Tengah malam di sebuah rumah makan, terdapat dua orang muda mudi yang tengah serius membicarakan sesuatu.
Surti : kalau seandainya, kamu, aku kasih satu kesempatan untuk mengulang lagi semua yang udah kita jalanin gimana?
Tejo : (mengerenyitkan dahinya) hmm, gimana yah? Di satu sisi mungkin aku senang, karena sampai saat ini aku memang masih menyimpan semua.
Surti : (sedikit ragu) tapi melihat cara kamu berbicara tadi, aku belum benar benar yakin kalau kamu merasa senang.
Tejo : Nah itu dia (menghela nafas) kan tadi aku sudah bilang, kalau itu sisi yang satu. Tapi sisi yang lainnya, aku takut Sur, aku merasakan takut yang teramat. Aku takut untuk mengulang semua, meski aku memang menyimpan semua, tapi aku takut mengulangnya. Aku takut, hasil yang didapat nanti justru lebih buruk. Yaa, itu ekspektasi dari sisi ku yang lain. (menyulut rokok untuk menenangkan diri)
Surti : Ohh, jadi gitu. (terdiam sebentar) tapi kenapa sisi kamu yang satu lagi menginginkan hal itu?
Tejo : Itu adalah sisi dimana hatiku yang berbicara, hatiku yang menghampa ketika kamu pergi meninggalkanku, jadi kurasa wajar kalau dia berkata seperti itu.(menghisap rokok untuk menenangkan diri) sedangkan yang satu lagi, itu adalah logikaku, logikaku yang berpikir secara susah payah untuk melihat semua dari baik dan buruk.
Surti : lalu kenapa logikamu berpikir seperti itu Jo?
Tejo : Logika ku tentunya tak ingin melihat hatiku merasakan hancur lagi. Namun setelah logika dan hatiku di pertemukan. Aku mendapatkan sebuah kesimpulan untuk permasalahan ini. Aku tak ingin semua terulang untuk saat saat ini. Saat saat dimana kamu masih terlihat liar.
Surti : Liar jo? (mengerinyitkan dahi karena kebingungan) maksudmu apa? (bertanya dengan nada yang tinggi) Apakah aku terlihat seperti wanita wanita yang sering menjajakan kemolekan dan kenikmatan tubuh itu Jo?
Tejo : Bukan itu maksudku Sur, kamu tahu, kita semua masih terlihat liar saat ini. Kamu yang masih sering bepergian hingga larut dengan teman teman priamu, meski aku tahu mereka adalah sahabatmu. (mematikan rokok yang tidak terhisap di asbak) Lalu bukankah kau meninggalkanku karena keliaran ku? Maksudku, aku yang terlalu sering menghabiskan waktuku dengan wanita itu. Kau tahu kan wanita yang kumaksud itu?
Surti : Tentu saja aku tahu itu. oh jadi itu yang kau maksud tentang keliaran? Tapi kenapa kamu tak pernah berkomentar dengan keliaran ku itu? Bukankah aku selalu berkomentar dan memarahimu ketika kau terlalu menghabiskan waktumu dengan wanita itu.
Tejo : Ahh, aku tak mau berkomentar, karena menurutku itu semua telihat berlebihan Sur.(diam sesaat) Yang ku mau setelah ku memikirkan semua, adalah, kita bertemu lagi nanti, mungkin sekitar 10 tahun lagi.
Surti : Kenapa seperti itu Jo? Itu terlihat aneh bagiku. Apa yang kau mau dari ku 10 tahun lagi? (bertanya dengan ekspresi heran)
Tejo : Rasa sayangmu, kasihmu, Cintamu, atau mungkin yang lebih ironis, rasa ibamu. Aku berfikir, mungkin setelah 10 tahun kita berdua akan menjadi orang yang lebih baik, dan mungkin saja keliaran yang kita miliki telah berkurang. (berbicara dengan ekspresi datar)
Surti : Jadi itu yang kau mau? Apa kau bersungguh sungguh? Maksudku mungkin saja setelah 10 tahun, aku bukanlah orang yang sama lagi. Kau mengerti?
Tejo : Tentu saja aku mengerti, bukankah tadi sudah kubilang, kalau memang kau tak bisa memberiku rasa sayang, kasih, dan cinta, mungkin saja kau bisa memberiku rasa iba.
Surti : Ohh, tapi, seandainya kau sudah bersama wanita itu nantinya. Apa kau masih membutuhkan apa yang kau sebutkan tadi Jo? (bertanya dengan sedikit kesal)
Tejo : Kamu tahu Sur? (melihat mata Surti dengan dalam) Aku memang pernah merasakan gejolak cinta kepadanya, tapi aku terlalu takut untuk menjalani itu dengannya.
Surti : Kenapa kau takut Jo? Kenapa kau tidak bisa melakukan hal yang sama seperti waktu kau memberanikan dirimu untuk tetap mencintaiku?
Tejo : (meminum kopi yang sudah dingin) Entahlah Sur, kalian berdua berbeda, dan tentunya itu sangat berpengaruh terhadap apa yang kurasakan, dulu memang aku berani untuk tetap mencintaimu, tapi untuknya, aku merasakan takut untuk tetap mencintainya. Aku lebih baik memendam perasaan ini. Meski ku tahu, ini sangat menyiksa.
Surti : Jadi begitu, kamu tahu Jo? (menggenggam jemari Tejo dengan erat) Aku dulu sempat takut, waktu kau jujur padaku bahwa kau merasakan ada rasa cinta antara kau dan dia. Aku takut, kau akan segera meninggalkan ku dan mendatangi dia yang cintanya baru bersemi. Aku sungguh takut, meski itu tak terbukti, tapi cukup mengetahui kalau kau mempunyai rasa kepadanya sudah membuatku cemburu setengah mati. Dan bagiku, meninggalkanmu sebelum kau meninggalkanku nantinya akan lebih baik.
Tejo : Iya Sur, setelah berbulan bulan memikirkan itu, aku bisa tahu dengan sendirinya alasan mengapa kau meninggalkanku.
Surti : Maafkan aku Jo, (mengelap airmata yang hampir jatuh) karena mungkin telah membuatmu merasakan sakit yang teramat.
Tejo : Sudahlah Sur, itu semua sudah berlalu, berlalu jauh, hampir 1 setengah tahun yang lalu. (memegang pergelangan tangan Surti) Akupun sudah memaafkanmu tanpa kau harus meminta.
Surti : Terima kasih Jo, (melirik kearah jam tanggannya) mungkin sebaiknya kita pulang, sudah terlalu larut. Akupun tak enak dengan orang dirumah.
Tejo : Ya, aku juga harus beristirahat, banyak hal yang harus kulakukan besok. (melepaskan genggaman tangannya dari tangan Surti) Omong omong, apakah setelah malam ini kita masih bisa bertemu? Hanya untuk sekedar ngobrol dan menceritakan hidup masing masing. Tak ada maksud lain.
Surti : Aku tak yakin Jo. Aku merasa tak enak untuk terus terusan bertemu denganmu. Yasudahlah, hatihati di jalan Jo. (masuk kedalam mobilnya)
Tejo : Baiklah, kau juga Sur. (menyalakan sepeda motornya)
Keduanya pun pulang, Tejo hanya bisa melihat mobil Surti yang semakin menjauh dari pandangannya sewaktu mobil Surti berbelok menuju arah yang berbeda. Malam itu, Tejo sadar, dia memang masih menginginkan Surti. Dia belum bisa secara utuh melepaskan wanita itu. Masih ada harapan yang dipendam. Namun kini ada yang berbeda. Kini ia lebih takut untuk mencintai Surti.
*********
Gimana ? keren ga? Hahaha, sumpah, gw aja yang bikin keheranan kenapa gw bisa nulis kaya gini. Hhe.
Sepertinya gw cocok nih jadi penulis naskah sinetron sinetron yang lebay itu, haha. Ahh gila, gw bingung setengah mampus, kenapa gw bisa nulis kaya gini. Hahaha. (sepertinya bakat alami) tapi kayanya seru juga, mengasah kemampuan menulis gw.
Tapi gw harap nanti ceritanya ga gini gini doang, hehe. Tapi gw juga mau bikin bagian kedua dari cerita ini, jadi tunggu aja. Hihihi :D
Aduh ada yang salah nih di otak gw. Hehehe.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar