Tampilkan postingan dengan label Drama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Drama. Tampilkan semua postingan

31 Desember 2013

Senandung rindu

Malam itu, dalam perjalanan pulang, lantunan lagu dari grup musik favoritmu diputar dalam siaran radio yang kudengarkan sepanjang perjalanan.

Aku tak terlalu hafal liriknya. Lucu, tiba – tiba saja aku ingat kamu, aku tersenyum. Temanku, yang duduk di kursi kemudi terlihat heran dengan senyum yang tiba – tiba kumunculkan.

“Kenapa? Ko senyum – senyum sendiri?” Ucapnya tetap fokus melihat jalan.

“Eh. Gapapa, lagunya enak.” Balasku agak bingung.

“Baru denger?”

Aku mengangguk lalu kami berdua kembali diam.

Perjalanan malam yang panjang, kami berdua tak banyak bicara. Aku lebih suka menikmati lagu – lagu yang diputar secara acak dari siaran radio, dan dia memilih untuk fokus mengemudi. Lagu yang kudengarkan tadi, yang berasal dari grup musik favoritmu, sudah berganti dengan lagu lain, tapi, aku masih memikirkan kamu.

Sudah lama kita tidak bertemu, terakhir, waktu kita sedang menikmati lezatnya mi instan rebus ditengah hujan deras dari dalam warung kopi kecil dekat rumahmu.

Hangat.

Bukan karena mi instan rebus dan kopi hitam yang kunikmati sore itu, tapi kamu, kamu yang ada di sampingku sore itu yang membuat semuanya menjadi hangat. Melihat senyummu, menatap matamu, mencium bau parfummu, semuanya menyatu dan menghangatkan.

Kini, setelah hampir satu tahun kamu tak berkabar, apa lagi yang bisa jadi alasan untuk tidak merindukanmu?

Tak ada.

Bahkan, hanya sekedar mendengar lagu dari grup music favorit yang tak pernah kamu beritahu pun, aku rindu.

Aku tiba – tiba ingat kamu, kamu dan headset putih yang selalu menempel di telingamu ketika kita pertama kali bertemu dalam kereta menuju kota. Kamu dan buku tebal yang selalu ada dalam dekapanmu. Kamu dan kopi hitam tanpa gula yang selalu kamu pesan ketika kita berjumpa, juga, kamu dan senyum indahmu yang muncul setiap kali kamu tertidur dalam perjalanan pulang dari rumahku.

Aku rindu.




13 Februari 2013

Roman


Kita tak saling kenal, kita tidak pernah berjumpa sebelumnya, aku tak tahu kamu siapa, begitupun kamu, kita hanya terlalu sering bertemu.

            Kopi milikku tinggal setengah malam itu, kedai kopi ini cukup ramai, orang – orang duduk di meja yang menyatu dengan kasir, aku duduk di sebuah kursi kecil dengan satu meja yang agak jauh dari tempat orang – orang berkumpul. Terdengar suara lantunan musik dari sebuah grup musik yang tidak terlalu ku kenal di speaker yang terpasang di setiap sudut dari ruangan ini, suaranya tidak terlalu nyaring, jadi aku masih bisa mendengar pembicaraan setiap pengunjung yang sedang asik mengobrol. Aku sedang berusaha meyelesaikan buku yang tak pernah selesai kubaca, The Kreutzer Sonata, Tolstoy.

            Sudah satu setengah jam semenjak aku datang ke tempat ini, tempat yang untuk pertama kalinya kudatangi. Tempat ini sepertinya baru saja dibuka, beberapa sudut belum selesai dihias, atau memang dibiarkan seperti itu? Ah entahlah.  Aku masih belum juga selesai membaca buku yang kubawa, kemudian kamu masuk, sendirian, melihat – lihat sekilas kemudian menaruh ransel yang kamu bawa ke kursi di depan meja ku, aneh. Kursi itu memang masih satu set dengan kursi yang ku duduki dan biasanya orang tak akan mau duduk di tempat yang sudah di tempati orang. Kamu tidak duduk, hanya menaruh ranselmu di kursi itu, kemudian berjalan ke arah kasir dan memesan sesautu, aku tak tahu apa itu. seusai memesan kamu kembali mengambil ranselmu dan duduk sebentar di depan ku. Aku memerhatikanmu sebentar, kamu sibuk dengan ponselmu, kemudian beranjak dan pindah ke sebuah kursi yang terletak di pojok ruangan ini.

            Pesananmu kemudian datang, ya, aku sedang melihat ke arahmu ketika kopi dingin yang kamu pesan diantar oleh pelayan kedai ini. Aku tak tahu itu apa, yang jelas, di atas kopi itu dibubuhi whip cream putih dan taburan coklat. Kamu juga sempat melihat ke arahku waktu itu, tapi aku kemudian kembali memerhatikan susunan kata – kata di buku yang sedang kubaca.

            Setengah jam berlalu, aku selalu memerhatikanmu sesekali, kamu yang sibuk dengan ponselmu, entah sadar atau tidak aku perhatikan. Aku juga tak tahu kenapa aku memerhatikanmu, apakah karena pertemuan pertama yang cukup aneh dan berkesan? Atau memang wajahmu yang menarik perhatian? Entahlah.

 kamu kemudian beranjak dari tempat dudukmu, kopi dinginmu sudah habis, lalu terulang lagi, kamu menaruh ranselmu di kursi yang ada di depan meja ku kemudian pergi ke arah kasir dan menanyakan dimana kamar kecilnya berada, suara memang tak terdengar, tapi melihat gerakan tubuh dari pelayan yang berada di meja kasir memberitahuku kalau kamu memang menanyakan itu.

 Sekitar lima menit kamu menghilang, kemudian kembali dan mengambil ranselmu yang ditaruh di depan ku, aku memerhatikanmu, kamu tidak tahu. Kamu lalu pergi dari kedai ini, menghilang.  Aku memerhatikan punggungmu yang perlahan menjauh dan hilang ketika kamu menutup pintu. Setelah kopi habis, aku menyusul.

Hampir dua minggu berlalu semenjak pertemuan yang aneh itu, kita bertemu lagi, di tempat yang sama, dan masih dalam keadaan yang sama, meski tak ada lagi adegan menaruh ransel di depan ku. Kamu tak lagi berada di tempat yang sama, aku pun begitu. Kita berdekatan malam itu, kita bersisian meski terpisah dua orang berpasangan yang berada di tengah – tengah kita. Lucu jadinya. Kamu sudah ada di kedai ini lebih dulu, aku baru datang, kopi dinginmu sudah setengah.

Sedikit susah untuk memerhatikanmu kali ini, meski begitu beberapa kali aku sempet melihat ke arahmu, seperti biasa, kamu sibuk dengan ponselmu, meski malam ini kamu ditemani notebook dan sebuah buku yang cukup tebal di mejamu. Sepertinya kamu sedang sibuk mengerjakan tugas. Kopi pesananku datang, satu kopi hitam panas, dengan ukuran kecil tentunya. Kamu melihat ke arahku waktu itu, aku melihatnya ketika aku melihat ke arah pelayan yang mengantakan kopiku. Aku diam saja, pura – pura tidak tahu. memang aku harus berbuat apa? Tidak lama kemudian kamu pergi ke arah meja kasir? Menanyakan kamar kecil lagi kah? Entah, tapi kemudian kamu kembali lagi ke arah tempat dudukmu, kembali sibuk dengan pekerjaanmu. Aku diam , menikmati bacaanku, yang masih sama. Pelayan berjalan ke arah mu dan mengantarkan kopi dingin yang sama. Sepertinya itu kesukaanmu.  

Jam tanganku sudah menunjukan pukul setengah dua belas malam, aku bersiap – siap pulang, begitupun kamu, aku beranjak menuju ke arah kasir untuk membayar pesanan, kamu datang menyusul, kini kita berada di tempat yang sama, menunggu. Aku sempat melihat ke arah mu, aku sedikit grogi, sempat terpikir untuk menanyakan namamu, tapi tidak, pelayan terlanjur menyelesaikan urusannya denganku, aku kemudian pergi, meninggalkan kamu disana, di depan meja kasir.

Kita semakin sering bertemu di tempat yang sama, pernah kita benar – benar bersisian, pernah kamu berada sangat jauh dari tempat duduk ku, pernah juga aku tak melihatmu, pernah juga kita benar – benar berhadapan. Saat – saat kita berada sangat dekat adalah saat – saat paling aneh, entah, aku selalu merasa gugup, penasaran saja, siapa kamu, kenapa kita bisa terus – terusan bertemu di tempat ini. Lucu, aneh.

Aku tak pernah berharap kita akan bertemu setiap akan datang ke tempat ini, hanya saja, setiap kali bertemu, aku berharap kita mungkin bisa saling sapa, bisa saling tanya, bisa saling bertukar cerita, maaf sebelumnya telah dengan tidak sopannya terus memerhatikanmu tanpa sepengetahuanmu, dan menuliskan surat ini. Terima kasih.

                                                  ********

Aku kemudian menuliskan inisialku di sudut bawah dari surat yang baru saja ku tulis. Malam ini, bertemu atau tidak, aku akan menitipkan surat ini kepada pelayan yang berada di meja kasir dan memintanya untuk memberikan ini kepada perempuan itu.

Sayangnya surat itu tak pernah dikirimkan. 

18 Desember 2011

Catatan Harian Tejo #3

Pagi itu, sekitar pukul tujuh.

Ditengah kesibukan, seperti biasa, pikiranku yang selalu difus, membuatku mengerjakan hal lain ditengah satu pekerjaan. Mengecek salah satu akun di situs jejaring sosial. Cek cek dan cek, tak ada yang baru dan menggemparkan, hanya baru yang biasa, permintaan teman, notifikasi yang tidak begitu penting, dan ah, ada yang janggal, kamu, tiba tiba saja muncul, dengan fotomu itu di layar buku catatan ku.

Namamu menjadi penarik perhatian diantara orang - orang lain yang berada di daftar orang - orang yang perlu ku ketahui. Lalu, instingku mengarahkan penunjuk ke arah namamu, mengkliknya, dan, klik, terbuka. Halaman profilmu muncul.

Aku ingat, kamu dulu pernah bilang tidak akan membuat akun di situs itu, " Gw males punya gitu gituan, ribet, lagipula pasti bakal jarang gw buka". Ucapmu waktu itu.

Ah itu memang tidak perlu dipermasalahkan, aku hanya berbicara.

Tapi satu hal yang pasti, pagi itu, aku tak mengarahkan penunjukku pada tab permintaan teman, karena, aku sudah menjadi temanmu, meski itu masih perlu dipertanyakan lagi atas masalah kita yang saat ini belum terjawab, entah kamu menganggap aku sebagai temanmu atau tidak.

Aku hanya memutar mutarkan penunjukku di halaman itu untuk beberapa menit lalu menutupnya sambil tersenyum.

Kamu berubah banyak setelah terakhir kali kita bertemu di sebuah kedai kopi, pada saat itu kamu masih terlihat seperti remaja belia, namun kali ini, terlihat lebih dewasa. Mungkin efek dari potongan rambutmu yang baru. Atau memang ternyata seperti itu? Setelah dua tahun, semua berubah, kamu dan keadaan disekitarmu, lalu apakah pertanyaan itu sudah dapat kamu jawab? Kalau belum juga tidak apa - apa, aku menunggu.

Kamu , bukanlah orang yang seharusnya aku tahu.

Tejo...

11 April 2011

Catatan Harian Tejo #2 "Memori"

Aku hanya bisa berbicara tentang memori ketika imajinasi yang kamu tuliskan. Memori tentang apa yang sudah kita lewatkan, baik bersama maupun tidak, tawa dan air mata, juga resah dan gundah. Bukan, bukannya aku tak bisa berkhayal, hanya saja ingatan tentangmu lebih banyak dan baik ketimbang segala fantasi yang kupunya. Dan aku sudah cukup senang ketika mengingatnya.

Adalah sebuah ekspektasi liar yang aku tak suka ketika aku mulai berimajinasi. Kamu tau? Ketika berimajinasi, pikiran kita bisa saja menjadi terlalu liar, semua hal bisa saja muncul di pikiranmu. Berbeda dengan memori, ia adalah sesuatu yang bisa dikendalikan, ia tak lagi liar karena terikat dengan masa lalu dan sejarah, sehingga ia tak akan berubah. Imajinasi, ia tak terikat, imajinasi merupakan sesuatu yang berhubungan dengan masa depan dan apa yang akan datang atau terjadi, tak ada satupun yang bisa memastikan. Itu mengapa ia bisa menjadi begitu liar dan tak terkendali. Namun, memori juga mempunyai kekurangan. Terlalu lama melihat ke belakang kadang kala membuat kita tak ingin melihat ke depan.

Ketika imajinasi dapat membuatmu bisa mencintaiku, maka memori yang membuatku melakukan hal yang sama dengan apa yang kamu lakukan. Memori mengingatkanku untuk lagi berbuat salah kepadamu, membuatku takut untuk kehilangan kamu untuk kedua kalinya, dan merasakan kamu ada di dekatku ketika hujan terus turun tanpa henti dan segelas susu tawar kehilangan hangatnya.

Imajinasi dan memori adalah dua hal yang berbeda. Tapi keduanya memiliki kesamaan bukan? Keduanya menciptakan kebahagiaan bagi masing - masing diri kita ketika berjauhan. Kamu dengan imajinasimu dan aku dengan memoriku. Masing - masing dari kita menciptakan kebahagiaan dengan segala yang kita mampu dan suka. Keduanyapun dapat menjadi satu, saling mengisi, dan menguatkan. Menciptakan sebuah kebahagiaan yang jauh lebih baik di atas yang mereka mampu perbuat ketika terpisah.

Sama halnya dengang Imajinasi dan memori, kita juga merupakan dua hal yang berbeda. Konon, kamu berasal dari Venus dan aku dari Mars. Tapi kita juga memiliki kesamaan, ada sebuah perasaan tak bernama yang membuat kita menjadi sama. Kemudian menjadi satu, saling mengisi, dan menguatkan, menciptakan kebahagiaan tersendiri yang jauh lebih baik bila dibandingkan dengan saat kita jauh dan terpisah. Sehingga bersama denganmu adalah sesuatu yang aku inginkan secara terus - menerus. Bersama dan bahagia.






Tejo..

21 Maret 2011

Catatan Harian Tejo #1

Setiap kali melihat hujan, yang terlintas di benakku adalah sosokmu yang kala itu ada bersama, menunggu hujan reda, dengan angan melayang jauh tentang masa depan kita, kamu dan aku. Sambil sibuk menyesap bau tanah yang basah, aku akan selalu memandang ke arah wajahmu, memperhatikan setiap detailnya, mencoba mencari suatu alasan mengapa aku tak bisa meninggalkanmu, mengapa kamu mau kembali menjadi rasa manis di setiap gelas susu hambar yang selalu ku konsumsi tiap harinya. Semuanya memang tak perlu dijawab, toh aku hanya bertanya kepada diriku sendiri,bukan kamu, atau yang lain.

Ada kalanya, aku benar benar merindukan sosokmu ada di sini, di sampingku ketika hujan datang, menghabiskan waktu melakukan hal hal aneh atau sekedar berbicara tanpa tujuan yang jelas. Tapi ya jelas saja itu tidak mungkin, kamu berada jauh di sana, ada jarak yang membuat kita terpisah dan sulit untuk dapat bertemu.

Aku tak pernah punya keberanian untuk terlebih dahulu mengucap rindu, meski sekedar mengirimimu pesan singkat dengan tulisan sesimpel “I miss you”. Aku bukan seorang yang pandai merangkai kata, ketika rindu, ya yang bisa kuucapkan rindu, ketika cinta ya cinta, meski nyatanya, aku tak bisa mengucapkannya kepada kamu, kamu yang mengumpamakan kehadiranku layaknya cappucino ice blended, entahlah itu minuman macam apa, yang biasa ku minum hanyalah segelas susu putih tanpa rasa.

Berbicara tentang rasa, rasa yang kurasa saat ini setelah kamu jauh. Rasa manis memang masih ada, namun, seperti ada yang hilang dari rasa manis itu, entahlah, aku tak bisa mengatakannya, ini bukanlah sesuatu yang bisa kuungkap lewat kata.

Sepertinya aku memang membutuhkanmu untuk selalu ada dekat denganku, melewati hari seperti saat kita dekat dan bersama dulu. Melengkapi rasa manis yang masih terrekam oleh memori di otakku.

Apakah kau juga merasakan hal yang sama sepertiku? Masihkah kau menganggapku layaknya cappucino ice blended? Rasanya ingin kembali bisa bersamamu, kembali bisa mereguk rasa manis dari masing masing diri kita, kamu kembali menikmati ice blended cappucino mu dan aku kembali menikmati segelas susu yang telah kau beri rasa manis.

Tejo

04 Maret 2011

Jatuh... Lagi...

Sebenernya, gw udah ga mau lagi buat nulis nulis tentang hal hal kaya gini, karena nantinya bisa saja menimbulkan pengartian masing masing dari yang akan membaca, meski mungkin yang akan membaca ini cuma sedikit orang, tapi tetap tidak menutup kemungkinan hal seperti itu akan munculkan? Tapi apa daya.

Okay, mungkin udah bukan hal baru lagi kalau gw nulis hal kaya gini, bisa dipastikan, penyebabnya antara dua hal ini, jatuh hati dan patah hati, sebenernya kalau yang pertama kalimatnya diartikan perkata, mungkin bisa menimbulkan kesan yang sama dengan sebab kedua, beruntungnya hal itu ngga, dan beruntungnya lagi, sebab pertama yang bikin gw mau nulis lagi tentang hal seperti ini.

Jatuh hati, atau cinta atau apalah namanya, mungkin memang terdengar sedikit norak, tapi, hal ini juga bisa jadi hal terindah yang mau dirasain setiap orang ketika hidup, termasuk gw. Untungnya, untuk urusan jatuh cinta, kita, bisa ngerasain ini berulang kali, ga kaya hidup yang bisa kita rasain cuma satu kali, ya kalaupun bisa dua kali, itu, merupakan sebuah hadiah, ngga kaya jatuh cinta ini, ngerasain hal ini berulang kali ngga bisa disebut hadiah, karena, kita sendiri yang nyiptain perasaan ini.
Tentu saja, hal ini sedang terjadi sama gw, gw sedang menikmati indahnya jatuh cinta lagi, sama seseorang, seseorang yang dulu, gw jatuh cintai, terdengar tidak enak memang, tapi ya sudahlah.

Mungkin, bila dianalogikan, rasanya seperti tertarik untuk membaca kembali sebuah cerita yang dulu sempat dibuat namun berhenti di tengah jalan karena kehabisan ide, lalu memutuskan untuk memperbaharui ceritanya. Akan ada tawa kecil ketika membaca awalannya, dan rasa ragu akan muncul ketika melihat kesalahan kesalahan kecil yang dulu tak terlihat kini terlihat dengan jelas dan nampak banyak sekali. Terkaan terkaan kecil akan muncul ketika membaca bagian cerita yang bersambung, akankah nantinya, mampu membuat sebuah akhiran yang indah meski banyak rumitan yang telah tertulis, atau menyerah dengan rumitan lalu memutuskan untuk mengakhiri cerita dengan sebuah akhiran yang menyedihkan, ga ada yang tau kalau ga pernah dicoba.

Ngerasain indahnya jatuh lagi sama orang yang sama tentu saja akan menimbulkan banyak ketakutan. Menerka nerka apa nantinya akan sama, sama apa yang udah pernah terjadi dulu. Tapi, kalu dipikir pikir lagi, kenapa harus terus terusan berjalan mundur ketika yang lain berjalan maju? Kenapa harus repot repot menengok untuk berjalan mundur ketika yang lain bisa berjalan tanpa harus menengok. Kenapa harus mengambil resiko menabrak dan terjatuh untuk berjalan mundur ketika yang lain bisa dengan santainya berlari?

*****

Dan, tentu saja, saat ini, gw sedang mencoba menulis cerita itu lagi, mencoba membuat diksi yang indah agar setiap kata dan kalimat yang tertulis terlihat kuat dan efektif, mencari benang merah yang tepat agar nantinya cerita yang gw buat bisa tersusun dengan rapih, lalu berakhir sama dengan apa yang sudah gw tuliskan di awal. Dan ya, rasa senang setiap kali menuliskan sebuah cerita adalah kebahagiaan tersendiri. Wrap!

P.S. : Terima kasih untuk tulisan di catatanmu, Elway Fit :)

31 Januari 2011

Tulisan Sok Romantis

Waaw, udah lama gw ga nulis panjang di blog ini, oke sebut saja curhat biar lebih gampang dipahami. Ya, udah lama juga emang, banyak momen yang udah terjadi, ya salah satunya yang emang belum lama terjadi adalah, gw baru aja punya pacar. Yap, pacar baru tapi bukan orang baru dalam hidup gw, gw udah kenal dia sejak 3 atau 4 tahun yang lalu, gw lupa, maklum, gw ga pernah minum cerebrovit, oke ga nyambung.

******

Seminggu yang lalu dia dateng kesini, liburan sekaligus ketemu sama gw, dan itu sebelum ada komitmen lagi di antara kita, meski pada akhirnya, setelah melewati 5 hari bersama, ada lagi perasaan gelisah kalau ga dapet sms atau telepon dari dia, ada lagi perasaan kangen mau cepet cepet ketemu lagi sama dia, ada lagi perasaan nyaman setiap kali sama dia, dan ya kalau mau disimpulkan, gw bisa bilang, kalau gw... jatuh cinta lagi sama dia.

Dan ya, layaknya seorang pemuda yang dengan penuh keyakinan dan semangat tinggi ingin membela negara dan segera mendaftar menjadi seorang prajurit, gw pun akhirnya memutuskan buat ngelakuin hal bodoh dalam hidup gw untuk kesekian kalinya, nyatain perasaan absurd yang gw rasain ke dia.

And guess, it was happen at 2 am, after we kissed at the seashore under the full moon with a rainbow ring on its side. Well, I never guess i'll do it in the middle of the night or I can call it an early morning, well whatever. Tapi yang pasti, itu jadi salah satu momen romantis yang pernah gw alamin. Oke, gw so romantis banget yah?

Balik lagi, dia, ga lain dan ga bukan adalah nene grandong, oh maaf, salah ketik. Dia, orang yang waktu itu pernah gw ceritain di blog ini, dia yang dulu udah pernah jadi pacar gw, dia yang dulu udah pernah ngalamin seneng dan sedih sama gw. Ya mungkin lucu, gw yang notabenenya paling susah dan takut buat ngejalin sebuah komitmen yang bisa dibilang setengah serius sama orang yang sama, kini ngelakuin hal itu. Entah, apa yang bikin gw mau dan seberani itu buat ngambil keputusan seperti ini, dan rentang waktu antara gw dan dia pisah mungkin ada sekitar 3 atau 2 tahun, jadi, yang namanya sisa sisa perasaan yang dulu sempet ada waktu kita pertama kali sama sama kayanya bukan faktor utama kenapa kita bisa sama sama lagi, well, itu udah passed away banget, dalam rentang waktu segitu, gw bahkan udah berkali kali ngalamin jatuh cinta dan patah hati, begitu pula dengan dia, meski pada faktanya, beberapa bulan yang lalau dia baru putus sama pacarnya yang udah sempet jalan 1tahunan lebih, ga tau kapan tepatnya, I don't care.
Tapi, gw juga nanya balik, mau sampai kapan gw harus terus takut? Dan pada akhirnya, rasa ragu dan takut itu kalah.

Gw sendiri masih nanya, apa yang bikin gw bisa ngambil keputusan seberani itu, balik lagi sama orang yang dulu udah pernah bareng bareng nyoba ngejalanin apa itu cinta cintaan? Atau dulu itu baru sekedar cinta monyet? Lah terus kalau sekarang apa? Bedanya cinta monyet dan cinta beneran apa? Ah riweuh sendiri, cut!

Tapi ya, itu dulu, sekarang ceritanya udah beda, sekarang gw udah sama dia lagi, sekarang gw sedang jatuh cinta lagi sama dia, begitu pula dia, ga peduli sama apa yang udah terjadi dulu, entah itu seneng atau sedih, yang pasti sekarang kita sama sama nyoba buat lebih baik lagi.

Ya, semoga aja bisa lebih baik dari yang sebelumnya lah. And last, I love you, A.F. Wrap!

20 November 2010

Merindu itu... Hak.

" Sudah pukul 3 pagi dan aku masih belum bisa tertidur lagi setelah terbangun dari tidur sebelumnya ". Ucap Tejo ketika terdiam sambil memandangi layar laptopnya. ia lekas keluar dari kamarnya dan membuat segelas kopi hangat untuk menjaga tubuhnya tetap hangat di malam yang dingin.

Sambil memangdangi langit yang gelap diluar jendela ia merenung. Tak sadar, sudah 4 tahun sejak ia pergi meninggalkan kota kelahirannya untuk mencari lembaran lembaran kertas berwarna yang berharga. itu semua ia lakukan untuk membalas jasa orang tuanya yang telah susah payah membiayai hidupnya dari kecil hingga menyandang gelar sarjana. " Aku sudah tak bisa lagi bergantung pada mereka, untuk apa ijazah ini aku kejar ? " ucapnya dalam hati ketika menyalakan sebatang rokok.

Ketika sedang berlancar di dunia maya ia teringat akan sebuah surat elektronik yang menyambangi kotak masuk e-mailnya beberapa hari yang lalu. Disitu tertulis alamat pengirimnya, yansyani@yahoo.com, sebuah nama yang tentu saja ia hapal, itu adalah alamat email milik adiknya, Suryani.

Tertulis dalam surat itu tentang kerinduannya akan Tejo, tidak, bukan hanya dia, tapi seluruh orang rumah merindukan sosok Tejo. Kadang, memang tejo merasa terganggu dengan si adik yang terlalu sering mengirimkan surat tersebut ke e-mailnya. Namun apa daya, ia tak bisa berbuat apa, ingin melarangnya tidak mungkin, dia adalah adiknya, sungguh jahat rasanya bila melarang adiknya untuk mengungkapkan rasa rindu akan kehadiran sosok seorang kakak yang terbiasa membimbing dan membantunya.

Rasa terganggu itu sebenarnya bukan apa apa, Tejo hanya merasa terganggu karena setiap kali ia membaca surat surat berisi ungkapan rindu itu ia menjadi teringat akan rumah. Membuatnya rindu masa masa kecil yang ia habiskan bersama keluarganya, tertawa bersama ketika sedang berkumpul, bercanda dengan ibu yang ia cintai, berdiskusi ringan dengan ayahnya yang ia kagumi, dan bermain bersama adik adiknya. itu semua membuatnya ingin segera kembali kerumah, merasakan nyamannya rumah sendiri, merasakan tenangnya berada dekat dengan seorang ibu yang biasa ada setiap kali ia sedang gundah, merasakan aman ketika berada dekat sang ayah, dan merasa disayangi oleh adik adiknya.

Lalu ia berpikir, bukankah dulu ia juga melakukan hal yang serupa terhadap Surti dan Ngatiyem setiap kali ia merasakan rindu kepada dua perempuan cantik itu, meski tidak sesering yang dilakukan adiknya. " Apa, mereka juga merasa terganggu dengana apa yang aku lakukan ? " Ucapnya ketika menyadari hal tersebut. ia pun merasa malu terhadap dirinya sendiri, " seharusnya aku berkaca dulu sebelum memberi komentar terhadap ketampanan pria lain. " Ucapnya dalam hati.

Ia sadar, merindu itu adalah sebuah hak yang dimiliki setiap orang, jadi ia tak bisa berbuat apa apa, karena tentu saja ia tak ingin haknya itu diganggu, ia tak ingin ketika ia sedang merindu dilarang-larang. Tak ada yang salah ketika sedang merindukan seseorang, mungkin yang salah hanya bagaimana cara mengungkapkannya. Merindu itu baik dan sah sah saja selama cara mengungkapkannya juga baik. Karena merindu itu adalah hak, dan hak yang baik adalah hak yang dijalankan dengan wajar dan bertanggung jawab.

Adik dan orang tuanya tak salah merindukannya, mengkhawatirkannya, itu hak mereka sebagai keluarganya. " Seharusnya aku mengerti hal itu. kini yang ku mau hanya pulang dan segera bertemu dengan dan menghabiskan waktu bersama mereka." Ucap tejo sambil mematikan rokoknya di asbak, lalu iapun kembali ke kasurnya dan mencoba untuk tidur kembali.



Jadi, sudahkan kalian merindu hari ini ? Jika belum, merindulah.

04 September 2010

Surat Cinta Untuk Surti

Sur, apa kabar mu disana? Aku harap kamu baik baik saja Sur.

Mungkin telah terhitung 1 tahun sejak kepindahanku ke selatan, dan tentu saja sudah selama itu juga kita tak bertemu, aku akui, aku merindukanmu Sur. Apa kamu juga merindukanku? Atau jangan jangan, kamu bahkan sudah lupa terhadapku Sur? Aku harap tidak.

Aku memang merindukanmu Sur, aku rindu melihat senyummu, tawamu, dan segalanya tentang kamu. Tapi, bersyukurlah aku, karena kini, meski terpisah jarak, hanya dengan sebuah piranti yang tercipta dari kecanggihan teknologi ini, aku sudah bisa melihatmu. Melihatmu, dari sebuah kotak kecil ajaib berwarna hitam putih bernama televisi.

Aku, sungguh tak menyangka Sur, kau mau kembali lagi meneruskan keahlian dan bakatmu dalam bernyanyi, serta memperkenalkannya kepada khalayak luas Sur. Kini, kau sudah menjadi seorang penyanyi terkenal Sur. Banyak orang kini mengagumimu, begitupun aku. Namun, mungkin yang membedakan antara aku dan mereka hanyalah, aku sudah mengagumimu bahkan sebelum kau menajdi penyanyi terkenal seperti sekarang ini. Aku sudah mengagumimu diluar dari keahlianmu dalam bernyanyi, aku telah mengagumimu sebelum parfum dan segala macam aneka rias menghiasi tubuhmu. Aku ulangi sekali lagi, aku mengagumimu terlebih karena sesuatu yang tak pernah bisa kusebutkan itu apa, sesuatu yang selalu membuatku merasa jatuh. apa mungkin itu kecantikan hatimu Sur? Aku tak pernah tau.

Kini, setiap kali ada sebuah tayangan yang menghadirkanmu, aku akan duduk tenang di depan kotak ajaib itu Sur, duduk tenang, menghayati penampilanmu, mengimajinasikan kamu benar benar sedang berada di depanku, menyanyikanku sebuah lagu untukku. Aku tak perduli meskipun itu lagu kebangsaan atau bahkan lagu heavy metal sekalipun, aku akan tetap menikmati apa yang kamu suguhkan Sur. Aku serius. Aku akan menikmatinya, aku akan menikmati setiap gerakan yang dibuat mulutmu, setiap keteraturan nafasmu, setiap kali kamu memejamkan mata, setiap kali kamu bergaya, dan tentu saja setiap lantunan lirik bernada itu keluar dari mulutmu.

Dengan rasa rindu yang menggebu, aku terus berdoa agar secepatnya bisa bertemu dengan mu,aku juga berdoa agar kau senantiasa diberikan kesuksesan. semoga saja, apa yang aku tuliskan disini bisa membantuku mengungkapkan rasa rinduku padamu sur. semoga kamu bisa terus berkarya dan tetap baik baik saja.


Dengan hormat,




Tejo

26 Agustus 2010

Sangat Absurd

Aku bertemu dengannya lagi dalam mimpiku. Apa kamu serius? Tolonglah, aku sendiri sudah beberapa hari ini tidak bermimpi. Apa aku jatuh cinta kerena bermimpi tentang seorang wanita? Apa jatuh cinta bisa didefinisakan dengan kata kata? Seandainya iya, aku mau kau mendeskripsikannya untukku. Kenapa mau? Apa kamu akan mengerti? Entahlah, aku hanya berusaha sok tahu saja, mungkin saja berawal dari ke sok tahuan ku, bisa berujung ke pengertian.

Apa yang sedang kamu bicarakan? Aku tak mengerti? Wah, aku sendiri juga tak mengerti, itu semua keluar begitu saja, apa itu salah? Salah? Mengapa bisa salah? Definisi salah itu menurtmu memang apa? Aku tak tahu, kan aku sudah bilang, itu keluar begitu saja, sudahlah, berhenti menanyaiku dengan pertanyaan aneh. Seharusnya kau yang berhenti, mengapa harus aku? Hey, tunggu kita tidak akan pernah tahu siapa yang memulai? Bagaimana bisa tidak tahu? Apa kau ini bodoh? Entahlah? Aku belum bisa menemukan sebuah kecocokan untuk mengungkapkan apa yang ingin kukatakan. Maksudmu apa? Aku tak mengerti? Apa kau sedang mabuk? Tapi setahuku kau sudah tak meminum minuman beralkohol lagi. Hey aku memang sedang tidak mabuk, spekulasi mu terlalu jauh.

Kamu, bisakah kamu menolongku? Menolong apa? Entahlah, aku sendiri tidak tahu apakah aku butuh pertolongan, hanya ingin menanyaimu pertanyaan itu saja. ya, mulai lah kebiasaan aneh mu itu. Hey tunggu, apa aku terlihat tampan? Menurutmu? Kenapa kau harus menanyakan hal itu? Ayolah lihat aku! Lihat lah ke cermin besar yang berada disana! Ah, untuk apa aku harus melihat kecermin, bukankah ada kau disini yang bisa memberiku penilaian lain. Apa kau ini bodoh? Kita adalah orang yang sama, bertanya padaku sama saja kau sedang melihat ke cermin dan memberi penilaian sendiri terhadap apa yang kau lihat dicermin, atau bisa kubilang, menilai diri sendiri. Lalu untuk apa kau menyurhku pergi ke cermin dan menilai sendiri penampilan ku. Mungkin saja kau bisa member penilaian lain.

Ah, sudahlah, hentikan saja semua pembicaraan anehmu, aku tak mengerti, tapi seharusnya seaindainya aku tak mengerti, bukankah kau juga tak mengerti? Ah itu dia, aku tak mengerti tentang hal itu, dan sepertinya karena aku juga tidak mengerti kita menjadi impas. Hmm, baiklah, ku hitung itu sebagai impas.

*********


Mungkin ini memang sangat absurd, ya namanya juga obrolan sama diri sendiri, hha
lagi bingung mau posting apa, jadi ya, posting tulisan ini aja :D

15 Agustus 2010

Dengan Penuh Rasa Terima Kasih Saya Tulis Ini

Assalamualaikum Wr. Wb.

Dengan penuh rasa terima kasih, saya menulis ini. Rasa terima kasih saya terhadap kalian yang sudah baik kepada saya. Kalian para perempuan yang sepanjang hidup saya memberikan kesan kepada saya, selama saya berada di kota ini. Saya berterima kasih, I lop u pull, oke berlebihan.

Pertama-tama, tentunya kepada Ibu saya, perempuan yang sudah bersusah payah berpeluh sewaktu menciptakan saya, mengandung saya, dan mengeluarkan saya dari janinnya dan menganggap saya sebagai anak kandungnya, bukan anak pungut. Saya sangat berterima kasih. I love You.

Lalu kepada adik saya sendiri, adik perempuan tentunya. Saya berterima kasih karena telah sabar untuk saya siksa, baik secara fisik maupun mental, oke kata ‘siksa’ itu sepertinya berlebihan, kira kira ada yang punya kata ganti yang lebih tepat? Ga ada? Oke, gapapa, saya tetap cinta kalian ko.

Berikutnya saya ingin berterima kasih kepada I.V, perempuan yang sudah ikhlas menjadi teman saya dari kita sama-sama nete sampai sekarang dia sudah punya tete. Oh maaf, saya keceplosan, tapi kenyataannya memang seperti itu bukan? Tidak bermaksud vulgar loh.

Kepada R.A, teman perempuan saya sewaktu di sekolah dasar. Sewaktu masih di bangku kelas 1 dia terpaksa merelakan pipinya untuk saya cium, sebenarnya ini memang sayanya yang bego, karena, tanpa ada alasan apa apa langsung saja mencium pipinya. Untungnya waktu itu saya masih kecil, jadi tidak ada tuduhan tindakan pelecehan yang akan dituduhkan kepada saya. Beruntungnya saya.

Kepada F.S juga saya ucapkan terima kasih. Perempuan yang saya kenal di tempat les Bahasa Inggris, dia adalah perempuan indo berkacamata yang saya sukai, dan karena menyukainya, hingga kini, saya masih selalu menyukai perempuan berkacamata. Oke saya ngawur lagi, maafkan saya yang selalu sulit berkonsentrasi.

Rasa terima kasih juga saya ucapkan kepada E.S, perempuan indo kedua yang saya sukai, meski saya tidak tahu pasti apa dia benar benar indo, ya tapi dari penampilan fisik dia terlihat indo. Saya menyukainya, dia juga sempat menyukai saya, namun ketika tahu saya lebih muda darinya dia seperti ilfil kepada saya, dan menganggap saya seperti anak kecil, hey saya memang lebih muda darinya 1 tahun, tapi apa itu benar benar berpengaruh? mmh, apa saya boleh menulis itu disini? Ah sepertinya tidak apa.

Beranjak ke Sekolah Menengah Pertama, saya ingin berterima kasih kepada A.D, perempuan yang awalnya tidak terlalu menyenangi saya kerena menurutnya saya terlalu menyebalkan, tunggu dulu, lalu untuk apa saya harus berterima kasih padanya? Bukankah dia tidak menyenangi saya? Tapi, dia adalah perempuan pertama yang menganggap saya sebagai sahabatnya. Tapi sekarang saya tidak tahu apakah dia masih menganggap saya seperti itu atau tidak. Mmh, saya masih menyimpan surat yang waktu itu dia kirimkan kepada saya sewaktu kita sempat bermarahan.

Kepada D.S, perempuan besar ini. Semoga dia tidak marah sewaktu membaca ini. Adalah sosok perempuan yang saya jadikan seseorang yang memang saya tuakan. Tentu saja alasan pertama karena badannya yang besar. Sehingga saya memanggilnya dengan sebutan ‘mom’. Meski badannya besar. oke ini besar ya, bukan gemuk atau gendut apalagi gembrot. Dia cukup cantik. Menurut saya.

Kepada P.I, perempuan cantik yang saya sukai, sayang dia tidak menyukai saya kerena menurutnya saya terlalu aneh, oke tidak apa apa, kita belum berjodoh. Saya memang menyedihkan.

Hmm, tunggu, apa saya melewatkan A.A Perempuan tomboy yang mengungkapkan perasaannya kepada saya ini akhirnya saya jadikan pacar. Dia adalah adik kelas saya, banyak yang bilang kita ini berjodoh karena kita terlihat mirip. Sejujurnya saya takut, karena tak mau disangka berpacaran dengan kembaran sendiri. Dia adalah perempuan pertama yang menjadikan saya objek ciumannya, dan saya menganggap itu terlalu aneh, jadi hubungan kami tidak bertahan terlalu lama. Lagi lagi keceplosan menulis secara sembarangan, maafkan saya.

Lalu kepada I.S, perempuan yang saya temui di tempat les ini, menurut saya mirip dengan salah seorang aktris yang bermain di film Harry Potter, saya lupa namanya. Ada yang tahu namanya? Dia mirip dengan perempuan yang di sukai oleh Harry Potter. Sewaktu berpacaran dengannya. Saya terkadang berkhayal saya adalah Harry Potter, penyihir tampan yang diberkati, sayangnya, saya mungkin lebih mirip dengan Prof. Snape daripada Harry Potter, oke saya ngawur, maaf.

Awal awal berstatus sebagai pelajar Sekolah Menengah Atas, saya terjebak dalam kelas yang boleh saya bilang diisi oleh orang orang setengah gila. Dan malangnya saya, saya harus kenal dengan C.A, perempuan berwajah indo ini memang cantik, namun sayang perilakunya seperti itu, atau karena berada di kelas yang berisikan orang orang setengah gila perilakunya menjadi sama? Ah entahlah, tapi dia tetap seseorang yang baik hati, dan asyik. Karena harus menemaninya mencari kado untuk pacarnya, saya terpakasa membolos sekolah untuk pertama kalinya karena tertinggal kereta. 3 tahun terus terusan berada di kelas yang sama membuat saya banyak menghabiskan waktu berautis ria disekolah dengannya.

Dikelas ini, nasib juga mempertemukan saya dengan F.A perempuan kecil ini memang terlihat nyentrik dan imut, sepertinya dia akan senang bila membaca ini. dia terlihat sedikit tomboy, namun setelah berkerudung terlihat berkurang sifat tomboynya, namun meski begitu, sifatnya belum berubah jauh, oke saya ngelantur. Dia adalah perempuan yang baik hati, asyik untuk diajak ngobrol dan jalan jalan. Asal tidak lupa memberinya susu di malam hari dan merantainya agar tidak lepas. Oke, dia bukan binatang peliharaan, maafkan saya, tangan saya refleks. Dia adalah teman curhat dan teman jalan yang baik. Menurut saya.

Saya juga berterima kasih kepada W.D yang sudah mau memilih saya untuk jadi pacarnya. Dia nyaris sama dengan saya. Setengah gila. Tunggu dulu, sepertinya di SMA ini saya terlalu banyak kenal dengan orang orang yang setengah gila, apa salah saya ya Tuhan? Oke, lanjutkan saja, maaf saya jadi curhat.

Kepada B.Z, perempuan yang sudah saya kenal dari kecil ini ternyata bisa juga saya jadikan pacar, lucu memang. Rumah kami masih berada dalam satu kampung, oke saya memang orang kampung. Dan lucunya dia adalah perempuan pertama yang mencium pipi saya, selain ibu saya dan waria waria tentunya, tunggu, waria tidak bisa dimasukan ke dalam jenis perempuan. Lagipula saya memang tidak pernah dicium waria.

Rasa terima kasih juga saya ucapkan kepada I.Z, perempuan yang satu ini masih terbilang misterius bagi saya, keadaannya antara ada dan tiada, hmm terlihat seperti setan, maafkan saya. Kita hanya sempat bertemu sekali, itu juga tanpa banyak bicara, aneh memang. Hanya itu kesempatan yang di berikan kepada saya untuk bisa melihatnya, tapi anehnya dia sudah berkali kali melihat saya. Dia benar benar misterius.

Lalu kepada F.An Perempuan yang lucu ini sempat menjadi pacar saya. Sepertinya masa SMA lebih baik bagi saya karena saya terus terusan mempunyai pacar. Dia adalah perempuan yang mengajarkan saya berciuman, upps, maaf tangan saya lagi lagi refleks menulis hal seperti ini, kalau tidak mau dibaca sensor sendiri saja yah. Maaf maaf. Saya masih mempunyai hutang 3 eskrim Baskins Robbins padanya. Yeaah, hutang.

Lalu kepada A.F (Gundol) oke nama panggilannya memang terlihat aneh, mungkin saja orang bisa memanggilnya gundul, tapi sayangnya dia tidak gundul. Dia adalah Perempuan yang menjadi kakak kelas saya. Dia cukup baik bagi saya, saya pernah memberinya bekal sewaktu dia masih menjadi kakak kelas saya, dan beberapa bulan yang lalu, ketika kami bertemu lagi, dia memberitahu saya bahwa dia menjadi teringat dengan masa SMA sewaktu melihat wajah saya. Ternyata setelah 2 tahun tidak bertemu, dia masih mengingat kebodohan kebodohan yang saya lakukan terhadapnya.

Saya mengucapkan terima kasih kepada I.T, Perempuan hitam manis ini sempat membuat saya jatuh hati, tapi sayangnya dia sudah punya pacar. Jadi yaa saya waktu itu hanya bisa mengelus ngelus dada untuk bersabar. Sepertinya saya terlalu banyak merasakan patah hati yah? Ah tidak apa, saya kan memang tidak ganteng, dan beruntung. Beberapa waktu yang lalu, ketika sedang berada di sebuah tempat gaul bersama teman saya, saya bertemu dengannya, tapi sepertinya lebih tepat kalau hanya saya saja yang melihatnya. seperti apa yang sudah pernah saya katakan, dia bertambah dewasa, dan cantik tentunya.

Lalu kepada Y.Y, perempuan yang satu ini cina tapi tidak cina. Anda bingung? sama saya juga bingung. tapi ya, dia sendiri yang bilang seperti itu kepada saya. Dia sempat membuat saya jatuh hati, namun sayang sewaktu menyatakan perasaan kepadanya dia hanya menganggap saya sedang bercanda. Apakah saya terlihat seperti badut waktu itu? badut yang sedang jatuh cinta tepatnya. Lupakan saja soal badut ini. Untuk sebuah alasan, saya merasa benar benar bersalah, maafkan saya.

Sekali lagi dalam hidup saya, saya kehilangan keperjakaan saya oleh seorang waria, oh maaf, saya salah tulis, maksud saya, saya kenal dengan perempuan lain yang juga bernama Fitri. F.H, yaa, sepertinya 3 orang bernama Fitri sudah cukup banyak dalam hidup saya. Lucunya, seperti biasa, akrab sebelum bertemu. Dengan sifat saya yang tidak bisa dekat dekat dengan perempuan, pertemuan pertama kami, berlangsung dengan rasa canggung yang menyelimuti. Namun, ketika terjadi pertemuan kedua yang baru saja terjadi beberapa waktu yang lalu, pertemuan yang kalau boleh saya bilang sebagai pertemuan yang sedikit dadakan, saya mulai terbiasa, atau bisa saya bilang sok sok terbiasa? pertemuan singkat itu sangat saya syukuri, belum lagi hadiah es pisang hijau yang dia berikan, sangat sangat saya syukuri. Terima kasih.

Saya juga ingin berterima kasih kepada G.R, perempuan yang menjadi adik kelas saya ini termasuk perempuan yang terbilang cantik, dan untungnya karena sebuah event yang diadakan di sekolah waktu itu, saya bisa menjadi akrab, itu juga berawal dari permintaan tolongnya kepada saya. Dia adalah perempuan yang terlihat cantik ketika menggunakan kacamata, dan betapa senangnya saya ketika dia meminjamkan kacamatanya untuk saya pakai beberapa hari. Namun sayang, kacamata itu harus rusak karena kebodohan saya. Maafkan saya. Saya juga mau berterima kasih atas Khayalan martabak telor segerobaknya itu.

Saya juga ingin berterima kasih kepada D.A, perempuan cantik nan tangguh ini adalah orang yang baik hati. Dia termasuk perempuan yang bisa saya bilang sedikit lucu, dengan suara khasnya yang terdengar cukup cempreng. Tapi tentu saja saya tidak mau macam macam dengannya, bisa dibilang dia adalah seorang atlit taekwondo. Jadi, bisa bisa nanti tubuh saya tidak pada tempatnya. Cantik dan berbahaya, mungkin itu cukup mendeskripsikan tentang dirinya.

Terima kasih juga saya ucapkan kepada R.N, Perempuan yang menjadi pacar saya melalui perkenalan yang singkat. perkenalan singkat, hubungan singkat. Ya, hanya 7 hari, itu pun kalau tidak salah. Saya sedikit lupa. Maafkan saya, saya memang pelupa.

Rasa terima kasih saya juga untuk A.B perempuan kecil yang sempat dijodoh jodohkan kepada saya ini saya akui memang terlihat imut dengan matanya yang sipit dan tubuhnya yang kecil.

Lalu kepada A.S, perempuan berwajah oriental yang memiliki lesung pipit ini memang cantik, jadi ya tentu saja, kalau saya sempat jatuh hati. Namun, karena sebuah kesalahan fatal yang saya lakukan, saya harus mengurungkan rasa suka saya. Bodohnya saya. Maafkan saya. Dan, ingatkah dengan kata 'Best'?

Dan untuk terakhir kalinya, meski hanya sebatas ini, tapi dengan penuh rasa terima kasih saya mendedikasikan apa yang saya tuliskan ini untuk kalian, kalian para perempuan yang sudah ikhlas untuk sekedar kenal dengan saya, memilih saya sebagai teman, sahabat, pacar, atau mungkin menjadi orang yang kalian benci. Saya bersungguh sungguh mengucapkan rasa syukur sudah diberi kesempatan untuk mengenal kalian.

Maaf apabila terdapat banyak hal yang tidak kalian sukai dari saya, saya hanya manusia berotak minim yang terlalu banyak melakukan kesalahan. SEE YOU SOON!!

Wassalamualaikum Wr. Wb.


*******


Kalau kalian bertanya Tanya mengapa saya menulis ini untuk para perempuan, tentu saja karena saya seoarang laki laki, dan akan ada kemungkinan keraguan orientasi seksual kepada saya seandainya saya menulis surat untuk para teman teman saya yang laki laki, tapi meski begitu, saya juga ingin mengucapkan rasa terima kasih yang besar kepada teman laki laki saya. <---- lihat, janggal bukan membaca tulisan tersebut?

Lagipula karena saya punya alergi terhadap perempuan, jadi, setidaknya tulisan ini bisa menjadi bukti yang bisa ditujukan kepada orang orang, bahwa saya bukan seorang homo. Terima kasih.

NB : -Tulisan ini diinspirasi oleh lagu Women yang dipopulerkan oleh John Lennon
-Ada beberapa nama yang saya lupa nama panjangnya, jadi mohon maaf apabila jadi ngaco

Tejo dan Ngatiyem

Keesokan harinya, Tejo pergi ke rumah Ngatiyem.


Tejo : (mengetok pintu) Assalamualaikum.

Sugeng
: Wa’alaikumsalam. (membukakan pintu) eh mas Tejo, ada apa toh mas main kerumah? Ada perlu sama Mbak Ngatiyem?

Tejo : Eh, kamu Geng. Iya Geng, aku ada perlu sama Mbak mu. Ada dia?

Sugeng : Ada sih mas, (sedikit ragu) tapi sedang pergi untuk belanja makanan, mas mau nunggu atau gimana?

Tejo : Oh, aku tunggu saja, tak apa?

Sugeng : Gapapa lah, Mas ini kan kesini niatnya untuk bertamu, masa iya aku nda bolehin mas, (tertawa kecil). Silahkan masuk dan duduk Mas. Mau minum apa toh?

Tejo : Oh iya, makasih Geng, ah tak perlu repot repot kamu Geng, tapi sepertinya segelas air putih cocok menemani ku menunggu mbakmu Geng (tertawa)

Sugeng : Ah si Mas ini, suka malu malu saja, yasudah, aku ke dapur dulu, mengambil air.


Tak lama kemudian Ngatiyem pun datang.


Ngatiyem : (masuk kedalam rumah) Tejo! (terkejut)

Tejo : (menengok ke arah pintu) Yem, kamu sudah pulang toh?

Ngatiyem : Ada perlu apa kamu datang pagi pagi kesini?

Tejo : (berdiri) Aku ingin bertemu dengan mu Yem, maafkan aku tak memberi tahumu terlebih dahulu niatan untuk datang kesini. Apakah aku mengganggu mu?


Ngatiyem
: Oh, tidak apa. yasudah, tunggu sebentar, aku akan menaruh belanjaan dulu. (pergi kedapur)

Lalu Sugeng pun datang mengantarkan air putih yang dipesan oleh Tejo


Sugeng : (mendatangi ruang tamu dengan segelas air putih) Ini mas airnya, (menaruh segelas air putih di atas meja) sepertinya air ini tidak lagi dipakai untuk menunggu Mbakku, melainkan untuk menemani kalian ngobrol nanti (tertawa)

Tejo
: (tertawa) Bisa saja kamu Geng, yasudah, terima kasih atas airnya.

Sugeng
: Iya mas, yasudah aku masuk kedalam ya mas, ada tugas yang harus kuselesaikan.

Tejo : (meninum air yang berada di gelas) Baiklah kalau begitu (tersenyum)


Lalu Ngatiyem pun datang


Ngatiyem : Ada apa? tumben mau bertemu dengan ku sepagi ini?

Tejo : (diam sebentar) Sedang ada yang kupikirkan Yem, jadi ya kuputuskan untuk bertemu denganmu, mungkin saja kamu bisa membantu.

Ngatiyem
: Oh, memang apa yang sedang berada di pikiranmu?

Tejo : Ketika aku bangun tidur pagi tadi, tiba tiba saja aku teringat 1 setengah tahun yang lalu Yem. (memandang ngatiyem secara serius)

Ngatiyem : Memang ada apa waktu itu? (keheranan)

Tejo
: Apakah kamu sedang berpura pura tidak tahu? Atau memang kamu memang sudah lupa Yem? (bertanya dengan nada mengejek)

Ngatiyem : Maksudmu? (masih terlihat bingung)

Tejo : Aku minta maaf Yem, atas apa yang telah kulakukan dahulu. Aku memang jahat Yem (berbicara serius)

Ngatiyem : Oh, soal itu. (berbicara datar) Tapi bukankan semua sudah biasa saja. Maksudku, bukankah kau sudah minta maaf padaku lewat surat yang kau kirim waktu itu? Dan bukankah kita sudah sepakat untuk tak membahas hal itu lagi?

Tejo : Iya, aku tahu yem, tapi, bukankah baru kali ini aku meminta maaf kepadamu secara langsung? Lagipula, semenjak waktu itu, kita baru beberapa kali bertemu, dan itu juga kau sedang bersama teman temanmu, jadi aku tak pernah punya kesempatan untuk membicarakan hal ini denganmu secara langsung.

Ngatiyem : Oh iya.

Tejo : Jadi, kamu mau memaafkan ku Yem?

Ngatiyem : kamu tahu Jo? (berbicara dengan datar) Aku memang sudah memaafkanmu, tapi terkadang kemarahanku muncul setiap kali aku mengingatnya. Aku tak mengerti, lalu apa itu masih bisa dibilang memaafkan? Bukankah memaafkan itu berarti kita sudah tak mempermasalahkannya lagi. Sedangkan aku, kadang aku masih mempermasalahkan hal itu, meski aku tak pernah mengatakannya kepadamu.

Tejo : Kenapa kamu begitu Yem? (memasang wajah heran)

Ngatiyem : Aku tak ingin, semua jadi hancur lagi Jo. Kamu mengerti?

Tejo : Iya aku mengerti. Tapi dengan ku berbicara saat ini, apa kau menganggap aku sedang berusaha menghancurkan lagi?

Ngatiyem
: Entahlah Jo. (berbicara menunduk)

Tejo
: Yem, maafkan aku.

Ngatiyem
: Jo, perlu kamu tahu. (berbicara dengan serius) Mungkin memang aku yang salah, menyukaimu terlebih dahulu. Tapi aku tak tahu harus bertindak apa lagi. Aku sudah menyukaimu sejak pertama kali ku melihatmu, dan aku pikir mungkin itu jauh sebelum kau mengenal Surti. Dan sepertinya memang seperti itu, terdapat jangka waktu 6 bulan dari pertama kali ku menyukaimu, hingga kau jatuh cinta padanya.

Tejo : (terkejut) Apa kau sungguh sungguh Yem? Kalau dihitung hitung, bukankah kita belum saling mengenal waktu itu, tapi aku akui, kita memang sering bertemu, dan aku sudah tahu namamu waktu itu.

Ngatiyem : Aku sungguh sungguh Jo. Tahu nama ku? Darimana? Bukankah baru 3 bulan sebelum kau jatuh cinta dengannya kita baru saling kenal?

Tejo : (tertawa)

Ngatiyem : (heran) Ada apa Jo? Mengapa kau tertawa? Adakah yang lucu dari apa yang sedang ku bicarakan?

Tejo : Tidak, hanya saja, kau terlihat sepertiku, maksudku, kau mengingat semua secara detail. Kau mengerti kan? Akupun sering begitu, mengingat apapun secara detail, (tertawa kecil)

Ngatiyem : Hah? Serius kamu jo? Aku bahkan tak sadar kalau bertindak seperti itu. (menunduk malu dan tertawa kecil)

Tejo : Sudahlah, tak apa. oh iya, sampai mana tadi kita berbicara?

Ngatiyem : Ah sial, (merasa sedikit kesal) aku lupa Jo, ketika kau tertawa tadi, tiba tiba saja semuanya buyar.

Tejo : Ah sudah, tak apa. Kau terlihat lucu tadi Yem, aku serius.(tiba tiba melihat Ngatiyem dengan serius)

Ngatiyem : (diam sejenak) Seperti biasa, kau selalu menggombal Jo. (tertawa malu)

Tejo : Aku serius Yem, tak menggombal.

Ngatiyem : Keahlianmu yang ke 2 Jo, mengelak setiap kali aku mengatakan kau sedang menggombali ku. (tertawa). Pantas saja banyak wanita yang menyukaimu Jo. (tertawa)

Tejo : Termasuk kamu Yem? (tertawa)

Ngatiyem : (diam sejenak) Kamu ini Jo, bisa saja membuatku tidak bisa membalas apa yang kau katakan. (tertawa kecil)

Tejo : (Tertawa) Kamu yang bisa saja.

Ngatiyem : Kenapa aku? Hmm, kudengar kau kemarin baru saja bertemu dengan Surti (berbicara sinis) apa yang kalian lakukan kemarin?

Tejo : Darimana kamu tahu yem? (bertanya keheranan) Iyaa, aku memang bertemu dengannya, dan aku hanya mengobrol dengannya, tak lebih. Kenapa? Apa kamu cemburu yem? (bertanya dengan nada mengejek)

Ngatiyem : Yaa, sebagai wanita, mungkin itu memang naluriku jo, merasakan cemburu, dan apakah itu salah Jo? (menanggapinya dengan serius)

Tejo : Hmm, tidak, aku hanya bertanya. (meminum air yang tidak terminum di de depannya)

Ngatiyem : Lalu, apa saja yang kalian bicarakan? Bolehkah aku tahu?

Tejo
: Oh, tidak, kami hanya berbicara tentang sesuatu yang lalu, mungkin tidak terlalu penting.(berbicara datar)

Ngatiyem : (berbicara datar) Aku rasa, justru karena kau dan dia membicarakan sesuatu tentang masa lalu, itu menjadi penting bagiku. Jatuh cinta lagi kah kau dengannya?

Tejo : Tidak Yem, dia hanya memberikan ku sebuah penjelasan mengapa ia meninggalkanku waktu itu. (menanggapi dengan sedikit serius)

Ngatiyem : Ohh, waktu kau kehilangan selara hidupmu? (berbicara sinis)

Tejo : Iya yem, tapi itu dulu. Sekarang selera hidupku sudah kembali.

Ngatiyem : Hmm, Jo kamu tahu? (melihat kea rah Tejo) Aku juga pernah merasakan kehilangan, dan itu kehilanganmu.

Tejo : Maksudmu? (memasang muka heran)

Ngatiyem : (berbicara serius) Setelah mengetahui kalau kau dan surti sudah ada apa apa, aku merasa kehilangan dirimu jo. Aku merasa kehilangan kau yang dulu sering mengahabisakan waktu bersama ku. Mengapa kau harus merahasiakan Surti dari ku Jo. Seharusnya kau memberi tahuku tentangnya lebih awal, agar aku bisa membuang jauh harapanku kepadamu.

Tejo : Tapi, bukankah, dulu kau sempat bersama Budi?

Ngatiyem : Iya aku tahu, tapi tetap saja, kau selalu mengganggu, meski pada kenyataannya kau tidak benar benar mengganggu.

Tejo : Jadi begitu, maafkan aku yem. Aku selalu saja berbuat salah.

Ngatiyem
: Sudahlah Jo, bukan salahmu. (berbicara dengan tegas) Bukankah aku sudah mengatakannya tadi?

Tejo : Kamu tau Yem? (melihat ke arah Ngatiyem) Aku juga sempat merasa kehilanganmu. Tentunya waktu kau menghilang begitu saja dari hidupku. Tapi mungkin ini memang menyakitkan, maksudku, aku sudah kehilangan satu, dan bagiku itu sudah cukup. Sampai akhirnya aku harus kehilanganmu juga. Maafkan aku, mungkin ini terlihat egois bagimu.

Ngatiyem : Sudahlah, (melihat ke arah Tejo) tak apa. naluri manusia. Egois. Akupun begitu Jo.

Tejo : Yem, sekali lagi, aku meminta maaf kepadamu.(melihat ke arah Ngatiyem)

Ngatiyem : Ini berat Jo, selama aku belum bisa melupakan itu, berarti aku belum secara ikhlas memaafkanmu. Tapi aku akan berusaha Jo. Jadi berhentilah meminta maaf padaku. (berbicara secara tegas)

Tejo
: Baiklah kalau itu mau mu Yem.(tertunduk)

Ngatiyem
: Iya Jo. Aku mohon pengertian darimu. (mengecek ponselnya) Oh iya, aku harus bergegas. Aku ada janji dengan teman ku. Tak apakah jika obrolan ini harus diakhiri?

Tejo : Oh, tak apa Yem. Aku juga tak mau terlalu mengganggumu. Yasudah aku pamit yem. Sampaikan salam ku untuk Sugeng. Assalamualaikum. (meninggalkan rumah)

Ngatiyem : Wa’ alaikumsalam, iya, hati-hati lah kau dijalan Jo.


Kini, Tejo, sedikit merasakan lega, karena beberapa beban yang selama ini menggantung di tubuhnya telah menghilang. Seiring pengakuannya kepada Ngatiyem, pengakuannya tentang dia yang juga memiliki perasaan yang sama terhadap apa yang Ngatiyem rasakan, tentang dia yang merasakan kehilangan ketika Ngatiyem menghilang begitu saja dari hidupnya.

**********************************************************************************

Kisah lanjutan dari Surti VS Tejo, dipesen sama temen gw buat diposting disini, mungkin yang ini lebih dangdut, jadi maklum gw kan emang dangdut. haha.

05 Agustus 2010

Tentang Galau, Malam, dan Hujan

Judulnya keren ga? Hahaha padahal ini cuma sebuah obrolan so berat yang gw lakukan dengan seorang teman yang berada jauh di timur sana. Tapi bukan Timur Tengah juga, soalnya dia bukan temennya Om Jin, oke ngawur.

________________________________________

Gw : “Pola.”

Dia : “Hai Autis!!!! Hihihihi.”

Gw : “Ngobrol yuk Pola. Hahaha.”


Dia
: “Okedeh Autis, tapi lagi sendu, jangan salahin gw kalau tiba-tiba jadi ngaco yaaa hahaha. Lagi apa lo? *awas gw tanyain ginian ngerasa aneh!!!*”

Gw : “Sendu atau galau? Hahaha. Lagi nulis, tapi tiba tiba juga jadi sendu. Haha nggalah, gw kan udah mulai biasa. Hahaha.”

Dia : “Senduuu, galau dikit, oke banyak. Tapi ga sebanyak kemarin.. hehehehe. Nulis apaan? Bagus kalau udah biasa, bilang aja lagi nyoba buat biasa aaaaa… hahaha.”

Gw : “Haha. Pake malu segala mau bilang galau aja. Haha. Nulis ucapan terima kasih. Haha. Kan tadi gw udah bilang, lagi membiasakan diri. Haha. Sepertinya malam selalu menjadikan diri menjadi gila. Atau hanya sugesti yah? Haha.”

Dia : “Ohh ucapan terima kasih.. Sugesti? Kalo menurut gw, gara-gara dimalam hari gw ngerasa sendirian, terus kebawa suasana, terus pikiran nya jadi ga karuan, terus ya bagitulah”

Gw : “Iyaa. Haha. Gw juga kadang gitu. Ga kadang juga sih. Setelah bersenang-senang di siang, kadang gw lupa masih ada malem yang menurut gw punya dunia sendiri <-- ini gw ga ngerti maksudnya apa. Hahaha. Asal nulis.”

Dia : “Gw seneng banget kalo bisa tidur cepet atau malam gw itu gw jadi sibuk buat ngelakuin hal yang bermanfaat.. gw capek rasanya kalo tiba-tiba ada pikiran ga penting dateng-dateng ke otak gw.. gatau kenapa malam itu bawaannya misterius Mi buat gw..”

Gw : “Yaa sama Mbake. Malam serasa idup buat gw, kadang dia maksa gw buat nginget semua apa yang ga mau gw inget. Jadi ya malam selalu menjadi sesuatu yang liar dihidup ini. aih serius banget, ceritanya gw kaya Mario Teguh. Salam super buat malam. Hahaha.”

Dia : “Hahahahahaha salam super.. Gw ga ‘nyuper sih mi tapi haha. Kalo tadi sore gw ngomongin soal cuaca galau sama temen gw, kan pas lagi hujan, terus gw bilang kalo hujan bumi tuh lagi gala uterus dilanjutin berarti hujan itu penyegar buat bumi, nah jadi deh Mi, galau, gue butuh ‘hujan’ hahahaha.”


Gw
: “Malam dan hujan seperti punya benang merah yah? Hahaha. Kalau kita ga berani menghadapi hujan kita Cuma bakal kebawa kencangnya badai nanti. Tapi kalau kita bisa mengahadapi hujan, hujan bisa jadi teman yang baik . biasanya gw bakal lebih milih mandi ujan daripada harus nunggu hujan sambil galau. Hahaha. Setidaknya ketika mandi hujan gw bisa ketawa dengan kencang dan menyanyi dengan suara serak ini tanpa harus terdengar orang. Haha.”

Dia : “Ah tapi itu mah nyari penyakit Mi, kalo dari sudut pandang gw. Ketika malam dateng dengan teman-temannya, terus ada hujan buat hadi penyegar. Pasti temen-temennya ilang juga, kita jadi kebawa dinginnya hujan, dan ga kebawa galau. Hihihi. Apalagi kalau lo mau nangis juga ga bakal ketauan hihihi.”

Gw : “Yaa itu resiko yang gw ambil. Sama halnya ketika menunggu hujan. Resiko yang gw ambil, jadi galau. Hahaha. Yaa udah lo ambil selang, terus lo taro di atas genteng. Lo nyalain deh, biar berasa lagi ujan. Hahaha. Ga galau deh jadinya.”

Dia : “Yee gila! Dikira lagi main sinetron! Hahaha. Wah, gw salah milih playlist nih. Malem gini, ngobrol galau sama lo nyetelnya Mocca, ouch -_-“

Gw : “Lah hidup ini juga kan kaya sinetron. Semua ada scriptnya. Kita Cuma jadi pemain yang ga pernah tau scriptnya aja. Haha. Lah emang Mocca kenapa? Masih sakit Mbake?”

Dia : “Asik omongan lo Mario Teguh abis! Hahaha. Mocca tambah bikin galau haha, Alhamdulillah udah sembuh Mi, cuman batin gw aja belum sembuh hahaha.”

Gw : “Yaa iyalah, gw kan ngepens ama dia. haha. (jangan bilang bilang ke yang lain yah hehe) makanya dengerinnya Geisha aja. Loh ko? Ha. Solat dong (sok religius)”

Dia : “Dengerin Geisha terus sambil baca blog lo yah hahaha gue lagi dapet, makanya labil banget, 2 hari kemarin masak gw mewek mulu ck ck”

Gw : “Asuuuuu. Haha. Oh pantes, kalo cewe lagi dapet berarti hormonnya lagi banyak yah? Eh iya bukan sih? Sumpah tadi gw sempet salah baca yang mewek itu. Haha (jangan dibahas udah, nanti obrolannya malah kacau) ntar sms sms lo gw masukin blog ah. He.”

Dia : “Ga ngerti Mi hormon-hormon, gw lupa pelajaran Biologi. Yang jelas jadi tambah sensitif banget, tapi sugesti doang sih itu. Ha? Salah baca gimana? Waaaaah! Wow dimasukin blog hihihi. Masih nulis lo?”

Gw : “Ya tapi tetep aja sugesti sugesti, semua cewe jadi begitu. He. Iyaaa, masa ga ngerti. Haha. Iyaa, judulnya tentang malam, hujan, dan galau. Puitis abis. Haha.”

Dia : “Iya juga sih mi, hahahaha… Ciee dari judulnya aja udah pengen ambil tambang gw hahahaha, yaudah dibikin, kalo udah jadi kasih tau gw yah hihi… gue tidur duluan yah Mi, ngantuk.”

Gw : “hahahaha. Yaudah deh. Tidur deh lo. selamat malam. He.”

________________________________________


Dan itu tadi adalah obrolan yang dilakukan oleh sesama galauers, bagi yang ga tau galauers, galauers adalah fan base dari band bernama galau. Oke ngga, ga ada band yang namanya galau. Gw becanda. Haha. Ga ada yang bisa disimpulkan juga sih kayanya, Cuma iseng aja ngepost itu, :))

24 Juli 2010

Surti VS Tejo

Tengah malam di sebuah rumah makan, terdapat dua orang muda mudi yang tengah serius membicarakan sesuatu.

Surti : kalau seandainya, kamu, aku kasih satu kesempatan untuk mengulang lagi semua yang udah kita jalanin gimana?

Tejo : (mengerenyitkan dahinya) hmm, gimana yah? Di satu sisi mungkin aku senang, karena sampai saat ini aku memang masih menyimpan semua.

Surti : (sedikit ragu) tapi melihat cara kamu berbicara tadi, aku belum benar benar yakin kalau kamu merasa senang.

Tejo : Nah itu dia (menghela nafas) kan tadi aku sudah bilang, kalau itu sisi yang satu. Tapi sisi yang lainnya, aku takut Sur, aku merasakan takut yang teramat. Aku takut untuk mengulang semua, meski aku memang menyimpan semua, tapi aku takut mengulangnya. Aku takut, hasil yang didapat nanti justru lebih buruk. Yaa, itu ekspektasi dari sisi ku yang lain. (menyulut rokok untuk menenangkan diri)

Surti : Ohh, jadi gitu. (terdiam sebentar) tapi kenapa sisi kamu yang satu lagi menginginkan hal itu?

Tejo : Itu adalah sisi dimana hatiku yang berbicara, hatiku yang menghampa ketika kamu pergi meninggalkanku, jadi kurasa wajar kalau dia berkata seperti itu.(menghisap rokok untuk menenangkan diri) sedangkan yang satu lagi, itu adalah logikaku, logikaku yang berpikir secara susah payah untuk melihat semua dari baik dan buruk.

Surti : lalu kenapa logikamu berpikir seperti itu Jo?

Tejo : Logika ku tentunya tak ingin melihat hatiku merasakan hancur lagi. Namun setelah logika dan hatiku di pertemukan. Aku mendapatkan sebuah kesimpulan untuk permasalahan ini. Aku tak ingin semua terulang untuk saat saat ini. Saat saat dimana kamu masih terlihat liar.

Surti : Liar jo? (mengerinyitkan dahi karena kebingungan) maksudmu apa? (bertanya dengan nada yang tinggi) Apakah aku terlihat seperti wanita wanita yang sering menjajakan kemolekan dan kenikmatan tubuh itu Jo?

Tejo : Bukan itu maksudku Sur, kamu tahu, kita semua masih terlihat liar saat ini. Kamu yang masih sering bepergian hingga larut dengan teman teman priamu, meski aku tahu mereka adalah sahabatmu. (mematikan rokok yang tidak terhisap di asbak) Lalu bukankah kau meninggalkanku karena keliaran ku? Maksudku, aku yang terlalu sering menghabiskan waktuku dengan wanita itu. Kau tahu kan wanita yang kumaksud itu?

Surti : Tentu saja aku tahu itu. oh jadi itu yang kau maksud tentang keliaran? Tapi kenapa kamu tak pernah berkomentar dengan keliaran ku itu? Bukankah aku selalu berkomentar dan memarahimu ketika kau terlalu menghabiskan waktumu dengan wanita itu.

Tejo : Ahh, aku tak mau berkomentar, karena menurutku itu semua telihat berlebihan Sur.(diam sesaat) Yang ku mau setelah ku memikirkan semua, adalah, kita bertemu lagi nanti, mungkin sekitar 10 tahun lagi.

Surti : Kenapa seperti itu Jo? Itu terlihat aneh bagiku. Apa yang kau mau dari ku 10 tahun lagi? (bertanya dengan ekspresi heran)

Tejo : Rasa sayangmu, kasihmu, Cintamu, atau mungkin yang lebih ironis, rasa ibamu. Aku berfikir, mungkin setelah 10 tahun kita berdua akan menjadi orang yang lebih baik, dan mungkin saja keliaran yang kita miliki telah berkurang. (berbicara dengan ekspresi datar)

Surti : Jadi itu yang kau mau? Apa kau bersungguh sungguh? Maksudku mungkin saja setelah 10 tahun, aku bukanlah orang yang sama lagi. Kau mengerti?

Tejo : Tentu saja aku mengerti, bukankah tadi sudah kubilang, kalau memang kau tak bisa memberiku rasa sayang, kasih, dan cinta, mungkin saja kau bisa memberiku rasa iba.

Surti : Ohh, tapi, seandainya kau sudah bersama wanita itu nantinya. Apa kau masih membutuhkan apa yang kau sebutkan tadi Jo? (bertanya dengan sedikit kesal)

Tejo : Kamu tahu Sur? (melihat mata Surti dengan dalam) Aku memang pernah merasakan gejolak cinta kepadanya, tapi aku terlalu takut untuk menjalani itu dengannya.

Surti : Kenapa kau takut Jo? Kenapa kau tidak bisa melakukan hal yang sama seperti waktu kau memberanikan dirimu untuk tetap mencintaiku?

Tejo : (meminum kopi yang sudah dingin) Entahlah Sur, kalian berdua berbeda, dan tentunya itu sangat berpengaruh terhadap apa yang kurasakan, dulu memang aku berani untuk tetap mencintaimu, tapi untuknya, aku merasakan takut untuk tetap mencintainya. Aku lebih baik memendam perasaan ini. Meski ku tahu, ini sangat menyiksa.

Surti : Jadi begitu, kamu tahu Jo? (menggenggam jemari Tejo dengan erat) Aku dulu sempat takut, waktu kau jujur padaku bahwa kau merasakan ada rasa cinta antara kau dan dia. Aku takut, kau akan segera meninggalkan ku dan mendatangi dia yang cintanya baru bersemi. Aku sungguh takut, meski itu tak terbukti, tapi cukup mengetahui kalau kau mempunyai rasa kepadanya sudah membuatku cemburu setengah mati. Dan bagiku, meninggalkanmu sebelum kau meninggalkanku nantinya akan lebih baik.

Tejo : Iya Sur, setelah berbulan bulan memikirkan itu, aku bisa tahu dengan sendirinya alasan mengapa kau meninggalkanku.

Surti : Maafkan aku Jo, (mengelap airmata yang hampir jatuh) karena mungkin telah membuatmu merasakan sakit yang teramat.

Tejo : Sudahlah Sur, itu semua sudah berlalu, berlalu jauh, hampir 1 setengah tahun yang lalu. (memegang pergelangan tangan Surti) Akupun sudah memaafkanmu tanpa kau harus meminta.

Surti : Terima kasih Jo, (melirik kearah jam tanggannya) mungkin sebaiknya kita pulang, sudah terlalu larut. Akupun tak enak dengan orang dirumah.

Tejo : Ya, aku juga harus beristirahat, banyak hal yang harus kulakukan besok. (melepaskan genggaman tangannya dari tangan Surti) Omong omong, apakah setelah malam ini kita masih bisa bertemu? Hanya untuk sekedar ngobrol dan menceritakan hidup masing masing. Tak ada maksud lain.

Surti : Aku tak yakin Jo. Aku merasa tak enak untuk terus terusan bertemu denganmu. Yasudahlah, hatihati di jalan Jo. (masuk kedalam mobilnya)

Tejo : Baiklah, kau juga Sur. (menyalakan sepeda motornya)

Keduanya pun pulang, Tejo hanya bisa melihat mobil Surti yang semakin menjauh dari pandangannya sewaktu mobil Surti berbelok menuju arah yang berbeda. Malam itu, Tejo sadar, dia memang masih menginginkan Surti. Dia belum bisa secara utuh melepaskan wanita itu. Masih ada harapan yang dipendam. Namun kini ada yang berbeda. Kini ia lebih takut untuk mencintai Surti.

*********

Gimana ? keren ga? Hahaha, sumpah, gw aja yang bikin keheranan kenapa gw bisa nulis kaya gini. Hhe.

Sepertinya gw cocok nih jadi penulis naskah sinetron sinetron yang lebay itu, haha. Ahh gila, gw bingung setengah mampus, kenapa gw bisa nulis kaya gini. Hahaha. (sepertinya bakat alami) tapi kayanya seru juga, mengasah kemampuan menulis gw.
Tapi gw harap nanti ceritanya ga gini gini doang, hehe. Tapi gw juga mau bikin bagian kedua dari cerita ini, jadi tunggu aja. Hihihi :D

Aduh ada yang salah nih di otak gw. Hehehe.

16 Juli 2010

Takut Untuk Mati

berada diareal pemakaman selalu bikin gw takut, bukan takut karena bakal ada kemungkinan si setan atau mayat mayat bakal keluar dan nyanyi lagu keong racun sambil goyang sekrup (oke, goyang macam apa itu?) di depan gw, bukan, bukan itu, soalnya mereka udah pasti ga bisa.

gw takut karena, setiap kali ngeliat deretan nisan yang tertata rapi di atas sebuah makam. bisa bikin gw inget.

inget, kalau nantinya, gw akan bernasib sama seperti mereka yang menghuni makam itu. sumpah gw takut, ki joko bodo tiba tiba ada dibelakang gw, eh ngga deh, gw becanda. heeeeeee.

jujur, gw termasuk orang yang punya rasa takut berlebihan terhadap kematian.
entah gw sedang jalan jalan, main, makan atau boker, pikiran tentang mati selalu ada di otak gw.
gw selalu ngerasa takut mati, gw belum mau mati sekarang, gw belum siap.

apa kalian juga takut?

kadang, untuk menghilangkan rasa takut berlebih ini, sebuah pengalihan sangat berguna.

maksud gw, ketika gw ngerasa seneng karena baru aja dinyatakan bukan seorang gay, pikiran tentang mati itu akan hilang begitu saja, tanpa sadar. rasa seneng, sedih, dan marah, kadang bisa bikin gw lupa akan rasa takut gw.

tapi, sayangnya, gw adalah orang yang mudah teralihkan lagi, maksudnya, ketika gw ngerasa seneng, sedih atau marah rasa cemas mati itu hilang begitu saja. tapi gw bisa aja berenti ketawa pas lagi asyik asyiknya ketawa ngeliat temen gw bugil di depan umum, atau sewaktu gw ngerasa sedih ketika gw tau kalau gw ternyata keturunan mahluk berbulu yang bisa berjalan dengan keempat tangannya (err, itu tangan atau kaki sih yang sepasangnya lagi?) atau malah sewaktu gw lagi ngerasa kesel dan marah setelah gw dikatain gay sama cewecewe. gw bisa tibatiba diam dan merasa takut kembali akan kematian.

punya perasaan takut berlebih ini melelahkan, terkadang semua terasa nyata, terkadang gw merasa sangat dekat dengan tuhan, dan malaikat pencabut nyawa tentunya.


di areal pemakaman dimana sore itu gw berada, gw duduk di samping sebuah makam, sebuah makam yang berada tepat disamping sebuah pohon kamboja, sebuah makam yang ditata sedemikian rupa menggunakan potongan potongan ubin berbentuk persegi, dan sebuah nisan yang tertancap dengan kokoh di sisi lainnya, dengan sebuah ukiran keterangan pada nisan itu.

gw melihat sekeliling, puluhan pohon kamboja yang cukup rimbun tersusun secara terpisah setiap beberapa makam, deretan dan barisan nisan yang menjuntai tinngi dari tempat dimana mereka ditancapkan, beberapa makam yang sudah tak terurus, dan beberapa ibu ibu yang sedang berkumpul (yang mungkin sering mengurusi makam makam disana)

dengan segaala rasa cemas yang menumpuk di otak dan hati gw sewaktu gw berada di areal pemakaman itu, gw jadi mikir ulang atas hidup gw. apa jadinya nanti? ketika tubuh gw berada 2 meter di bawah tanah sana, dikubur dengan keadaan dibungkus seperti permen loli. dan roh gw, berada di suatu tempat, tempat dimana semua roh orang yang telah meninggal berkumpul.

apakah emang gw udah ga bisa ngerasain lagi apa apa yang berbau dunia setelah gw mati? ( ga bisa baca majalah fhm dan playboy lagi dong? ga bisa mantengin red tube lagi dong? oke gw ngawur banget) oke, lupakan pertanyaan tabu ini.

apa nantinya gw bisa tetep di inget orang? apa nantinya makam gw sering diziarahi oleh teman teman atau keluarga keluarga gw?

gw ga tau dan ga bisa jawab, hanya tuhan yang tau, dan hanya waktu yang dikasih tau dan diberi wewenang untuk menjawab.

atau, menjadi sesuatu yang ironis? sesuatu yang cuma jadi sebuah tempat, sebuah tempat yang hanya didatangi sesekali pada hari hari raya keagamaan tertentu?

gw ga mau.

dan untuk itu, gw jadi mikir, gw harus bisa jadi orang yang lebih baik lagi. gw harus bisa jadi orang yang berguna buat siapa aja. gw ga mau jadi orang yang hidup di dunia ini tanpa bisa diingat seorangpun, gw ga mau merasa terlupakan. tapi gw juga ga mau diingat karena sesuatu yang buruk mengenai gw.

dan untuk itulah, saat ini, gw sedang mencoba menjadi orang yang lebih baik lagi.

mau mencobanya juga?


***********

disaat menulis ini, tentu saja pikiran gw sedang mengawang tentang kematian. entah berapa lama pikiran gw akan mengawang, rasanya seperti kematian. tidak bisa dikendalikan.

Catatan Kecil dalam Perjalanan

dalam perjalanan kali ini, semua terlihat berbeda buat gw. maksudnya bukan berbeda yang gimana gimana, hanya saja, kali ini semua terasa seperti baru. ya, perjalanan yang menyegarkan.

kali ini gw pergi naik bus, ya, bukan kereta. dan ternyata memang lebih nyaman. gw bisa duduk nyaman di kursi yang lebih empuk, acnya juga menambahkan kenyamanan tersendiri buat gw. yaa meski harus gw akui, kalau gw nyaris masuk angin pada malam harinya.

perjalanan yang memakan waktu hampir seharian itu, lebih banyak gw habiskan dengan membaca buku. mendengarkan lagu, ngemil, dan tidur. (emang bisa apa lagi gw? salto? atau kayang? ga memungkinkan tau tempatnya. hhe.)

perjalanan seharian itu membantu gw. membantu berfikir lebih jernih atas masalah masalah yang gw pikirkan. gw sengaja menyusun kembali sebuah kenangan yang dulu udah hancur, yang nyatanya, meski sudah menjadi kepingan tetap menggangu.

setelah berada hampir seharian di perjalanan, dan kepingan kepingan yang hancur udah selesai gw susun menjadi suatu kenangan yang utuh, gw bisa melihat semua dengan lebih jelas, gw mulai dengan melihatnya dari beberapa sudut pandang yang berbeda, mencoba melihatnya secara labih detail dan rinci.

pada akhirnya, gw seperti menemukan harta karun yang selama ini gw cari. gw menemukan inti dari permasalahan ini, sebuah inti yang membantu gw menyelesaikan permasalahan ini.

gw sadar, seiring kepergian gw meninggalkan kehidupan disana, masalah gw juga akan menghilang. menghilang seiring ribuan kilo yang dilewati.

tapi, entah itu menghilang atau hanya tertinggal dan tak mau ikut menyusul. hmm, entahlah.

tapi seiring itu juga, masalah lain akan datang menghampiri gw setibanya gw dan semulainya gw hidup disini, di kota pelajar ini.

jadi, bersiaplah gw untuk menghadapinya.

tapi apakah ketika nantinya gw kembali, semua masalah itu juga melakukan hal yang sama? sepertinya tidak, dan gw berharap tidak untuk hal itu.

**********

catatan perjalanan :

- makanan gratis yang dikasih sama busnya itu ga enak (menurut lidah gw yang berselera aneh) itu sepertinya cuma buat ganjel perut dan mulut para penumpang supaya mereka ga berisik buat minta berenti
buat beli makanan.

-lebih baik acnya dimatiin kalau malem, karena dinginnya minta ampun (ini terbukti dengan gw yang menggigil pada malam hari, padahal jaket gw berbulu dan biasanya itu cukup membuat hangat kalau gw pergi ditengah malem naik motor , bukan bulu kaki atau bulu bulu lainnya lho)

-supir untuk bus bus malam itu menurut gw gila, mereka seperti bermusuhan dengan waktu. mengebut tanpa mengenal medan yang ditempuh. tapi bukankah memang untuk itu mereka menjadi supir bus malam? bersaing dan mengalahkan waktu.

-jangan pernah ngeledek atau ngecengin penumpang lain yang menurut lo jelek, gendut, atau apalah, secara nyaris frontal sama temen lo, ketika lo pergi bareng temen tentunya (ga mungkin lo ngasih tau ledekan itu sama orang yang baru kenal kan?). gw pernah ketauan sama orang yang gw ledek, dan dia ngomelngomel, untungnya waktu itu, gw lagi make headset dan denger lagu, jadi temen gw yang kena semprot. (padahal waktu itu volumenya kecil, dan gw bisa ngedenger waktu temen gw ditanya tanya sama orang yang barusan gw ledek, tapi gw pura ga denger dan soksokan menikmati musik. maafkan temanmu ini kawan, hha)

-selalu cek bawaan yang akan dibawa sebelum pergi. gw ga melakukan itu, jadi gw sama sekali ga bawa celana dalem buat ganti, padahal gw pergi selama 5 hari. yang membuat gw harus mengeluarkan uang untuk membeli 1 set celana dalam baru (padahal baru kemaren gw beli celana dalem buat persiapan ngekos nanti)
yang ternyata isinya cuma 3 (tetep kurang, asu)

-jangan pernah kentut secara berlebihan di kamar mandi yang disediakan untuk umum. gw melakukan itu dikamar mandi yang disediakan dipenginapan gw, dan setelah keluar dari kamar mandi, beberapa orang keheranan, dan mata mereka tiba tiba saja menatap tajam ke gw, lalu tersenyum setelahnya, sepertinya mereka sudah tau sumber bunyi aneh (kentut gw) yang mereka dengar tadi. gw sangat malu waktu itu.

-jika merantau sendiri dan tidak punya orang yang dikenal didaerah tujuan, bersikap ramahlah kepada semua yang ditemui (tersenyum saja mungkin sudah cukup), karena berkat itu, gw dikasih tau tempat kos yang masih kosong sama orang yang tibatiba ngajak gw ngobrol waktu gw iseng menikmati kopi pagi hari sendirian, disebuah tempat umum (yang gw ga tau itu namanya apa, tapi menurut gw itu taman). dia membantu ditengah kekhawatiran gw bakal ga punya tempat kos.

-sebelum pergi sebaiknya terlebih dahulu tau jalur yang akan dilewati dan dituju sebenarnya oleh kendaraan umum yang ingin ditaiki. karena gw ga tau, gw harus nyasar dan berjalan kaki sejauh 10 kilo, garagara spekulasi bodoh gw, kalau daerah yang gw tuju udah lewat, dan turun di daerah yang sama sekali gw ga tau (serius, tempatnya kaya jalan tol gitu, kendaraan yang lewat cuma dikit, dan di kiri kanan jalan sangat jarang rumah penduduk, yang gw liat waktu itu cuma pabrik pabrik yang mengolah bahan alam seperti pasir, mmm, tapi kurang tau juga deh). padahal, tempat yang gw tuju masih jauh dari tempat gw turun tadi. beruntungnya gw, ketemu pacarnya temen gw, dan dikasih tumpangan sampe rumah temen gw.

-bertanya sepertinya selalu lebih baik daripada mengandalkan buku panduan.

-oh iya, jangan lupa lebih hatihati lagi, berdoalah sebelum bepergian supaya ga terjadi halhal yang aneh (mungkin aja lo bisa sebangku sama seseorang yang mukanya persis tapir dan berbau busuk sebusuk telur busuk) dan halhal yang buruk tentunya(seperti dicopet atau yang lainnya)

jadi selamat berjalan jalan :)

25 Juni 2010

Me, You

Well, ini seperti membuka sebuah lubang yang dulu udah gw tutup secara susah payah. Lubang yang dulu dibuat oleh seseorang,(dramatis abis mirip sinetron sinetron). Sebenernya gw rada bingung juga sih, kenapa bisa datang secepat itu, tapi mungkin filosofi yang dipake di lagunya Kings Of Convinence bener “Love comes like surprise ice”.

Kalau ga salah waktu itu sekitar pertengahan atau akhir Februari 2008 dan gw masih kelas 1 SMA. Gw lagi di dalem metromini, duduk tenang menunggu perjalanan buat sampe ke tempat favorit gw, toko buku. Gw lagi bengong, sampai tiba tiba harus di kejutkan sebuah tamparan keras dari abang keneknya karena gw baru aja pipis di metromininya, oh oke ngga, itu ngga terjadi. Gw dikejutkan sebuah pesan singkat yang awalnya gw ga tau itu dari siapa, karena nomornya ga ada di daftar kontak gw. Tapi setelah bertanya, gw tau, itu dia. Orang yang ga gw duga buat bisa sms gw. (lebaaaaay). Awalnya kita emang udah kenal, tapi yaa waktu itu baru sebatas kenal.

Berhari hari berkomunikasi secara intensif, muncullah sesuatu yang mengganjal di antara kita, atau mungkin tepatnya gw?

Tanpa sadar sesuatu yang mengganjal itu adalah rasa suka gw sama dia, rasa suka gw terhadap keabnormalan dia yang bisa tertarik sama orang abnormal kaya gw, rasa suka gw terhadap apa yang dia paparkan di setiap kata kata dan omongan dia, dan saat itu gw menyimpulkan kalau gw.... jatuh cinta.

Dan pada akhirnya ketika kita menonton film favorit dia secara terpisah, gw dirumah, dia dirumah. Seinget gw filmya ‘Lord Of The Rings’. Gw mengirimkan sebuah pesan singkat yang berisikan pernyataan terabsurd yang selalu gw ucapkan setiap kali gw ngerasain.... jatuh cinta.

Dan dengan segala kegugupan, perasaan cemas serta perasaan penasaran yang menghinggapi gw malam itu, gw Cuma bisa bulak balik di kamar gw, sambil sesekali salto dan melakukan tiger sprong, oke, gw ngga melakukan itu, gw cuma sesekali melihat handphone dengan berbagai macam pertanyaan. “apakah dia udah ngebales sms gw? lalu apa balesan yang dia kirim?” setelah menunggu cukup lama, akhirnya sebuah nama muncul di layar hape gw, gw nerveous, gw gugup, gw penasaran, gw kebelet, gw pipis dulu ya, ehehe, ngga ngga. Tapi setelah gw liat ternyata itu sms dari si Agus, bukan dia yang diharapakan membalas pesan singkat dan curahan hati singkat gw, oke, gw becanda itu sms dari dia.

Dan akhirnya dia ngebales apa yang gw kirim dan apa yang gw ungkapkan. Malam itu, sebuah komitmen muncul, kita resmi menjadi pasangan abnormal, dia cewe yang selalu ileran dan larilari bawa piso buat nusuk orang, dan gw cowo idiot yang ga suka make celana dalem. oke ngga, itu berlebihan.

Yaa, meski Cuma bertahan selama 2bulan lebih, gw tetap menikmati apa yang udah gw jalanin sama dia. Gw Cuma bisa berterima kasih atas apa yang udah terjadi selama 2 bulan itu, kado action figure dari serial kartun One Piece yang dikasih ke gw sebagai kado 15 gw, kissing lesson yang dia kasih :#P (jangan pada mikir macemacem yaa hahaha) dan segalanya, gw berterima kasih.


Meski kalau gw pikir pikir lebih lanjut, endingnya sangat sangat ngga enak buat gw, apalagi setelah gw tau hal yang terjadi berikutnya. Tapi ya beginilah menjalani sebuah hubungan, kaya makan permen karet, ga ada kan orang yang ngebuang permen karetnya di awalawal kunyahan, pasti orang orang yang makan permen karet bakal negebuang permen karetnya kalau tuh permen karet udah ga berasa dan udah ga enak lagi buat di makan. Yaa, paling orang yang ngebuang permen karet di awal kunyahan cuma karena ia terburu buru buat makan yang lain.

Yaa emang sama kalau gw pikir pikir, ketika sebuah hubungan udah ga enak lagi dijalanin, mengakhirinya adalah sebuah jalan terbaik, kerena setau gw rasa manis dari permen karet ga bakal balik lagi kalau udah ilang, jadi kalau udah ga enak buat dikunyah, ya dibuang. Tapi gw juga ga tau pasti, apa setiap kali berhubungan nasibnya harus sama seperti memakan permen karet? ketika udah ga enak dan ga berasa, bisa tinggal gitu aja dibuang.

Balik lagi ke dia, mungkin emang udah 2 tahun sejak gw ama dia ga ketemu, udah lama banget emang, selama 2 tahun itu juga gw udah ngerasain berkali kali jatuh cinta sama cewe lain (ingat cewe bukan cowo) dan patah hati tentunya, dan dia? Setau gw dia masih sama cowonya yang dulu. Meski begitu, pada saat dia berulang tahun kemarin, tiba tiba gw di undang buat dateng. Gw udah sempet ngebahas ini sedikit di postingan yang Freaky Donkey!. Dan beberapa hari belakangan ini, kita juga lagi cukup intensif berkomunikasi.

Tengah malam kemarin, seusai membaca blog gw, dia sms, dan komentar tentang isi blog gw yang hampir semua isinya tentang cerita cinta gw dan jelek, dia bilang “ and I can see there that you do really love her :p ”. Dia juga sempet protes sewaktu gw bilang dia diet di postingan Freaky Donkey!, dia bilang “ Tolong diingat yaa saya tidak diet .___. Hahaha ” gw Cuma bisa ketawa dan ngeles waktu ngebales sms dia.

Sebelum protes, dia juga sempet sms “ Semua tentang cintanya isinya si jelek si jelek dan si jelek. Haha how precious she is:) siapa sih si jelek? ”


Yang dia ngga tau adalah, 2 tahun lalu, dia jadi orang yang nyaris sama kaya jelek, bukan dalam hal kemiripan atau apa, tapi dalam hal, orang yang berharga buat gw.
Seandainya dikasih kesempatan balik lagi ke 2 tahun yang lalu gw cuma mau bilang “ can you see how do I really love you? “


Tapi, itu dulu, 2 tahun yang lalu. Sekarang, gw dan dia udah biasa aja, dia udah punya orang yang berharga buat dia, dan gw? Dalam tahap adaptasi menemukan orang yang berharga lainnya, gw juga ga berharap filosofi dari 'loves come like surprise ice' ada lagi, cause i don't want it gone with surprisingly.... again!


A.F

P.S : es krimnya nanti ya, hhe. 3 kan?

23 Juni 2010

Dialog Absurd

Bukti keidiotan gw yang lain, gw harap jangan ditiru, haha.

Nama temen gw, gw samarkan aja jadi 'korban' kasian dia, kalau orang orang pada tau, kalau dia punya temen se idiot gw. Hahaha.

Korban : "Mi, cewe gw mau ultah, kira kira gw ngasih apa ya? Gw ngasih cincin apa kalung? Atau yang lain aja?"

Tersangka : "Hmm, cewe lo sukanya apa?"

Korban : "Ga tau, setengah tahun pacaran, gw ga tau apa yang dia suka, hahaha"

Tersangka : "Yang ga disuka? Emang yang keberapa?"

Korban : "Gw ga tau juga, haha. 17, apaan nih?"

Tersangka : "Keperjakaan lo, eh emang lo masih perjaka? Haha"

Korban : "*nj*ng, ngawur banget lo, males gw, hahaha. Masih lah, ha, eh tapi gw ga yakin juga sih, hahaha"

Tersangka : "Najis, self service yee, haha"

Korban : "Monyeeet, otak lo mesum banget, najis. Hahaha"

Tersangka : "Lo sendiri lagian, minta ama gw, udah tau gw gini, eh tapi bukan maksudnya gw cabul ya, hahaha."

Korban : "Iye nyeeet, jadi lo ga ada saran nih?"

Tersangka : "Tardulu, mikir dulu"

Korban : "Iyeee, cepet tapi"

Tersangka : "Gimana kalo lo ngasih 1set celana dalem aja? Terus di setiap CDnya, yang ditengahtengahnya itu lo sablon atau lo bikin gambar love gitu, warna lovenya merah jambu, biar imut gitu, terus lo kasih tulisan 'LOVE YOU ALWAYS' biar romantis, hehe"

Tersangka : "Jangan lupa lo tambahin tulisan 'handmade' haha, gimana keren?"

Korban : "Gila, brilian ide lo, B*NGS*T!

Setelah, selesai ngomong gitu, tibatiba ada sepatu yang melayang ke pala gw, dan ternyata itu adalah sepatu temen gw, haha. Jadi gw mohon, omongan gw yang tadi jangan ditiru ya. Hahaha.

21 April 2010

Amarah, senyum, dan airmata!

Banyaaaaak, banyaaaak, banyaaak sekali emosi yang udah keluar hari ini, oke emosii yang gw maksud ini bukan emosi marahmarah doang, tapi hampir keseluruhan, sedih, seneng, dan marah pastinya!

Gw marah, maraah, dengan penuh rasa kesal yang membuat dada gw sesak, banyak hal yang terlalu mengganggu dan bikin gw jadi ngerasa kesel sendiri, rasanya ingin ada yang gw keluarkan dari diri ini, gw perlu melampiaskan rasa kesal ini, ini terlalu membuat dada gw sesek! Adakah yang bersedia menjadi pelampiasannya? Hahaha.

Airmata, meski ini semua cuma kiasan, tapi yaa, banyak pengorbanan yang udah gw lakuin ke seseorang, tapi buat dia itu nyaris ga guna, sakit memang. Tapi apa daya, mungkin pada umur segini gw emang ga diharuskan mengenal cinta, terlalu dini sepertinya buat gw mengenal apa itu cinta yang sesungguhnya, haha. Udaahlah, cinta. Membuang waktu gw!

Sebuah senyuman, untuk melupakan betapa beratnya beban yang udah gw pikul, dimulai dari rasa marah yang menyesakan dada, sampe rasa kecewa yang mengiris hati. Hahaha.

Oh iya, gw abis dari perpisahan sekolah gw, yaah, aneh memang, belum ketauan lulus tapi udah perpisahan. Hahaha.
Ga nyangka yah, 3 tahun udah gw sekolah ditempat itu, ( menunjuk sambil malesmalesan. Haha) SMAN 5 Depok!

Yaah lumayan seru lah, bertemu para wanitawanita yang menggunakan kebaya dengan make up mereka yang gw bilang ehm, kurang pantes ehm. Heee. Terlalu menor. He.

Ok, lanjut lagi. Gw cukup merasakan tersentuh, pada saat prosesi pelepasan atribut sekolah. Damn! Menyentuh banget. He. Dan yang gw heranin tuh, kenapa ada ade kelas gw yang nyanyi lagu melayu ya? Hmm, padahal gw sempet isengiseng ngasih bunga ke dia, buat seruseruan aja. Haha, guru gw juga ada yang dangdutan. Aduuuh, dasar deh, gw sih cuma bisa cekakak cekikik ngeliatnya. Hehe.
Oh ya, sewaktu proses salamsalaman, gw cukup seneng dengan beberapa pesan yang disampaikan para guruguru, hmm, menurut gw, merekalah guruguru sejati. :) terima kasih pak dan bu. He. Proses selanjutnya adalah proses fotofoto, dimana diaula yang tidak terlalu besar itu, dipenuhi oleh kilatkilat cahaya dari blitz macamacam kamera, hehe. Annoying juga sih, bikin mata sakit soalnya. He. Gw lumayan banyak foto sama tementemen gw, dari 1 kamera, ke kamera yang lainnya. Hehe. Berasa artis lah, difotofotoin. Hahaha. Gw juga dapet beberapa pelukan besar dari beberapa temanteman yang baik hati:)

Nah, yang selanjutnya itu, acara terakhir, ga terakhir juga sih, nonton film dokumenter. Sempet ngadat juga sih, tapi untungnya bisa juga setelah lama menunggu sambil nyanyi bareng 1 angkatan. He.
Banyak tawa yang keluar, sewaktu kita nonton film. He. Gw juga ga nyangka, ketika ada seorang guru yang membuatkan angket khusus buat asep ( angkatan sepen nama yang dia bikin buat angkatan ke tujuh ini hehe) tau kah kalian? Tau? Ketika dia bilang " diangkatan ini juga ada yang rajin menghilang dari kelas, mereka punya jurus menghilang yang bagus, dan inilah namanya (sambil mengeluarkan sebuah kertas) dan lo tau, nama yang tertera siapa? Hazmi (gw), Imron, Mahardika, Darwin. Haha, gw cuma bisa nyengir ngeliat nama gw ada dijajaran orangorang yang sering cabut pelajaran. Haha, dan paling atas tentunya. Haha. Satu hal lagi yang memalukan buat gw adalah ketika, ada sebuah cuplikan dikelas gw yang ceritanya lagi pada nyanyinyanyi gitu, dan lo tau? Pose gw apa? Menggunakan baju seragam yang kancingngya terbuka, sehingga badan seksi gw keliatan. Haha, sambil nyanyi ga jelas tentunya. Hahaha, sumpah itu memalukan. Hehe. Itu juga diliat oleh ade ade kelas, dan shit, cap playboy koboy gw akan hilang. Hahaha.

Dan itu cukup menyenangkan, dan juga cukup menghibur disaatsaat emosi gw lagi campur aduk gini :(

Sampai bertemu dilain kesempetan yah temanteman, semoga kita menjadi seperti apa yang kita impikan :D hehe.
Saya akan merindukan, semua kebodohan, kekonyolan, kekompakan, dan juga perjuangan kita kawan. Sampai jumpa dan salam super. Hehe.