Tampilkan postingan dengan label Tejo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tejo. Tampilkan semua postingan

18 Desember 2011

Catatan Harian Tejo #3

Pagi itu, sekitar pukul tujuh.

Ditengah kesibukan, seperti biasa, pikiranku yang selalu difus, membuatku mengerjakan hal lain ditengah satu pekerjaan. Mengecek salah satu akun di situs jejaring sosial. Cek cek dan cek, tak ada yang baru dan menggemparkan, hanya baru yang biasa, permintaan teman, notifikasi yang tidak begitu penting, dan ah, ada yang janggal, kamu, tiba tiba saja muncul, dengan fotomu itu di layar buku catatan ku.

Namamu menjadi penarik perhatian diantara orang - orang lain yang berada di daftar orang - orang yang perlu ku ketahui. Lalu, instingku mengarahkan penunjuk ke arah namamu, mengkliknya, dan, klik, terbuka. Halaman profilmu muncul.

Aku ingat, kamu dulu pernah bilang tidak akan membuat akun di situs itu, " Gw males punya gitu gituan, ribet, lagipula pasti bakal jarang gw buka". Ucapmu waktu itu.

Ah itu memang tidak perlu dipermasalahkan, aku hanya berbicara.

Tapi satu hal yang pasti, pagi itu, aku tak mengarahkan penunjukku pada tab permintaan teman, karena, aku sudah menjadi temanmu, meski itu masih perlu dipertanyakan lagi atas masalah kita yang saat ini belum terjawab, entah kamu menganggap aku sebagai temanmu atau tidak.

Aku hanya memutar mutarkan penunjukku di halaman itu untuk beberapa menit lalu menutupnya sambil tersenyum.

Kamu berubah banyak setelah terakhir kali kita bertemu di sebuah kedai kopi, pada saat itu kamu masih terlihat seperti remaja belia, namun kali ini, terlihat lebih dewasa. Mungkin efek dari potongan rambutmu yang baru. Atau memang ternyata seperti itu? Setelah dua tahun, semua berubah, kamu dan keadaan disekitarmu, lalu apakah pertanyaan itu sudah dapat kamu jawab? Kalau belum juga tidak apa - apa, aku menunggu.

Kamu , bukanlah orang yang seharusnya aku tahu.

Tejo...

11 April 2011

Catatan Harian Tejo #2 "Memori"

Aku hanya bisa berbicara tentang memori ketika imajinasi yang kamu tuliskan. Memori tentang apa yang sudah kita lewatkan, baik bersama maupun tidak, tawa dan air mata, juga resah dan gundah. Bukan, bukannya aku tak bisa berkhayal, hanya saja ingatan tentangmu lebih banyak dan baik ketimbang segala fantasi yang kupunya. Dan aku sudah cukup senang ketika mengingatnya.

Adalah sebuah ekspektasi liar yang aku tak suka ketika aku mulai berimajinasi. Kamu tau? Ketika berimajinasi, pikiran kita bisa saja menjadi terlalu liar, semua hal bisa saja muncul di pikiranmu. Berbeda dengan memori, ia adalah sesuatu yang bisa dikendalikan, ia tak lagi liar karena terikat dengan masa lalu dan sejarah, sehingga ia tak akan berubah. Imajinasi, ia tak terikat, imajinasi merupakan sesuatu yang berhubungan dengan masa depan dan apa yang akan datang atau terjadi, tak ada satupun yang bisa memastikan. Itu mengapa ia bisa menjadi begitu liar dan tak terkendali. Namun, memori juga mempunyai kekurangan. Terlalu lama melihat ke belakang kadang kala membuat kita tak ingin melihat ke depan.

Ketika imajinasi dapat membuatmu bisa mencintaiku, maka memori yang membuatku melakukan hal yang sama dengan apa yang kamu lakukan. Memori mengingatkanku untuk lagi berbuat salah kepadamu, membuatku takut untuk kehilangan kamu untuk kedua kalinya, dan merasakan kamu ada di dekatku ketika hujan terus turun tanpa henti dan segelas susu tawar kehilangan hangatnya.

Imajinasi dan memori adalah dua hal yang berbeda. Tapi keduanya memiliki kesamaan bukan? Keduanya menciptakan kebahagiaan bagi masing - masing diri kita ketika berjauhan. Kamu dengan imajinasimu dan aku dengan memoriku. Masing - masing dari kita menciptakan kebahagiaan dengan segala yang kita mampu dan suka. Keduanyapun dapat menjadi satu, saling mengisi, dan menguatkan. Menciptakan sebuah kebahagiaan yang jauh lebih baik di atas yang mereka mampu perbuat ketika terpisah.

Sama halnya dengang Imajinasi dan memori, kita juga merupakan dua hal yang berbeda. Konon, kamu berasal dari Venus dan aku dari Mars. Tapi kita juga memiliki kesamaan, ada sebuah perasaan tak bernama yang membuat kita menjadi sama. Kemudian menjadi satu, saling mengisi, dan menguatkan, menciptakan kebahagiaan tersendiri yang jauh lebih baik bila dibandingkan dengan saat kita jauh dan terpisah. Sehingga bersama denganmu adalah sesuatu yang aku inginkan secara terus - menerus. Bersama dan bahagia.






Tejo..

21 Maret 2011

Catatan Harian Tejo #1

Setiap kali melihat hujan, yang terlintas di benakku adalah sosokmu yang kala itu ada bersama, menunggu hujan reda, dengan angan melayang jauh tentang masa depan kita, kamu dan aku. Sambil sibuk menyesap bau tanah yang basah, aku akan selalu memandang ke arah wajahmu, memperhatikan setiap detailnya, mencoba mencari suatu alasan mengapa aku tak bisa meninggalkanmu, mengapa kamu mau kembali menjadi rasa manis di setiap gelas susu hambar yang selalu ku konsumsi tiap harinya. Semuanya memang tak perlu dijawab, toh aku hanya bertanya kepada diriku sendiri,bukan kamu, atau yang lain.

Ada kalanya, aku benar benar merindukan sosokmu ada di sini, di sampingku ketika hujan datang, menghabiskan waktu melakukan hal hal aneh atau sekedar berbicara tanpa tujuan yang jelas. Tapi ya jelas saja itu tidak mungkin, kamu berada jauh di sana, ada jarak yang membuat kita terpisah dan sulit untuk dapat bertemu.

Aku tak pernah punya keberanian untuk terlebih dahulu mengucap rindu, meski sekedar mengirimimu pesan singkat dengan tulisan sesimpel “I miss you”. Aku bukan seorang yang pandai merangkai kata, ketika rindu, ya yang bisa kuucapkan rindu, ketika cinta ya cinta, meski nyatanya, aku tak bisa mengucapkannya kepada kamu, kamu yang mengumpamakan kehadiranku layaknya cappucino ice blended, entahlah itu minuman macam apa, yang biasa ku minum hanyalah segelas susu putih tanpa rasa.

Berbicara tentang rasa, rasa yang kurasa saat ini setelah kamu jauh. Rasa manis memang masih ada, namun, seperti ada yang hilang dari rasa manis itu, entahlah, aku tak bisa mengatakannya, ini bukanlah sesuatu yang bisa kuungkap lewat kata.

Sepertinya aku memang membutuhkanmu untuk selalu ada dekat denganku, melewati hari seperti saat kita dekat dan bersama dulu. Melengkapi rasa manis yang masih terrekam oleh memori di otakku.

Apakah kau juga merasakan hal yang sama sepertiku? Masihkah kau menganggapku layaknya cappucino ice blended? Rasanya ingin kembali bisa bersamamu, kembali bisa mereguk rasa manis dari masing masing diri kita, kamu kembali menikmati ice blended cappucino mu dan aku kembali menikmati segelas susu yang telah kau beri rasa manis.

Tejo

20 November 2010

Merindu itu... Hak.

" Sudah pukul 3 pagi dan aku masih belum bisa tertidur lagi setelah terbangun dari tidur sebelumnya ". Ucap Tejo ketika terdiam sambil memandangi layar laptopnya. ia lekas keluar dari kamarnya dan membuat segelas kopi hangat untuk menjaga tubuhnya tetap hangat di malam yang dingin.

Sambil memangdangi langit yang gelap diluar jendela ia merenung. Tak sadar, sudah 4 tahun sejak ia pergi meninggalkan kota kelahirannya untuk mencari lembaran lembaran kertas berwarna yang berharga. itu semua ia lakukan untuk membalas jasa orang tuanya yang telah susah payah membiayai hidupnya dari kecil hingga menyandang gelar sarjana. " Aku sudah tak bisa lagi bergantung pada mereka, untuk apa ijazah ini aku kejar ? " ucapnya dalam hati ketika menyalakan sebatang rokok.

Ketika sedang berlancar di dunia maya ia teringat akan sebuah surat elektronik yang menyambangi kotak masuk e-mailnya beberapa hari yang lalu. Disitu tertulis alamat pengirimnya, yansyani@yahoo.com, sebuah nama yang tentu saja ia hapal, itu adalah alamat email milik adiknya, Suryani.

Tertulis dalam surat itu tentang kerinduannya akan Tejo, tidak, bukan hanya dia, tapi seluruh orang rumah merindukan sosok Tejo. Kadang, memang tejo merasa terganggu dengan si adik yang terlalu sering mengirimkan surat tersebut ke e-mailnya. Namun apa daya, ia tak bisa berbuat apa, ingin melarangnya tidak mungkin, dia adalah adiknya, sungguh jahat rasanya bila melarang adiknya untuk mengungkapkan rasa rindu akan kehadiran sosok seorang kakak yang terbiasa membimbing dan membantunya.

Rasa terganggu itu sebenarnya bukan apa apa, Tejo hanya merasa terganggu karena setiap kali ia membaca surat surat berisi ungkapan rindu itu ia menjadi teringat akan rumah. Membuatnya rindu masa masa kecil yang ia habiskan bersama keluarganya, tertawa bersama ketika sedang berkumpul, bercanda dengan ibu yang ia cintai, berdiskusi ringan dengan ayahnya yang ia kagumi, dan bermain bersama adik adiknya. itu semua membuatnya ingin segera kembali kerumah, merasakan nyamannya rumah sendiri, merasakan tenangnya berada dekat dengan seorang ibu yang biasa ada setiap kali ia sedang gundah, merasakan aman ketika berada dekat sang ayah, dan merasa disayangi oleh adik adiknya.

Lalu ia berpikir, bukankah dulu ia juga melakukan hal yang serupa terhadap Surti dan Ngatiyem setiap kali ia merasakan rindu kepada dua perempuan cantik itu, meski tidak sesering yang dilakukan adiknya. " Apa, mereka juga merasa terganggu dengana apa yang aku lakukan ? " Ucapnya ketika menyadari hal tersebut. ia pun merasa malu terhadap dirinya sendiri, " seharusnya aku berkaca dulu sebelum memberi komentar terhadap ketampanan pria lain. " Ucapnya dalam hati.

Ia sadar, merindu itu adalah sebuah hak yang dimiliki setiap orang, jadi ia tak bisa berbuat apa apa, karena tentu saja ia tak ingin haknya itu diganggu, ia tak ingin ketika ia sedang merindu dilarang-larang. Tak ada yang salah ketika sedang merindukan seseorang, mungkin yang salah hanya bagaimana cara mengungkapkannya. Merindu itu baik dan sah sah saja selama cara mengungkapkannya juga baik. Karena merindu itu adalah hak, dan hak yang baik adalah hak yang dijalankan dengan wajar dan bertanggung jawab.

Adik dan orang tuanya tak salah merindukannya, mengkhawatirkannya, itu hak mereka sebagai keluarganya. " Seharusnya aku mengerti hal itu. kini yang ku mau hanya pulang dan segera bertemu dengan dan menghabiskan waktu bersama mereka." Ucap tejo sambil mematikan rokoknya di asbak, lalu iapun kembali ke kasurnya dan mencoba untuk tidur kembali.



Jadi, sudahkan kalian merindu hari ini ? Jika belum, merindulah.

04 September 2010

Surat Cinta Untuk Surti

Sur, apa kabar mu disana? Aku harap kamu baik baik saja Sur.

Mungkin telah terhitung 1 tahun sejak kepindahanku ke selatan, dan tentu saja sudah selama itu juga kita tak bertemu, aku akui, aku merindukanmu Sur. Apa kamu juga merindukanku? Atau jangan jangan, kamu bahkan sudah lupa terhadapku Sur? Aku harap tidak.

Aku memang merindukanmu Sur, aku rindu melihat senyummu, tawamu, dan segalanya tentang kamu. Tapi, bersyukurlah aku, karena kini, meski terpisah jarak, hanya dengan sebuah piranti yang tercipta dari kecanggihan teknologi ini, aku sudah bisa melihatmu. Melihatmu, dari sebuah kotak kecil ajaib berwarna hitam putih bernama televisi.

Aku, sungguh tak menyangka Sur, kau mau kembali lagi meneruskan keahlian dan bakatmu dalam bernyanyi, serta memperkenalkannya kepada khalayak luas Sur. Kini, kau sudah menjadi seorang penyanyi terkenal Sur. Banyak orang kini mengagumimu, begitupun aku. Namun, mungkin yang membedakan antara aku dan mereka hanyalah, aku sudah mengagumimu bahkan sebelum kau menajdi penyanyi terkenal seperti sekarang ini. Aku sudah mengagumimu diluar dari keahlianmu dalam bernyanyi, aku telah mengagumimu sebelum parfum dan segala macam aneka rias menghiasi tubuhmu. Aku ulangi sekali lagi, aku mengagumimu terlebih karena sesuatu yang tak pernah bisa kusebutkan itu apa, sesuatu yang selalu membuatku merasa jatuh. apa mungkin itu kecantikan hatimu Sur? Aku tak pernah tau.

Kini, setiap kali ada sebuah tayangan yang menghadirkanmu, aku akan duduk tenang di depan kotak ajaib itu Sur, duduk tenang, menghayati penampilanmu, mengimajinasikan kamu benar benar sedang berada di depanku, menyanyikanku sebuah lagu untukku. Aku tak perduli meskipun itu lagu kebangsaan atau bahkan lagu heavy metal sekalipun, aku akan tetap menikmati apa yang kamu suguhkan Sur. Aku serius. Aku akan menikmatinya, aku akan menikmati setiap gerakan yang dibuat mulutmu, setiap keteraturan nafasmu, setiap kali kamu memejamkan mata, setiap kali kamu bergaya, dan tentu saja setiap lantunan lirik bernada itu keluar dari mulutmu.

Dengan rasa rindu yang menggebu, aku terus berdoa agar secepatnya bisa bertemu dengan mu,aku juga berdoa agar kau senantiasa diberikan kesuksesan. semoga saja, apa yang aku tuliskan disini bisa membantuku mengungkapkan rasa rinduku padamu sur. semoga kamu bisa terus berkarya dan tetap baik baik saja.


Dengan hormat,




Tejo

15 Agustus 2010

Tejo dan Ngatiyem

Keesokan harinya, Tejo pergi ke rumah Ngatiyem.


Tejo : (mengetok pintu) Assalamualaikum.

Sugeng
: Wa’alaikumsalam. (membukakan pintu) eh mas Tejo, ada apa toh mas main kerumah? Ada perlu sama Mbak Ngatiyem?

Tejo : Eh, kamu Geng. Iya Geng, aku ada perlu sama Mbak mu. Ada dia?

Sugeng : Ada sih mas, (sedikit ragu) tapi sedang pergi untuk belanja makanan, mas mau nunggu atau gimana?

Tejo : Oh, aku tunggu saja, tak apa?

Sugeng : Gapapa lah, Mas ini kan kesini niatnya untuk bertamu, masa iya aku nda bolehin mas, (tertawa kecil). Silahkan masuk dan duduk Mas. Mau minum apa toh?

Tejo : Oh iya, makasih Geng, ah tak perlu repot repot kamu Geng, tapi sepertinya segelas air putih cocok menemani ku menunggu mbakmu Geng (tertawa)

Sugeng : Ah si Mas ini, suka malu malu saja, yasudah, aku ke dapur dulu, mengambil air.


Tak lama kemudian Ngatiyem pun datang.


Ngatiyem : (masuk kedalam rumah) Tejo! (terkejut)

Tejo : (menengok ke arah pintu) Yem, kamu sudah pulang toh?

Ngatiyem : Ada perlu apa kamu datang pagi pagi kesini?

Tejo : (berdiri) Aku ingin bertemu dengan mu Yem, maafkan aku tak memberi tahumu terlebih dahulu niatan untuk datang kesini. Apakah aku mengganggu mu?


Ngatiyem
: Oh, tidak apa. yasudah, tunggu sebentar, aku akan menaruh belanjaan dulu. (pergi kedapur)

Lalu Sugeng pun datang mengantarkan air putih yang dipesan oleh Tejo


Sugeng : (mendatangi ruang tamu dengan segelas air putih) Ini mas airnya, (menaruh segelas air putih di atas meja) sepertinya air ini tidak lagi dipakai untuk menunggu Mbakku, melainkan untuk menemani kalian ngobrol nanti (tertawa)

Tejo
: (tertawa) Bisa saja kamu Geng, yasudah, terima kasih atas airnya.

Sugeng
: Iya mas, yasudah aku masuk kedalam ya mas, ada tugas yang harus kuselesaikan.

Tejo : (meninum air yang berada di gelas) Baiklah kalau begitu (tersenyum)


Lalu Ngatiyem pun datang


Ngatiyem : Ada apa? tumben mau bertemu dengan ku sepagi ini?

Tejo : (diam sebentar) Sedang ada yang kupikirkan Yem, jadi ya kuputuskan untuk bertemu denganmu, mungkin saja kamu bisa membantu.

Ngatiyem
: Oh, memang apa yang sedang berada di pikiranmu?

Tejo : Ketika aku bangun tidur pagi tadi, tiba tiba saja aku teringat 1 setengah tahun yang lalu Yem. (memandang ngatiyem secara serius)

Ngatiyem : Memang ada apa waktu itu? (keheranan)

Tejo
: Apakah kamu sedang berpura pura tidak tahu? Atau memang kamu memang sudah lupa Yem? (bertanya dengan nada mengejek)

Ngatiyem : Maksudmu? (masih terlihat bingung)

Tejo : Aku minta maaf Yem, atas apa yang telah kulakukan dahulu. Aku memang jahat Yem (berbicara serius)

Ngatiyem : Oh, soal itu. (berbicara datar) Tapi bukankan semua sudah biasa saja. Maksudku, bukankah kau sudah minta maaf padaku lewat surat yang kau kirim waktu itu? Dan bukankah kita sudah sepakat untuk tak membahas hal itu lagi?

Tejo : Iya, aku tahu yem, tapi, bukankah baru kali ini aku meminta maaf kepadamu secara langsung? Lagipula, semenjak waktu itu, kita baru beberapa kali bertemu, dan itu juga kau sedang bersama teman temanmu, jadi aku tak pernah punya kesempatan untuk membicarakan hal ini denganmu secara langsung.

Ngatiyem : Oh iya.

Tejo : Jadi, kamu mau memaafkan ku Yem?

Ngatiyem : kamu tahu Jo? (berbicara dengan datar) Aku memang sudah memaafkanmu, tapi terkadang kemarahanku muncul setiap kali aku mengingatnya. Aku tak mengerti, lalu apa itu masih bisa dibilang memaafkan? Bukankah memaafkan itu berarti kita sudah tak mempermasalahkannya lagi. Sedangkan aku, kadang aku masih mempermasalahkan hal itu, meski aku tak pernah mengatakannya kepadamu.

Tejo : Kenapa kamu begitu Yem? (memasang wajah heran)

Ngatiyem : Aku tak ingin, semua jadi hancur lagi Jo. Kamu mengerti?

Tejo : Iya aku mengerti. Tapi dengan ku berbicara saat ini, apa kau menganggap aku sedang berusaha menghancurkan lagi?

Ngatiyem
: Entahlah Jo. (berbicara menunduk)

Tejo
: Yem, maafkan aku.

Ngatiyem
: Jo, perlu kamu tahu. (berbicara dengan serius) Mungkin memang aku yang salah, menyukaimu terlebih dahulu. Tapi aku tak tahu harus bertindak apa lagi. Aku sudah menyukaimu sejak pertama kali ku melihatmu, dan aku pikir mungkin itu jauh sebelum kau mengenal Surti. Dan sepertinya memang seperti itu, terdapat jangka waktu 6 bulan dari pertama kali ku menyukaimu, hingga kau jatuh cinta padanya.

Tejo : (terkejut) Apa kau sungguh sungguh Yem? Kalau dihitung hitung, bukankah kita belum saling mengenal waktu itu, tapi aku akui, kita memang sering bertemu, dan aku sudah tahu namamu waktu itu.

Ngatiyem : Aku sungguh sungguh Jo. Tahu nama ku? Darimana? Bukankah baru 3 bulan sebelum kau jatuh cinta dengannya kita baru saling kenal?

Tejo : (tertawa)

Ngatiyem : (heran) Ada apa Jo? Mengapa kau tertawa? Adakah yang lucu dari apa yang sedang ku bicarakan?

Tejo : Tidak, hanya saja, kau terlihat sepertiku, maksudku, kau mengingat semua secara detail. Kau mengerti kan? Akupun sering begitu, mengingat apapun secara detail, (tertawa kecil)

Ngatiyem : Hah? Serius kamu jo? Aku bahkan tak sadar kalau bertindak seperti itu. (menunduk malu dan tertawa kecil)

Tejo : Sudahlah, tak apa. oh iya, sampai mana tadi kita berbicara?

Ngatiyem : Ah sial, (merasa sedikit kesal) aku lupa Jo, ketika kau tertawa tadi, tiba tiba saja semuanya buyar.

Tejo : Ah sudah, tak apa. Kau terlihat lucu tadi Yem, aku serius.(tiba tiba melihat Ngatiyem dengan serius)

Ngatiyem : (diam sejenak) Seperti biasa, kau selalu menggombal Jo. (tertawa malu)

Tejo : Aku serius Yem, tak menggombal.

Ngatiyem : Keahlianmu yang ke 2 Jo, mengelak setiap kali aku mengatakan kau sedang menggombali ku. (tertawa). Pantas saja banyak wanita yang menyukaimu Jo. (tertawa)

Tejo : Termasuk kamu Yem? (tertawa)

Ngatiyem : (diam sejenak) Kamu ini Jo, bisa saja membuatku tidak bisa membalas apa yang kau katakan. (tertawa kecil)

Tejo : (Tertawa) Kamu yang bisa saja.

Ngatiyem : Kenapa aku? Hmm, kudengar kau kemarin baru saja bertemu dengan Surti (berbicara sinis) apa yang kalian lakukan kemarin?

Tejo : Darimana kamu tahu yem? (bertanya keheranan) Iyaa, aku memang bertemu dengannya, dan aku hanya mengobrol dengannya, tak lebih. Kenapa? Apa kamu cemburu yem? (bertanya dengan nada mengejek)

Ngatiyem : Yaa, sebagai wanita, mungkin itu memang naluriku jo, merasakan cemburu, dan apakah itu salah Jo? (menanggapinya dengan serius)

Tejo : Hmm, tidak, aku hanya bertanya. (meminum air yang tidak terminum di de depannya)

Ngatiyem : Lalu, apa saja yang kalian bicarakan? Bolehkah aku tahu?

Tejo
: Oh, tidak, kami hanya berbicara tentang sesuatu yang lalu, mungkin tidak terlalu penting.(berbicara datar)

Ngatiyem : (berbicara datar) Aku rasa, justru karena kau dan dia membicarakan sesuatu tentang masa lalu, itu menjadi penting bagiku. Jatuh cinta lagi kah kau dengannya?

Tejo : Tidak Yem, dia hanya memberikan ku sebuah penjelasan mengapa ia meninggalkanku waktu itu. (menanggapi dengan sedikit serius)

Ngatiyem : Ohh, waktu kau kehilangan selara hidupmu? (berbicara sinis)

Tejo : Iya yem, tapi itu dulu. Sekarang selera hidupku sudah kembali.

Ngatiyem : Hmm, Jo kamu tahu? (melihat kea rah Tejo) Aku juga pernah merasakan kehilangan, dan itu kehilanganmu.

Tejo : Maksudmu? (memasang muka heran)

Ngatiyem : (berbicara serius) Setelah mengetahui kalau kau dan surti sudah ada apa apa, aku merasa kehilangan dirimu jo. Aku merasa kehilangan kau yang dulu sering mengahabisakan waktu bersama ku. Mengapa kau harus merahasiakan Surti dari ku Jo. Seharusnya kau memberi tahuku tentangnya lebih awal, agar aku bisa membuang jauh harapanku kepadamu.

Tejo : Tapi, bukankah, dulu kau sempat bersama Budi?

Ngatiyem : Iya aku tahu, tapi tetap saja, kau selalu mengganggu, meski pada kenyataannya kau tidak benar benar mengganggu.

Tejo : Jadi begitu, maafkan aku yem. Aku selalu saja berbuat salah.

Ngatiyem
: Sudahlah Jo, bukan salahmu. (berbicara dengan tegas) Bukankah aku sudah mengatakannya tadi?

Tejo : Kamu tau Yem? (melihat ke arah Ngatiyem) Aku juga sempat merasa kehilanganmu. Tentunya waktu kau menghilang begitu saja dari hidupku. Tapi mungkin ini memang menyakitkan, maksudku, aku sudah kehilangan satu, dan bagiku itu sudah cukup. Sampai akhirnya aku harus kehilanganmu juga. Maafkan aku, mungkin ini terlihat egois bagimu.

Ngatiyem : Sudahlah, (melihat ke arah Tejo) tak apa. naluri manusia. Egois. Akupun begitu Jo.

Tejo : Yem, sekali lagi, aku meminta maaf kepadamu.(melihat ke arah Ngatiyem)

Ngatiyem : Ini berat Jo, selama aku belum bisa melupakan itu, berarti aku belum secara ikhlas memaafkanmu. Tapi aku akan berusaha Jo. Jadi berhentilah meminta maaf padaku. (berbicara secara tegas)

Tejo
: Baiklah kalau itu mau mu Yem.(tertunduk)

Ngatiyem
: Iya Jo. Aku mohon pengertian darimu. (mengecek ponselnya) Oh iya, aku harus bergegas. Aku ada janji dengan teman ku. Tak apakah jika obrolan ini harus diakhiri?

Tejo : Oh, tak apa Yem. Aku juga tak mau terlalu mengganggumu. Yasudah aku pamit yem. Sampaikan salam ku untuk Sugeng. Assalamualaikum. (meninggalkan rumah)

Ngatiyem : Wa’ alaikumsalam, iya, hati-hati lah kau dijalan Jo.


Kini, Tejo, sedikit merasakan lega, karena beberapa beban yang selama ini menggantung di tubuhnya telah menghilang. Seiring pengakuannya kepada Ngatiyem, pengakuannya tentang dia yang juga memiliki perasaan yang sama terhadap apa yang Ngatiyem rasakan, tentang dia yang merasakan kehilangan ketika Ngatiyem menghilang begitu saja dari hidupnya.

**********************************************************************************

Kisah lanjutan dari Surti VS Tejo, dipesen sama temen gw buat diposting disini, mungkin yang ini lebih dangdut, jadi maklum gw kan emang dangdut. haha.

24 Juli 2010

Surti VS Tejo

Tengah malam di sebuah rumah makan, terdapat dua orang muda mudi yang tengah serius membicarakan sesuatu.

Surti : kalau seandainya, kamu, aku kasih satu kesempatan untuk mengulang lagi semua yang udah kita jalanin gimana?

Tejo : (mengerenyitkan dahinya) hmm, gimana yah? Di satu sisi mungkin aku senang, karena sampai saat ini aku memang masih menyimpan semua.

Surti : (sedikit ragu) tapi melihat cara kamu berbicara tadi, aku belum benar benar yakin kalau kamu merasa senang.

Tejo : Nah itu dia (menghela nafas) kan tadi aku sudah bilang, kalau itu sisi yang satu. Tapi sisi yang lainnya, aku takut Sur, aku merasakan takut yang teramat. Aku takut untuk mengulang semua, meski aku memang menyimpan semua, tapi aku takut mengulangnya. Aku takut, hasil yang didapat nanti justru lebih buruk. Yaa, itu ekspektasi dari sisi ku yang lain. (menyulut rokok untuk menenangkan diri)

Surti : Ohh, jadi gitu. (terdiam sebentar) tapi kenapa sisi kamu yang satu lagi menginginkan hal itu?

Tejo : Itu adalah sisi dimana hatiku yang berbicara, hatiku yang menghampa ketika kamu pergi meninggalkanku, jadi kurasa wajar kalau dia berkata seperti itu.(menghisap rokok untuk menenangkan diri) sedangkan yang satu lagi, itu adalah logikaku, logikaku yang berpikir secara susah payah untuk melihat semua dari baik dan buruk.

Surti : lalu kenapa logikamu berpikir seperti itu Jo?

Tejo : Logika ku tentunya tak ingin melihat hatiku merasakan hancur lagi. Namun setelah logika dan hatiku di pertemukan. Aku mendapatkan sebuah kesimpulan untuk permasalahan ini. Aku tak ingin semua terulang untuk saat saat ini. Saat saat dimana kamu masih terlihat liar.

Surti : Liar jo? (mengerinyitkan dahi karena kebingungan) maksudmu apa? (bertanya dengan nada yang tinggi) Apakah aku terlihat seperti wanita wanita yang sering menjajakan kemolekan dan kenikmatan tubuh itu Jo?

Tejo : Bukan itu maksudku Sur, kamu tahu, kita semua masih terlihat liar saat ini. Kamu yang masih sering bepergian hingga larut dengan teman teman priamu, meski aku tahu mereka adalah sahabatmu. (mematikan rokok yang tidak terhisap di asbak) Lalu bukankah kau meninggalkanku karena keliaran ku? Maksudku, aku yang terlalu sering menghabiskan waktuku dengan wanita itu. Kau tahu kan wanita yang kumaksud itu?

Surti : Tentu saja aku tahu itu. oh jadi itu yang kau maksud tentang keliaran? Tapi kenapa kamu tak pernah berkomentar dengan keliaran ku itu? Bukankah aku selalu berkomentar dan memarahimu ketika kau terlalu menghabiskan waktumu dengan wanita itu.

Tejo : Ahh, aku tak mau berkomentar, karena menurutku itu semua telihat berlebihan Sur.(diam sesaat) Yang ku mau setelah ku memikirkan semua, adalah, kita bertemu lagi nanti, mungkin sekitar 10 tahun lagi.

Surti : Kenapa seperti itu Jo? Itu terlihat aneh bagiku. Apa yang kau mau dari ku 10 tahun lagi? (bertanya dengan ekspresi heran)

Tejo : Rasa sayangmu, kasihmu, Cintamu, atau mungkin yang lebih ironis, rasa ibamu. Aku berfikir, mungkin setelah 10 tahun kita berdua akan menjadi orang yang lebih baik, dan mungkin saja keliaran yang kita miliki telah berkurang. (berbicara dengan ekspresi datar)

Surti : Jadi itu yang kau mau? Apa kau bersungguh sungguh? Maksudku mungkin saja setelah 10 tahun, aku bukanlah orang yang sama lagi. Kau mengerti?

Tejo : Tentu saja aku mengerti, bukankah tadi sudah kubilang, kalau memang kau tak bisa memberiku rasa sayang, kasih, dan cinta, mungkin saja kau bisa memberiku rasa iba.

Surti : Ohh, tapi, seandainya kau sudah bersama wanita itu nantinya. Apa kau masih membutuhkan apa yang kau sebutkan tadi Jo? (bertanya dengan sedikit kesal)

Tejo : Kamu tahu Sur? (melihat mata Surti dengan dalam) Aku memang pernah merasakan gejolak cinta kepadanya, tapi aku terlalu takut untuk menjalani itu dengannya.

Surti : Kenapa kau takut Jo? Kenapa kau tidak bisa melakukan hal yang sama seperti waktu kau memberanikan dirimu untuk tetap mencintaiku?

Tejo : (meminum kopi yang sudah dingin) Entahlah Sur, kalian berdua berbeda, dan tentunya itu sangat berpengaruh terhadap apa yang kurasakan, dulu memang aku berani untuk tetap mencintaimu, tapi untuknya, aku merasakan takut untuk tetap mencintainya. Aku lebih baik memendam perasaan ini. Meski ku tahu, ini sangat menyiksa.

Surti : Jadi begitu, kamu tahu Jo? (menggenggam jemari Tejo dengan erat) Aku dulu sempat takut, waktu kau jujur padaku bahwa kau merasakan ada rasa cinta antara kau dan dia. Aku takut, kau akan segera meninggalkan ku dan mendatangi dia yang cintanya baru bersemi. Aku sungguh takut, meski itu tak terbukti, tapi cukup mengetahui kalau kau mempunyai rasa kepadanya sudah membuatku cemburu setengah mati. Dan bagiku, meninggalkanmu sebelum kau meninggalkanku nantinya akan lebih baik.

Tejo : Iya Sur, setelah berbulan bulan memikirkan itu, aku bisa tahu dengan sendirinya alasan mengapa kau meninggalkanku.

Surti : Maafkan aku Jo, (mengelap airmata yang hampir jatuh) karena mungkin telah membuatmu merasakan sakit yang teramat.

Tejo : Sudahlah Sur, itu semua sudah berlalu, berlalu jauh, hampir 1 setengah tahun yang lalu. (memegang pergelangan tangan Surti) Akupun sudah memaafkanmu tanpa kau harus meminta.

Surti : Terima kasih Jo, (melirik kearah jam tanggannya) mungkin sebaiknya kita pulang, sudah terlalu larut. Akupun tak enak dengan orang dirumah.

Tejo : Ya, aku juga harus beristirahat, banyak hal yang harus kulakukan besok. (melepaskan genggaman tangannya dari tangan Surti) Omong omong, apakah setelah malam ini kita masih bisa bertemu? Hanya untuk sekedar ngobrol dan menceritakan hidup masing masing. Tak ada maksud lain.

Surti : Aku tak yakin Jo. Aku merasa tak enak untuk terus terusan bertemu denganmu. Yasudahlah, hatihati di jalan Jo. (masuk kedalam mobilnya)

Tejo : Baiklah, kau juga Sur. (menyalakan sepeda motornya)

Keduanya pun pulang, Tejo hanya bisa melihat mobil Surti yang semakin menjauh dari pandangannya sewaktu mobil Surti berbelok menuju arah yang berbeda. Malam itu, Tejo sadar, dia memang masih menginginkan Surti. Dia belum bisa secara utuh melepaskan wanita itu. Masih ada harapan yang dipendam. Namun kini ada yang berbeda. Kini ia lebih takut untuk mencintai Surti.

*********

Gimana ? keren ga? Hahaha, sumpah, gw aja yang bikin keheranan kenapa gw bisa nulis kaya gini. Hhe.

Sepertinya gw cocok nih jadi penulis naskah sinetron sinetron yang lebay itu, haha. Ahh gila, gw bingung setengah mampus, kenapa gw bisa nulis kaya gini. Hahaha. (sepertinya bakat alami) tapi kayanya seru juga, mengasah kemampuan menulis gw.
Tapi gw harap nanti ceritanya ga gini gini doang, hehe. Tapi gw juga mau bikin bagian kedua dari cerita ini, jadi tunggu aja. Hihihi :D

Aduh ada yang salah nih di otak gw. Hehehe.