20 November 2010

Merindu itu... Hak.

" Sudah pukul 3 pagi dan aku masih belum bisa tertidur lagi setelah terbangun dari tidur sebelumnya ". Ucap Tejo ketika terdiam sambil memandangi layar laptopnya. ia lekas keluar dari kamarnya dan membuat segelas kopi hangat untuk menjaga tubuhnya tetap hangat di malam yang dingin.

Sambil memangdangi langit yang gelap diluar jendela ia merenung. Tak sadar, sudah 4 tahun sejak ia pergi meninggalkan kota kelahirannya untuk mencari lembaran lembaran kertas berwarna yang berharga. itu semua ia lakukan untuk membalas jasa orang tuanya yang telah susah payah membiayai hidupnya dari kecil hingga menyandang gelar sarjana. " Aku sudah tak bisa lagi bergantung pada mereka, untuk apa ijazah ini aku kejar ? " ucapnya dalam hati ketika menyalakan sebatang rokok.

Ketika sedang berlancar di dunia maya ia teringat akan sebuah surat elektronik yang menyambangi kotak masuk e-mailnya beberapa hari yang lalu. Disitu tertulis alamat pengirimnya, yansyani@yahoo.com, sebuah nama yang tentu saja ia hapal, itu adalah alamat email milik adiknya, Suryani.

Tertulis dalam surat itu tentang kerinduannya akan Tejo, tidak, bukan hanya dia, tapi seluruh orang rumah merindukan sosok Tejo. Kadang, memang tejo merasa terganggu dengan si adik yang terlalu sering mengirimkan surat tersebut ke e-mailnya. Namun apa daya, ia tak bisa berbuat apa, ingin melarangnya tidak mungkin, dia adalah adiknya, sungguh jahat rasanya bila melarang adiknya untuk mengungkapkan rasa rindu akan kehadiran sosok seorang kakak yang terbiasa membimbing dan membantunya.

Rasa terganggu itu sebenarnya bukan apa apa, Tejo hanya merasa terganggu karena setiap kali ia membaca surat surat berisi ungkapan rindu itu ia menjadi teringat akan rumah. Membuatnya rindu masa masa kecil yang ia habiskan bersama keluarganya, tertawa bersama ketika sedang berkumpul, bercanda dengan ibu yang ia cintai, berdiskusi ringan dengan ayahnya yang ia kagumi, dan bermain bersama adik adiknya. itu semua membuatnya ingin segera kembali kerumah, merasakan nyamannya rumah sendiri, merasakan tenangnya berada dekat dengan seorang ibu yang biasa ada setiap kali ia sedang gundah, merasakan aman ketika berada dekat sang ayah, dan merasa disayangi oleh adik adiknya.

Lalu ia berpikir, bukankah dulu ia juga melakukan hal yang serupa terhadap Surti dan Ngatiyem setiap kali ia merasakan rindu kepada dua perempuan cantik itu, meski tidak sesering yang dilakukan adiknya. " Apa, mereka juga merasa terganggu dengana apa yang aku lakukan ? " Ucapnya ketika menyadari hal tersebut. ia pun merasa malu terhadap dirinya sendiri, " seharusnya aku berkaca dulu sebelum memberi komentar terhadap ketampanan pria lain. " Ucapnya dalam hati.

Ia sadar, merindu itu adalah sebuah hak yang dimiliki setiap orang, jadi ia tak bisa berbuat apa apa, karena tentu saja ia tak ingin haknya itu diganggu, ia tak ingin ketika ia sedang merindu dilarang-larang. Tak ada yang salah ketika sedang merindukan seseorang, mungkin yang salah hanya bagaimana cara mengungkapkannya. Merindu itu baik dan sah sah saja selama cara mengungkapkannya juga baik. Karena merindu itu adalah hak, dan hak yang baik adalah hak yang dijalankan dengan wajar dan bertanggung jawab.

Adik dan orang tuanya tak salah merindukannya, mengkhawatirkannya, itu hak mereka sebagai keluarganya. " Seharusnya aku mengerti hal itu. kini yang ku mau hanya pulang dan segera bertemu dengan dan menghabiskan waktu bersama mereka." Ucap tejo sambil mematikan rokoknya di asbak, lalu iapun kembali ke kasurnya dan mencoba untuk tidur kembali.



Jadi, sudahkan kalian merindu hari ini ? Jika belum, merindulah.

1 komentar:

  1. yah benar. merindu itu adalah hak setiap orang.
    Mari merindu bersama :D

    BalasHapus