupnya dari kecil hingga menyandang gelar sarjana. " Aku sudah tak bisa lagi bergantung pada mereka, untuk apa ijazah ini aku kejar ? " ucapnya dalam hati ketika menyalakan sebatang rokok.
Ketika sedang berlancar di dunia maya ia teringat akan sebuah surat elektronik yang menyambangi kotak masuk e-mailnya beberapa hari yang lalu. Disitu tertulis alamat pengirimnya, yansyani@yahoo.com, sebuah nama yang tentu saja ia hapal, itu adalah alamat email milik adiknya, Suryani.
Tertulis dalam surat itu tentang kerinduannya akan Tejo, tidak, bukan hanya dia, tapi seluruh orang rumah merindukan sosok Tejo. Kadang, memang tejo merasa terganggu dengan si adik yang terlalu sering mengirimkan surat tersebut ke e-mailnya. Namun apa daya, ia tak bisa berbuat apa, ingin melarangnya tidak mungkin, dia adalah adiknya, sungguh jahat rasanya bila melarang adiknya untuk mengungkapkan rasa rindu akan kehadiran sosok seorang kakak yang terbiasa membimbing dan membantunya.
Rasa terganggu itu sebenarnya bukan apa apa, Tejo hanya merasa terganggu karena setiap kali ia membaca surat surat berisi ungkapan rindu itu ia menjadi teringat akan rumah. Membuatnya rindu masa masa kecil yang ia habiskan bersama keluarganya, tertawa bersama ketika sedang berkumpul, bercanda dengan ibu yang ia cintai, berdiskusi ringan dengan ayahnya yang ia kagumi, dan bermain bersama adik adiknya. itu semua membuatnya ingin segera kembali kerumah, merasakan nyamannya rumah sendiri, merasakan tenangnya berada dekat dengan seorang ibu yang biasa ada setiap kali ia sedang gundah, merasakan aman ketika berada dekat sang ayah, dan merasa disayangi oleh adik adiknya.
Lalu ia berpikir, bukankah dulu ia juga melakukan hal yang serupa terhadap Surti dan Ngatiyem setiap kali ia merasakan rindu kepada dua perempuan cantik itu, meski tidak sesering yang dilakukan adiknya. " Apa, mereka juga merasa terganggu dengana apa yang aku lakukan ? " Ucapnya ketika menyadari hal tersebut. ia pun merasa malu terhadap dirinya sendiri, " seharusnya aku berkaca dulu sebelum memberi komentar terhadap ketampanan pria lain. " Ucapnya dalam hati.
Ia sadar, merindu itu adalah sebuah hak yang dimiliki setiap orang, jadi ia tak bisa berbuat apa apa, karena tentu saja ia tak ingin haknya itu diganggu, ia tak ingin ketika ia sedang merindu dilarang-larang. Tak ada yang salah ketika sedang merindukan seseorang, mungkin yang salah hanya bagaimana cara mengungkapkannya. Merindu itu baik dan sah sah saja selama cara mengungkapkannya juga baik. Karena merindu itu adalah hak, dan hak yang baik adalah hak yang dijalankan dengan wajar dan bertanggung jawab.
Adik dan orang tuanya tak salah merindukannya, mengkhawatirkannya, itu hak mereka sebagai keluarganya. " Seharusnya aku mengerti hal itu. kini yang ku mau hanya pulang dan segera bertemu dengan dan menghabiskan waktu bersama mereka." Ucap tejo sambil mematikan rokoknya di asbak, lalu iapun kembali ke kasurnya dan mencoba untuk tidur kembali.
Jadi, sudahkan kalian merindu hari ini ? Jika belum, merindulah.
Sambil memangdangi langit yang gelap diluar jendela ia merenung. Tak sadar, sudah 4 tahun sejak ia pergi meninggalkan kota kelahirannya untuk mencari lembaran lembaran kertas berwarna yang berharga. itu semua ia lakukan untuk membalas jasa orang tuanya yang telah susah payah membiayai hidupnya dari kecil hingga menyandang gelar sarjana. " Aku sudah tak bisa lagi bergantung pada mereka, untuk apa ijazah ini aku kejar ? " ucapnya dalam hati ketika menyalakan sebatang rokok.
Ketika sedang berlancar di dunia maya ia teringat akan sebuah surat elektronik yang menyambangi kotak masuk e-mailnya beberapa hari yang lalu. Disitu tertulis alamat pengirimnya, yansyani@yahoo.com, sebuah nama yang tentu saja ia hapal, itu adalah alamat email milik adiknya, Suryani.
Tertulis dalam surat itu tentang kerinduannya akan Tejo, tidak, bukan hanya dia, tapi seluruh orang rumah merindukan sosok Tejo. Kadang, memang tejo merasa terganggu dengan si adik yang terlalu sering mengirimkan surat tersebut ke e-mailnya. Namun apa daya, ia tak bisa berbuat apa, ingin melarangnya tidak mungkin, dia adalah adiknya, sungguh jahat rasanya bila melarang adiknya untuk mengungkapkan rasa rindu akan kehadiran sosok seorang kakak yang terbiasa membimbing dan membantunya.
Rasa terganggu itu sebenarnya bukan apa apa, Tejo hanya merasa terganggu karena setiap kali ia membaca surat surat berisi ungkapan rindu itu ia menjadi teringat akan rumah. Membuatnya rindu masa masa kecil yang ia habiskan bersama keluarganya, tertawa bersama ketika sedang berkumpul, bercanda dengan ibu yang ia cintai, berdiskusi ringan dengan ayahnya yang ia kagumi, dan bermain bersama adik adiknya. itu semua membuatnya ingin segera kembali kerumah, merasakan nyamannya rumah sendiri, merasakan tenangnya berada dekat dengan seorang ibu yang biasa ada setiap kali ia sedang gundah, merasakan aman ketika berada dekat sang ayah, dan merasa disayangi oleh adik adiknya.
Lalu ia berpikir, bukankah dulu ia juga melakukan hal yang serupa terhadap Surti dan Ngatiyem setiap kali ia merasakan rindu kepada dua perempuan cantik itu, meski tidak sesering yang dilakukan adiknya. " Apa, mereka juga merasa terganggu dengana apa yang aku lakukan ? " Ucapnya ketika menyadari hal tersebut. ia pun merasa malu terhadap dirinya sendiri, " seharusnya aku berkaca dulu sebelum memberi komentar terhadap ketampanan pria lain. " Ucapnya dalam hati.
Ia sadar, merindu itu adalah sebuah hak yang dimiliki setiap orang, jadi ia tak bisa berbuat apa apa, karena tentu saja ia tak ingin haknya itu diganggu, ia tak ingin ketika ia sedang merindu dilarang-larang. Tak ada yang salah ketika sedang merindukan seseorang, mungkin yang salah hanya bagaimana cara mengungkapkannya. Merindu itu baik dan sah sah saja selama cara mengungkapkannya juga baik. Karena merindu itu adalah hak, dan hak yang baik adalah hak yang dijalankan dengan wajar dan bertanggung jawab.
Adik dan orang tuanya tak salah merindukannya, mengkhawatirkannya, itu hak mereka sebagai keluarganya. " Seharusnya aku mengerti hal itu. kini yang ku mau hanya pulang dan segera bertemu dengan dan menghabiskan waktu bersama mereka." Ucap tejo sambil mematikan rokoknya di asbak, lalu iapun kembali ke kasurnya dan mencoba untuk tidur kembali.
Jadi, sudahkan kalian merindu hari ini ? Jika belum, merindulah.
Langganan:
Postingan (Atom)
