Keesokan harinya, Tejo pergi ke rumah Ngatiyem.
Tejo : (mengetok pintu) Assalamualaikum.
Sugeng : Wa’alaikumsalam. (membukakan pintu) eh mas Tejo, ada apa toh mas main kerumah? Ada perlu sama Mbak Ngatiyem?
Tejo : Eh, kamu Geng. Iya Geng, aku ada perlu sama Mbak mu. Ada dia?
Sugeng : Ada sih mas, (sedikit ragu) tapi sedang pergi untuk belanja makanan, mas mau nunggu atau gimana?
Tejo : Oh, aku tunggu saja, tak apa?
Sugeng : Gapapa lah, Mas ini kan kesini niatnya untuk bertamu, masa iya aku nda bolehin mas, (tertawa kecil). Silahkan masuk dan duduk Mas. Mau minum apa toh?
Tejo : Oh iya, makasih Geng, ah tak perlu repot repot kamu Geng, tapi sepertinya segelas air putih cocok menemani ku menunggu mbakmu Geng (tertawa)
Sugeng : Ah si Mas ini, suka malu malu saja, yasudah, aku ke dapur dulu, mengambil air.
Tak lama kemudian Ngatiyem pun datang.
Ngatiyem : (masuk kedalam rumah) Tejo! (terkejut)
Tejo : (menengok ke arah pintu) Yem, kamu sudah pulang toh?
Ngatiyem : Ada perlu apa kamu datang pagi pagi kesini?
Tejo : (berdiri) Aku ingin bertemu dengan mu Yem, maafkan aku tak memberi tahumu terlebih dahulu niatan untuk datang kesini. Apakah aku mengganggu mu?
Ngatiyem : Oh, tidak apa. yasudah, tunggu sebentar, aku akan menaruh belanjaan dulu. (pergi kedapur)
Lalu Sugeng pun datang mengantarkan air putih yang dipesan oleh Tejo
Sugeng : (mendatangi ruang tamu dengan segelas air putih) Ini mas airnya, (menaruh segelas air putih di atas meja) sepertinya air ini tidak lagi dipakai untuk menunggu Mbakku, melainkan untuk menemani kalian ngobrol nanti (tertawa)
Tejo : (tertawa) Bisa saja kamu Geng, yasudah, terima kasih atas airnya.
Sugeng : Iya mas, yasudah aku masuk kedalam ya mas, ada tugas yang harus kuselesaikan.
Tejo : (meninum air yang berada di gelas) Baiklah kalau begitu (tersenyum)
Lalu Ngatiyem pun datang
Ngatiyem : Ada apa? tumben mau bertemu dengan ku sepagi ini?
Tejo : (diam sebentar) Sedang ada yang kupikirkan Yem, jadi ya kuputuskan untuk bertemu denganmu, mungkin saja kamu bisa membantu.
Ngatiyem : Oh, memang apa yang sedang berada di pikiranmu?
Tejo : Ketika aku bangun tidur pagi tadi, tiba tiba saja aku teringat 1 setengah tahun yang lalu Yem. (memandang ngatiyem secara serius)
Ngatiyem : Memang ada apa waktu itu? (keheranan)
Tejo : Apakah kamu sedang berpura pura tidak tahu? Atau memang kamu memang sudah lupa Yem? (bertanya dengan nada mengejek)
Ngatiyem : Maksudmu? (masih terlihat bingung)
Tejo : Aku minta maaf Yem, atas apa yang telah kulakukan dahulu. Aku memang jahat Yem (berbicara serius)
Ngatiyem : Oh, soal itu. (berbicara datar) Tapi bukankan semua sudah biasa saja. Maksudku, bukankah kau sudah minta maaf padaku lewat surat yang kau kirim waktu itu? Dan bukankah kita sudah sepakat untuk tak membahas hal itu lagi?
Tejo : Iya, aku tahu yem, tapi, bukankah baru kali ini aku meminta maaf kepadamu secara langsung? Lagipula, semenjak waktu itu, kita baru beberapa kali bertemu, dan itu juga kau sedang bersama teman temanmu, jadi aku tak pernah punya kesempatan untuk membicarakan hal ini denganmu secara langsung.
Ngatiyem : Oh iya.
Tejo : Jadi, kamu mau memaafkan ku Yem?
Ngatiyem : kamu tahu Jo? (berbicara dengan datar) Aku memang sudah memaafkanmu, tapi terkadang kemarahanku muncul setiap kali aku mengingatnya. Aku tak mengerti, lalu apa itu masih bisa dibilang memaafkan? Bukankah memaafkan itu berarti kita sudah tak mempermasalahkannya lagi. Sedangkan aku, kadang aku masih mempermasalahkan hal itu, meski aku tak pernah mengatakannya kepadamu.
Tejo : Kenapa kamu begitu Yem? (memasang wajah heran)
Ngatiyem : Aku tak ingin, semua jadi hancur lagi Jo. Kamu mengerti?
Tejo : Iya aku mengerti. Tapi dengan ku berbicara saat ini, apa kau menganggap aku sedang berusaha menghancurkan lagi?
Ngatiyem : Entahlah Jo. (berbicara menunduk)
Tejo : Yem, maafkan aku.
Ngatiyem : Jo, perlu kamu tahu. (berbicara dengan serius) Mungkin memang aku yang salah, menyukaimu terlebih dahulu. Tapi aku tak tahu harus bertindak apa lagi. Aku sudah menyukaimu sejak pertama kali ku melihatmu, dan aku pikir mungkin itu jauh sebelum kau mengenal Surti. Dan sepertinya memang seperti itu, terdapat jangka waktu 6 bulan dari pertama kali ku menyukaimu, hingga kau jatuh cinta padanya.
Tejo : (terkejut) Apa kau sungguh sungguh Yem? Kalau dihitung hitung, bukankah kita belum saling mengenal waktu itu, tapi aku akui, kita memang sering bertemu, dan aku sudah tahu namamu waktu itu.
Ngatiyem : Aku sungguh sungguh Jo. Tahu nama ku? Darimana? Bukankah baru 3 bulan sebelum kau jatuh cinta dengannya kita baru saling kenal?
Tejo : (tertawa)
Ngatiyem : (heran) Ada apa Jo? Mengapa kau tertawa? Adakah yang lucu dari apa yang sedang ku bicarakan?
Tejo : Tidak, hanya saja, kau terlihat sepertiku, maksudku, kau mengingat semua secara detail. Kau mengerti kan? Akupun sering begitu, mengingat apapun secara detail, (tertawa kecil)
Ngatiyem : Hah? Serius kamu jo? Aku bahkan tak sadar kalau bertindak seperti itu. (menunduk malu dan tertawa kecil)
Tejo : Sudahlah, tak apa. oh iya, sampai mana tadi kita berbicara?
Ngatiyem : Ah sial, (merasa sedikit kesal) aku lupa Jo, ketika kau tertawa tadi, tiba tiba saja semuanya buyar.
Tejo : Ah sudah, tak apa. Kau terlihat lucu tadi Yem, aku serius.(tiba tiba melihat Ngatiyem dengan serius)
Ngatiyem : (diam sejenak) Seperti biasa, kau selalu menggombal Jo. (tertawa malu)
Tejo : Aku serius Yem, tak menggombal.
Ngatiyem : Keahlianmu yang ke 2 Jo, mengelak setiap kali aku mengatakan kau sedang menggombali ku. (tertawa). Pantas saja banyak wanita yang menyukaimu Jo. (tertawa)
Tejo : Termasuk kamu Yem? (tertawa)
Ngatiyem : (diam sejenak) Kamu ini Jo, bisa saja membuatku tidak bisa membalas apa yang kau katakan. (tertawa kecil)
Tejo : (Tertawa) Kamu yang bisa saja.
Ngatiyem : Kenapa aku? Hmm, kudengar kau kemarin baru saja bertemu dengan Surti (berbicara sinis) apa yang kalian lakukan kemarin?
Tejo : Darimana kamu tahu yem? (bertanya keheranan) Iyaa, aku memang bertemu dengannya, dan aku hanya mengobrol dengannya, tak lebih. Kenapa? Apa kamu cemburu yem? (bertanya dengan nada mengejek)
Ngatiyem : Yaa, sebagai wanita, mungkin itu memang naluriku jo, merasakan cemburu, dan apakah itu salah Jo? (menanggapinya dengan serius)
Tejo : Hmm, tidak, aku hanya bertanya. (meminum air yang tidak terminum di de depannya)
Ngatiyem : Lalu, apa saja yang kalian bicarakan? Bolehkah aku tahu?
Tejo : Oh, tidak, kami hanya berbicara tentang sesuatu yang lalu, mungkin tidak terlalu penting.(berbicara datar)
Ngatiyem : (berbicara datar) Aku rasa, justru karena kau dan dia membicarakan sesuatu tentang masa lalu, itu menjadi penting bagiku. Jatuh cinta lagi kah kau dengannya?
Tejo : Tidak Yem, dia hanya memberikan ku sebuah penjelasan mengapa ia meninggalkanku waktu itu. (menanggapi dengan sedikit serius)
Ngatiyem : Ohh, waktu kau kehilangan selara hidupmu? (berbicara sinis)
Tejo : Iya yem, tapi itu dulu. Sekarang selera hidupku sudah kembali.
Ngatiyem : Hmm, Jo kamu tahu? (melihat kea rah Tejo) Aku juga pernah merasakan kehilangan, dan itu kehilanganmu.
Tejo : Maksudmu? (memasang muka heran)
Ngatiyem : (berbicara serius) Setelah mengetahui kalau kau dan surti sudah ada apa apa, aku merasa kehilangan dirimu jo. Aku merasa kehilangan kau yang dulu sering mengahabisakan waktu bersama ku. Mengapa kau harus merahasiakan Surti dari ku Jo. Seharusnya kau memberi tahuku tentangnya lebih awal, agar aku bisa membuang jauh harapanku kepadamu.
Tejo : Tapi, bukankah, dulu kau sempat bersama Budi?
Ngatiyem : Iya aku tahu, tapi tetap saja, kau selalu mengganggu, meski pada kenyataannya kau tidak benar benar mengganggu.
Tejo : Jadi begitu, maafkan aku yem. Aku selalu saja berbuat salah.
Ngatiyem : Sudahlah Jo, bukan salahmu. (berbicara dengan tegas) Bukankah aku sudah mengatakannya tadi?
Tejo : Kamu tau Yem? (melihat ke arah Ngatiyem) Aku juga sempat merasa kehilanganmu. Tentunya waktu kau menghilang begitu saja dari hidupku. Tapi mungkin ini memang menyakitkan, maksudku, aku sudah kehilangan satu, dan bagiku itu sudah cukup. Sampai akhirnya aku harus kehilanganmu juga. Maafkan aku, mungkin ini terlihat egois bagimu.
Ngatiyem : Sudahlah, (melihat ke arah Tejo) tak apa. naluri manusia. Egois. Akupun begitu Jo.
Tejo : Yem, sekali lagi, aku meminta maaf kepadamu.(melihat ke arah Ngatiyem)
Ngatiyem : Ini berat Jo, selama aku belum bisa melupakan itu, berarti aku belum secara ikhlas memaafkanmu. Tapi aku akan berusaha Jo. Jadi berhentilah meminta maaf padaku. (berbicara secara tegas)
Tejo : Baiklah kalau itu mau mu Yem.(tertunduk)
Ngatiyem : Iya Jo. Aku mohon pengertian darimu. (mengecek ponselnya) Oh iya, aku harus bergegas. Aku ada janji dengan teman ku. Tak apakah jika obrolan ini harus diakhiri?
Tejo : Oh, tak apa Yem. Aku juga tak mau terlalu mengganggumu. Yasudah aku pamit yem. Sampaikan salam ku untuk Sugeng. Assalamualaikum. (meninggalkan rumah)
Ngatiyem : Wa’ alaikumsalam, iya, hati-hati lah kau dijalan Jo.
Kini, Tejo, sedikit merasakan lega, karena beberapa beban yang selama ini menggantung di tubuhnya telah menghilang. Seiring pengakuannya kepada Ngatiyem, pengakuannya tentang dia yang juga memiliki perasaan yang sama terhadap apa yang Ngatiyem rasakan, tentang dia yang merasakan kehilangan ketika Ngatiyem menghilang begitu saja dari hidupnya.
**********************************************************************************
Kisah lanjutan dari Surti VS Tejo, dipesen sama temen gw buat diposting disini, mungkin yang ini lebih dangdut, jadi maklum gw kan emang dangdut. haha.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar