Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan

05 Desember 2014

Kekacauan lainnya

Setengah tiga pagi, menunggu salinan data yang nggak selesai selesai.

Kamis kemarin seharusnya gue ikutan wisuda, cuma sayangnya memang gue kurang beruntung. Jadi dateng aja nggak, apalagi diwisuda. 

Beberapa bulan terakhir ini memang jadwalnya cukup padet, dari mulai ngurus produksi video profil, bulak-balik tuban setiap akhir minggu buat ambil gambar, sampe ngecekin ribuan foto 1 abad yang lalu. Gue bener bener ga punya waktu untuk ngurus skripsi gue.

Setelah ditinggal editor yang bikin gue bingung harus apa, sekarang gue bener bener ga bisa buat bagi waktu ngerjain skripsi.

Masalahnya memang akan mudah kalau karya gue ada yang ngeditin, sayangnya editor gak ada, animator gue juga lagi pada sibuk sama kuliahnya, alhasil semua beban kembali lagi ke gue, ketambahan tanggungan kerjaan. Haaaaa, mati aja gue dimakan gorila.

Yaa, ngeluh sesekali mah gapapa ya hehehe.

Awal bulan November kemarin sih gue niatnya memang aka  fokus ke skripsi, tapi ternyata ga bisa, padahal gue udah nolak tawaran kerjaan yang dikasih, sayangnya, posisi itu terlalu riskan untuk dipercayakan ke orang lain, alhasil, mau ga mau tetep gue yang ngurus. Tapi ya tak apalah, heuheu, salah sendiri.

Ini sudah Desember, dosen pembimbing gue udaj berkali kali nyariin gue, dan semoga saja semua urusan ini cepat selesai. Amiin.

Mari kita sudahkan cerita tak penting ini disini.

04 Maret 2014

Ekspedisi Serodja #3 Rinjani 3726 MDPL

Ini sebuah catatan perjalanan yang saya buat sewaktu melakukan pendakian ke Gn. Rinjani, kalau tidak salah, itu sekitar 2 tahun yang lalu, saya sedikit lupa. Baru saja saya temukan lagi file tulisan tersebut, hehe.

RINJANI 3726 MDPL

Minggu, 11 November 2012 – Senin 12 November

Setelah melewati proses pendakian ekspedisi serodja I dan II, akhirnya pagi itu, kami, saya, Mbahne, Jamal, beserta Kang Untung berangkat menuju stasiun ketapang, banyuwangi, jawa timur, untuk kemudian melanjutkan perjalanan sampai ke Gunung Rinjani di Pulau Lombok. Setelah sebelumnya diantar kawan – kawan Bumipala MMTC ke stasiun Lempuyangan. Saya, Mbahne dan juga Jamal merupakan perwakilan dari Bumipala MMTC untuk menyelesaikan Ekspedisi Serodja yang bertempat di Gunung Rinjani. Ekspedisi kali ini juga memiliki misi untuk menghasilkan satu dokumenter perjalanan, selain membawa bendera Bumipala ke puncak gunung tertinggi ke-3 di Indonesia. Kang Untung sendiri merupakan salah satu kawan kami yang merupakan anggota dari Hijau Mapala.  Seharian kami menghabiskan waktu di dalam kereta menuju Banyuwangi.
Kami baru tiba di Banyuwangi sekitar pukul 11 malam, langsung melanjutkan perjalanan ke Pelabuhan Gilimanuk dengan berjalan kaki, mengingat pelabuhan ini memang terletak tidak terlalu jauh dari stasiun. Kami langsung membeli tiket perahu penyebrangan menuju pulau Bali. Sekitar setengah jam perjalanan melintasi Selat Bali menggunakan kapal yang memang selalu tersedia di Pelabuhan Gilimanuk. Setibanya di pelabuhan Gilimanuk, kami langsung menuju terminal yang berada dekat dengan pelabuhan, saya lupa namanya. Setibanya di terminal, kami masih harus menunggu bis yang akan kami tumpangi sampai ke pelabuhan padangbay, di ujung timur pulau Bali. Hari sudah berganti ketika kami menunggu di terminal, sambil mengisi perut dengan makanan yang dijual di terminal kami menunggu sambil melakukan komunikasi dengan teman – teman di sekre Bumipala.
Sekitar pukul 2 pagi bus menuju padangbai tiba, bus pertama hari itu, kami langsung menyiapkan carrier dan menaruhnya di bagasi bus sebaik mungkin. Menghabiskan 6 jam perjalanan di dalam bus menuju padangbai dengan beristirahat agar kondisi tubuh tidak terlalu buruk. Sesampainya di Padangbay, kami mengisi perut terlebih dahulu sebelum melanjutkan 4 jam perjalanan di atas kapal menuju pelabuhan Lembar di Pulau Lombok.  Tidak ada yang bisa banyak dilakukan selama perjalanan, jadi memanfaatkan waktu – waktu yang lama selama perjalanan untuk mengisi tenaga dengan beristirahat adalah hal yang terbaik.
 Setibanya di Lembar, kami mendapat tumpangan mobil sampai ke kota Mataram, yang kira – kira jauhnya sekitar setengah jam perjalanan dari pelabuhan Lembar. Dari kota kami melanjutkan perjalanan dengan menggunakan angkutan umum sampai dengan pasar Aikmal  lalu dilanjutkan dengan menaiki mobil bak terbuka sampai dengan pos pengawasan Gunung Rinjani di desa Sembalun.  Hujan turun cukup deras ketika mobil yang kami naiki sudah berada di ketinggian yang cukup tinggi, dengan lampu penarangan yang sangat minim, perjalanan menjadi cukup menegangkan. Sesampainya di pos pengawasan, kami melaporkan diri untuk kedatangan kami dan beristirahat di pondok yang disediakan di luar pos pengawasan.

Selasa, 13 November 2012

Pagi harinya, setelah sarapan, packing dan mengurus perizinan pendakian, kami berempat memulai pendakian melawati jalur Sembalun. Menyusuri jalan setapak desa Sembalun. Perkiraan estimasi waktu dari pos pengawasan hingga pos 1 di jalur ini sekitar 6 jam. Melewati pemukiman terakhir di jalur ini, kamu mulai menemui padanga sabana yang sangat luas, di kejauhan sana, terlihat Gunung Rinjani berdiri dengan kokohnya dan menjulang begitu tinggi. Seharusnya memang kami masih harus beristirahat lebih mengingat perjalan Jogja – Sembalun cukup menguras kondisi tubuh, tapi pagi ini kami sudah melakukan pendakian. Kami memang tidak mempermasalahkn hal itu, karena kami berjalan cukup santai, tidak terlalu terburu – buru.
Memasuki waktu siang suhu menjadi semakin tinggi, di tengah padang sabana yang luas, panas matahari langsung menyengat, tak ada tempat berteduh, kami terus melanjutkan perjalanan sambil sesekali beristirahat dan minum air putih untuk menjaga kondisi tubuh. Sekitar 3 jam perjalanan, tiba – tiba hujan mulai turun, perlahan mulai deras, kami mulai mendirikan tenda kecil untuk sekedar berteduh, karena ini awal perjalanan kami dan beberapa peralatan elektronik seperti kamera yang perlu diamankan dari hujan. Hujan berlangsung cukup lama dan makin besar, air mulai mengisi tenda kecil yang kami diami, yang sebenarnya hanya muat untuk kapasitas dua orang, diisi dengan 3 carrier 80l yang sedikit overload, 1 carrier 100l, 1 daypack, beserta tiga orang, , jamal melindungi dirinya di luar tenda menggunakan jas hujan. Kami pun mulai berinisiatif untuk benar – benar mendirikan tenda yang sesuai dengan kapasitas kami. Jadi di tengah hujan yang cukup deras, kami mulai mendirikan tenda lainnya untuk beristirahat, dan menghabiskan sisa hari di tengah perjalan an  menuju  pos 1.

Rabu, 14 November 2012

Kembali melanjutkan perjalanan yang tertunda karena hujan yang cukup deras kemarin, kami pun cukup bergegas dalam pendakian. Memakan waktu sekitar 3 jam untuk mencapai pos satu dari tempat mengingap kemarin. Medan yang ditempuh masih berupa sabana dan masih terbilang cukup landai, perjalanan untuk menuju pos 1 dari desa Sembalun bisa dibilang menyusuri lereng Gunung Rinjani sebelum dihadapkan dengan medan yang benar – benar menanjak. Sampai di pos 1 kami beristirahat sebentar, meminum air mineral secukupnya, memakan snack. Hari memang belum terlalu siang ketika mencapai pos 1,  mungkin memang seperti ini kondisi alam di Pulau Lombok.
 Kami kemudian melanjutkan perjalanan menuju pos 2, track kini mulai menanjak, dan padang sabana masih mengelilingi kami, Sebelumnya memang kami seperti menjauh Gunung ini, tapi kini kami mulai berjalan mendekati Gunung Rinjani.  3 jam lainnya yang diperlukan untuk mencapai pos 2.  Di perjalanan menuju pos 2 ini kami mulai bertemu dengan pendaki lainnya yang berasal dari luar negeri ini, kebanyak dari mereka menggunakan jasa porter untuk membawakan barang – barangnya. Tiba di pos 2, kondisinya cukup ramai, pos 2 sendiri berada di bawah jembatan, di pos 2 ini terdapat aliran air yang airnya bisa diambil untuk di konsumsi. Mengisi perut dengan makanan  ringan dan meminum the hangat sebelum kembali melanjutkan perjalanan. Perjalanan menuju pos 3 kurang lebih menghabiskan waktu sekitar 4 jam, track menuju  pos 3 ini mulai dirasakan kemiringannya. Sepanjang perjalanan menuju ke pos 3, terdapat sebuah sungai besar yang hanya berisikan batu – batuan besar. 
Setibanya di pos 3 yang berada di ketinggian 2000 mdpl, kami segera mengistirahatkan diri agak lama, menyiapkan diri dan peralatan untuk perjalanan malam, setiap pos yang ada di track Gunung Rinjani ini terdapat pondok atau shelter, namun mungkin karena tidak ada yang merawat, dan terkena angin yang cukup kencang, bentuknya sudah tidak karuan. Setelah menyiapkan peralatan untuk melakukan perjalanan malam, kami pun melanjutkan perjalanan. 
            Track setelah pos 3 bisa dibilang cukup berat untuk dilalui, kemiringannya yang mencapai 40 – 60 derajat cukup menguras tenaga, belum lagi track akan terus seperti ini, melewati setidaknya sekitar 8 bukit menurut informasi yang didapat. Track ini biasa disebut oleh warga yang biasa menjadi porter sebagai tanjakan penyesalan. Di track menuju plawangan sembalun ini, kami baru menemui pohon – pohon yang cukup besar yang ada disekitar track. Sekitar 3 jam menghabiskan perjalanan, di tengah kencangnya angin malam dan area yang cukup terbuka, kami mulai kewalahan menghadapi track menuju plawangan, mengingat seharian tadi juga sudah terlalu banyak mendapat terpaan panas matahari, tubuh kami yang belum terbiasa dengan kondisi seperti ini akhirnya memutuskan untuk menghentikan perjalanan dan mencari tempat untuk mendirikan tenda dan beristirahat hingga pagi tiba.

Kamis, 15 November 2012

Sekitar pukul sebelas siang kami tiba di Plawangan Sembalun, setelah sebelumnya melakukan perjalanan selama 2 jam dari tempat kami mendirikan tenda. Plawangan Sembalun sendiri bisa dibilang sudah merupakan puncak dari Gunung Rinjani, namun bukanlah puncak tertingginya, sampai di Plawangan Sembalun kami masih harus berjalan selama 30 menit untuk mencapai area camp dan 10 menit lagi dihabiskan untuk mencapai mata air dari tempat camp, ya , di area camp ini, terdapat mata air, yang berada sekitar 10 menit perjalanan, dari area camp. Setelah menyiapkan tenda dan melakukan isi ulang air yang kami miliki, kami beristirahat untuk menyiapkan kondisi tubuh sebelum melakukan summit attack pagi nanti.

Jumat, 16 November 2012

            Sekitar pukul 2 pagi, kami bersiap untuk melakukan perjalanan menuju puncak, mungkin bisa dibilang kami merupakan rombongan terakhir yang berjalan di pagi itu. melihat di atas sana, sudah terdapat banyak cahaya dari headlamp para pendaki yang juga sedang berjalan menuju puncak. Kami pun berdoa sebelumnya agar diberikan keselamatan pada saat pendakian menuju puncak gunung tertinggi ketiga di Indonesia.  Dinginnya suhu serta kencangnya angin merupakan salah satu hal yang terus menemani selama perjalanan. Track menuju puncak bisa dibilang sulit, kami tak lagi menginjakkan kaki di atas tanah melainkan pasir yang bisa membuat kami tak bisa naik sama sekali kalau tidak dipijak secara benar dan harus menggunakan tangan kami untuk membantu kami menambah ketinggian.

Terdapat sekitar 1 kilo track yang cukup landai untuk dilalui, setelah sebelumnya menanjak menggunakan kaki dan tangan di medan yang berpasir, di track landai ini kami berada di gigir puncak, dimana sebelah kanan merupakan jurang terjal, yang dibawahnya terdapat danau Segara Anak dan di sebelah kanan merupakan jurang punggungan Gunung Rinjani.
            Setelah melewati track yang landai, kami melakukan pendakian menggunakan kedua tangan dan kaki kami melewati medan berpasir dengan kemiringan sekitar 50 – 70 derajat. Angin pagi yang berhembus dengan kencangnya membuat kebisingan tersendiri saat bertabrakan dengan batu ataupun punggungan gunung ini. Track ini bisa dibilang lebih berat dibandingkan track tanjakan penyesalan menuju plawangan sembalun. Menurut informasi, waktu normal untuk mencapai puncak dari area camp sampai dengan puncak bisa mencapai 5- 7 jam. Mungkin karena sudah terbiasa membawa beban yang bisa dibilang overload selama perjalanan menuju area camp di Plawangan Sembalun, kecepatan kami sewaktu menuju puncak bisa dibilang cukup cepat sehingga bisa menyusul rombongan pendaki yang meninggalkan kami cukup jauh saat melakukan pendakian, mengingat kami merupakan rombongan terakhir yang melakukan pendakian pada pagi itu.
Di sela – sela perjalanan kami juga memutuskan untuk sesekali beristirahat agar tidak terus menyusul pendaki yang lain, karena kami tidak sedang melakukan perlombaan siapa yang paling cepat mencapai puncak. Angin berhembus sangat kencang, kadar oksigen juga turut berkurang semakin tinggi kami mendaki. Langit mulai merubah warnanya, perlahan jingga muncul menandakan matahari akan segara menggantikan bulan.
Sekitar pukul setengah 7 pagi, kami tiba di puncak tertinggi ke tiga di Indonesia, Dewi Anjani. Mendokumentasikan kegiatan kami selama di puncak, menikmati keindahan Nusantara dari ketinggian 3726 mdpl. Bercengkrama dengan pendaki lainnya yang juga berada di puncak.  Kami kemudian kembali turun setelah menghabiskan waktu sekitar setengah jam di puncak, melewati jalur yang sama. Menuruni medan berpasir memang lebih mudah bila dibandingkan dengan menaikinya, namun tetap harus lebih waspada. Menghabiskan waktu sekitar 4 jam melakukan perjalanan turun dengan sangat santai, setibanya di tenda kami pun bersiap untuk melakukan makan siang dan beristirahat.

Sabtu, 17 November 2012

Pagi, setelah puas beristirahat dan menikmati keindahan Gunung Rinjani, kami pun mulai melakukan perjalanan berikutnya untuk mencapai Danau Segara Anak yang merupakan kaldera dari Gunung Rinjani. Perjalanan menuju Danau Segara anak berarti menyusuri kawah Gunung Rinjani yang medannya didominasi oleh batuan curam yang harus sangat berhati – hati untuk dilalui. Di tengah kabut tebal yang menyelimuti perjalanan menuju danau segara anak, kami menghabiskan waktu perjalanan sekitar 4 jam.     
Setibanya di Danau Segara Anak, kami langsung menyiapkan tenda kami di bibir danau. Menikmati keindahan yang disajikan Gunung Rinjani sambil menikmati kopi hangat, setelah berhari – hari melakukan pendakian yang melelahkan.
Di dekat mata air yang ada di Danau Segara Anak ini terdapat pemandian air panas alami yang berbentuk kolam – kolam yang dialirkan langsung oleh air terjun  panas. Kami juga menyiapkan makan malam kami dengan sebelumnya memancing ikan yang ada di Danau Segara Anak ini dengan pancing yang sederhana, ya meskipun saya sendiri tidak memakan ikan. Kami menikmati waktu  istirahat kami hari itu di depan Danau Segara Anak.
   
Minggu, 18 November 2012

Setelah hampir satu minggu berada di Gunung Rinjani kami pun memutuskan turun, mengingat keterbatasan logistic yang dimiliki. Kami menghabiskan satu hari penuh untuk bisa sampai ke pos terakhir atau gerbang dari track Senaru. Ya, kami turun melalui jalur Senaru, berbeda dengan saat kami naik kemarin yang melalui jalur Sembalun. Jalur Senaru yang berbentuk hutan didominasi oleh pohon – pohon tinggi, sedangkan jalur Sembalun di dominasi oleh padang sabana.
Sebelum menuruni Gunung Rinjani lewat jalur Senaru, kami harus menaiki Kaldera Gunung Rinjani ini melalui track berbatu curam ke arah Plawangan Senaru, jalur menuju Plawangan Senaru ini lebih berbahaya dibandingkan jalur lewat Plawangan Sembalun, batuan yang curam, serta jurang yang berada di samping kiri kami membuat kami harus lebih berhati – hati dalam melakukan pendakian. Ketarampilan Rock Climbing dasar juga diperlukan untuk bisa mendaki kea rah Plawangan Senaru lewat jalur ini.  Terdapat beberapa tiang pengaman yang dipasang, namun kondisinya beberapa sudah tidak layak.
Menghabiskan waktu sekitar 5 jam untuk bisa mencapai Plawangan Senaru dari Danau Segara Anak. kami beristirahat sejenak ketika tiba di Plawangan Senaru. Mengingat Jalur Senaru merupakan Hutan yang cukup lebat, maka tidak aneh apabila terdapat anjing hutan di sekitar jalur Senaru, kami sempat menemui 2 ekor anjing hutan pada saat mendaki ke Plawangan Senaru, dan beberapa kawanan ketika tiba di Plawangan Senaru, Kami tentunya cukup waspada dengan keberadaaan anjing hutan ini, mengingat mereka bisa saja menyerang kami apalagi bila mereka dalam jumlah yang cukup banyak.
Kami cukup bingung dan sedikit tersasar ketika akan melanjutkan perjalanan, tidak jelasnya mana jalur yang harus di ambil membuat kami berputar – putar di Plawangan Senaru, dengan kecemasan yang ditambah dengan semakin banyaknya kawanan anjing hutan yang berada di area Plawangan Senaru, kami terus melanjutkan perjalanan hingga akhirnya menemukan jalur yang benar untuk turun. Kami sebenarnya tertolong dengan keberadaan anjing hutan ini, karena gonggongan merekalah yang mengarahkan kami ke jalur yang benar.
Di tengah perjalanan turun, hujan pun turun perlahan dari rintik hingga deras. Untungnya saat itu kami berada cukup dekat dengan pos sehingga bisa berteduh di pos, di pos ini kami bertemu dengan beberapa pendaki lainnya yang juga sedang melakukan pendakian.  Setelah hujan cukup reda kamipun melanjutkan perjalanan agar tidak terlalu malam ketika melewati area hutan nanti, karena memang tidak dianjurkan untuk melewati area hutan pada malam hari, apalagi mendirikan tenda.  Meski begitu tetap saja kami melewat area hutan pada malam hari, karena mau tidak mau kami harus segera mencapai pos terakhir di bawah sana.
Kami menghabiskan waktu sekitar 8 jam untuk tiba di gerbang jalur Senaru dari pos terakhir kami berhenti di atas sana. Di gerbang ini terdapat sebuah rumah penduduk yang menjual makanan dan tempat beristirahat untuk para pendaki. Kami pun memesan makanan dan memutuskan untuk beristirahat disini karena sudah seharian berjalan menuruni Gunung Rinjani.

Senin, 19 November 2012

Kami melanjutkan perjalanan sekitar 2 jam untuk tiba di Pos Pengawasan Senaru dan melaporkan lagi soal kedatangan kami, lalu melanjutkan perjalanan pulang ke Kota Mataram terlebih dahulu untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta.


*Sayangnya, foto - foto ekspedisi ini tidak ada di laptop saya, jadi belum bisa saya posting disini, tapi, saya juga membuat sebuah dokumenter perjalanannya, bisa lihat disini 





16 Juli 2010

Catatan Kecil dalam Perjalanan

dalam perjalanan kali ini, semua terlihat berbeda buat gw. maksudnya bukan berbeda yang gimana gimana, hanya saja, kali ini semua terasa seperti baru. ya, perjalanan yang menyegarkan.

kali ini gw pergi naik bus, ya, bukan kereta. dan ternyata memang lebih nyaman. gw bisa duduk nyaman di kursi yang lebih empuk, acnya juga menambahkan kenyamanan tersendiri buat gw. yaa meski harus gw akui, kalau gw nyaris masuk angin pada malam harinya.

perjalanan yang memakan waktu hampir seharian itu, lebih banyak gw habiskan dengan membaca buku. mendengarkan lagu, ngemil, dan tidur. (emang bisa apa lagi gw? salto? atau kayang? ga memungkinkan tau tempatnya. hhe.)

perjalanan seharian itu membantu gw. membantu berfikir lebih jernih atas masalah masalah yang gw pikirkan. gw sengaja menyusun kembali sebuah kenangan yang dulu udah hancur, yang nyatanya, meski sudah menjadi kepingan tetap menggangu.

setelah berada hampir seharian di perjalanan, dan kepingan kepingan yang hancur udah selesai gw susun menjadi suatu kenangan yang utuh, gw bisa melihat semua dengan lebih jelas, gw mulai dengan melihatnya dari beberapa sudut pandang yang berbeda, mencoba melihatnya secara labih detail dan rinci.

pada akhirnya, gw seperti menemukan harta karun yang selama ini gw cari. gw menemukan inti dari permasalahan ini, sebuah inti yang membantu gw menyelesaikan permasalahan ini.

gw sadar, seiring kepergian gw meninggalkan kehidupan disana, masalah gw juga akan menghilang. menghilang seiring ribuan kilo yang dilewati.

tapi, entah itu menghilang atau hanya tertinggal dan tak mau ikut menyusul. hmm, entahlah.

tapi seiring itu juga, masalah lain akan datang menghampiri gw setibanya gw dan semulainya gw hidup disini, di kota pelajar ini.

jadi, bersiaplah gw untuk menghadapinya.

tapi apakah ketika nantinya gw kembali, semua masalah itu juga melakukan hal yang sama? sepertinya tidak, dan gw berharap tidak untuk hal itu.

**********

catatan perjalanan :

- makanan gratis yang dikasih sama busnya itu ga enak (menurut lidah gw yang berselera aneh) itu sepertinya cuma buat ganjel perut dan mulut para penumpang supaya mereka ga berisik buat minta berenti
buat beli makanan.

-lebih baik acnya dimatiin kalau malem, karena dinginnya minta ampun (ini terbukti dengan gw yang menggigil pada malam hari, padahal jaket gw berbulu dan biasanya itu cukup membuat hangat kalau gw pergi ditengah malem naik motor , bukan bulu kaki atau bulu bulu lainnya lho)

-supir untuk bus bus malam itu menurut gw gila, mereka seperti bermusuhan dengan waktu. mengebut tanpa mengenal medan yang ditempuh. tapi bukankah memang untuk itu mereka menjadi supir bus malam? bersaing dan mengalahkan waktu.

-jangan pernah ngeledek atau ngecengin penumpang lain yang menurut lo jelek, gendut, atau apalah, secara nyaris frontal sama temen lo, ketika lo pergi bareng temen tentunya (ga mungkin lo ngasih tau ledekan itu sama orang yang baru kenal kan?). gw pernah ketauan sama orang yang gw ledek, dan dia ngomelngomel, untungnya waktu itu, gw lagi make headset dan denger lagu, jadi temen gw yang kena semprot. (padahal waktu itu volumenya kecil, dan gw bisa ngedenger waktu temen gw ditanya tanya sama orang yang barusan gw ledek, tapi gw pura ga denger dan soksokan menikmati musik. maafkan temanmu ini kawan, hha)

-selalu cek bawaan yang akan dibawa sebelum pergi. gw ga melakukan itu, jadi gw sama sekali ga bawa celana dalem buat ganti, padahal gw pergi selama 5 hari. yang membuat gw harus mengeluarkan uang untuk membeli 1 set celana dalam baru (padahal baru kemaren gw beli celana dalem buat persiapan ngekos nanti)
yang ternyata isinya cuma 3 (tetep kurang, asu)

-jangan pernah kentut secara berlebihan di kamar mandi yang disediakan untuk umum. gw melakukan itu dikamar mandi yang disediakan dipenginapan gw, dan setelah keluar dari kamar mandi, beberapa orang keheranan, dan mata mereka tiba tiba saja menatap tajam ke gw, lalu tersenyum setelahnya, sepertinya mereka sudah tau sumber bunyi aneh (kentut gw) yang mereka dengar tadi. gw sangat malu waktu itu.

-jika merantau sendiri dan tidak punya orang yang dikenal didaerah tujuan, bersikap ramahlah kepada semua yang ditemui (tersenyum saja mungkin sudah cukup), karena berkat itu, gw dikasih tau tempat kos yang masih kosong sama orang yang tibatiba ngajak gw ngobrol waktu gw iseng menikmati kopi pagi hari sendirian, disebuah tempat umum (yang gw ga tau itu namanya apa, tapi menurut gw itu taman). dia membantu ditengah kekhawatiran gw bakal ga punya tempat kos.

-sebelum pergi sebaiknya terlebih dahulu tau jalur yang akan dilewati dan dituju sebenarnya oleh kendaraan umum yang ingin ditaiki. karena gw ga tau, gw harus nyasar dan berjalan kaki sejauh 10 kilo, garagara spekulasi bodoh gw, kalau daerah yang gw tuju udah lewat, dan turun di daerah yang sama sekali gw ga tau (serius, tempatnya kaya jalan tol gitu, kendaraan yang lewat cuma dikit, dan di kiri kanan jalan sangat jarang rumah penduduk, yang gw liat waktu itu cuma pabrik pabrik yang mengolah bahan alam seperti pasir, mmm, tapi kurang tau juga deh). padahal, tempat yang gw tuju masih jauh dari tempat gw turun tadi. beruntungnya gw, ketemu pacarnya temen gw, dan dikasih tumpangan sampe rumah temen gw.

-bertanya sepertinya selalu lebih baik daripada mengandalkan buku panduan.

-oh iya, jangan lupa lebih hatihati lagi, berdoalah sebelum bepergian supaya ga terjadi halhal yang aneh (mungkin aja lo bisa sebangku sama seseorang yang mukanya persis tapir dan berbau busuk sebusuk telur busuk) dan halhal yang buruk tentunya(seperti dicopet atau yang lainnya)

jadi selamat berjalan jalan :)

17 Juni 2010

Catatan Seorang Teman

You! H-I :)

Wednesday, May 26, 2010 at 6:48am
Uploaded via Facebook Mobile

Hall-o H-I
Apa kabarnya? Hmm, lagi dimana? Masih inget gue ga? Hahahaha
Pertanyaan 'ngledek' looh yang tadi itu, hehehehe SADAR GA SI LO?
SUMPAH! Lo berubah drastis banget! Kayak bukan H-I yang gue kenal deket 4 tahun lalu.
Oke, gue cerita! Berawal dari gue menginjak bangku kelas IX di SMP Setia Negara Depok angkatan sekian-sekian. Dan gue balik lagi ke kelas awal gue di kelas nomer 4 (baca jadi: IX.4). Awalnya gue bakal biasa aja ketemu temen-temen kelas VII gue. Ga mikir macem-macem, dikarenakan gue udah niatin diri buat belajar serius di kelas IX waktu itu.

Gue ga tau kapan persisnya kita deket, gue juga ga ngerti kenapa kita bisa sedeket itu, pokoknya gue ngrasa seneng punya temen deket laki yang emang NUAIN gue banget. Eh satu lagi, gue juga ga tau kapan tepatnya lo resmi manggil gue 'mom'. Dan gue juga LUPA kapan lo nyuekin gue dan ga peduliin gue dan ga panggil gw 'mom'. Hmmm Gue ga mempermasalahkan panggilan 'mom' itu ya, tapi gue mempersalahkan lo yang SEKARANG! Gue emang bukan siapa-siapa lo kali sekarang (temen bahkan?). Mungkin juga lo udah LUPA semuanya H-I! Oke FINE! Gapapa, setelah gue telisik dan tanya-tanya temen yang laen yang juga temen lo, emang lo udah berubah banget. Nah, ternyata ga gue doang yang kangen LO yang DULU! tapi MEREKA juga! yang sayang lo H-I!
Gue ga bakal emosi di catatan ini. Oke calm down sen -,-
Sekarang, lo inget ga, waktu upacara lo ngenalin pacar lo yang anak kelas VII yang A itu, (lo selalu sebut nama cewe itu A apa N yaa gue lupa pokonya pake inesial), yang lo tanya gue, setuju ga kalo lo sama A/N, berhubung waktu SMP lo (masih) lumayan tampan ya, hehehehe sempet ga bolehin lo, dan gue juga bilang mending sama N eh gue lupaaaa, pokonya gue ga setuju, abis cewe lo tampangnya sangar, rambutnya aja mirip lo, tetep aja ga baguuuus.

Terus, lo inget ga, waktu lo gambar-gambar di pojok kelas, dan lo muji sedikit gambar gue, dan dengan sombongnya anak SMP, lo juga ga mau kalah gambar keren dan nunjukin gambar lo ke gue (gue denger sekarang udah dapet job-job gambar lo. GoodBoy)

Terus inget juga ga lo sama waktu perpisahan gue pake kebaya, dan lo bilang gue tuaaaaaaaa (hm gapapa).

Terus lo inget juga ga, waktu gue ngambek sama Tia yang juga suka sama gebetan gue waktu itu, dan Tia emang baik sebenernya sama gue, tapi guenya bener-bener ga bisa mikir dewasa waktu itu, dan ga gue sangka, lo bisa kasih pendapat TUA lo yang PERTAMA x gue denger sampe sekarang, ga tau deh bakal jadi TERAKHIR apa ga. Gue salut bgt sama lo yang udah bisa ngeredam emosi gue waktu itu. Dan kenangan terakhir gue yang masih gue inget sampe sekarang dan gue kangenin sambil berharap kejadian lagi.
Jalan bareng sama lo, baca di gramed, waktu itu lagi musim kambing jantannya RD, gue lupa lo baca apa, tapi lo cool banget waktu itu, dan itu cuma SEBENTAR kita jalan :( gue langsung balik dan gue ninggalin lo sendirian. Hmm pengen gue ulang semuaaaaa. Pengen LO YANG DULU!
Oh iya, congrats ya H-I, lulus SIMAK gue seneng, dan berHARAP perlahan jadi H-I yang gue kenal dulu ya. Amin :D
buat H-I tengkyuuuu buat semuanya, makasih gue udah dikasih kesempatan buat kenal lo. Miss You a**
:'))

Itu tadi adalah sebuah catatan seorang temen yang gw temukan waktu iseng baca baca notes, cukup nyelekit juga emang bacanya, hhe. ni dia yang punya notes Dessy

Akhir akhir ini, emang lumayan banyak temen temen SMP gw yang komplain sama gw. mereka bilang gw sombonglah, gw belagulah, gw lupa lah, sama mereka. padahal sama sekali ngga!Gw ngga lupa, gw inget semua. Yaa, mungkin emang gw udah jarang berhubungan sama mereka, jadi yaa maaf aja deh gw, mau bilang apa juga gw pasti salah. hhe. tapi tolong di ingat, gw ga lupa ko sama kalian. Gw orangnya emang rada unsos, jadi maaf ya.

Oh iyaa, mantan gw itu ga serem, dia cuma mirip sama gw, dia ga punya taring di giginya, dia juga ga bawa bawa garpu buat nusuk orang, jadi jangan anggep gw pernah pacaran sama orang yang serem,. hha!

13 Mei 2010

Catatan sepulang dari pantai

Tanggal 11 dan 12 kemarin, saya berada di pantai Carita bersama teman teman di 12 IPS 1 dalam rangka perpisahan. Meski hanya 18 orang yang ikut, yaitu saya, Agung, Ambar, Avri, Arab, Arom, Ardo, Dimas, Eten, Faiz, Iye, Imron, Jane, Karin, Kicuy, Rio, Simon dan Sule, tapi itu tidak menyurutkan niat kami untuk tetap berangkat. Dan akhirnya walikelas saya dan keponakannya ikut dalam perjalanan, 2 orang teman saya yang berasal dari kelas lain pun ikut untuk meramaikan suasana sehingga peserta yang ikut menjadi 22 orang :D
Padahal hanya 5 orang anak perempuan yang ikut, tapi untungnya mereka tidak mempermasalahkannya. He

Dalam jadwal diberitahukan bahwa kita akan berkumpul jam 6 tapi pada kenyataannya baru terkumpul sekitar jam 7n, hhe. Jam karet memang sedang populer sekarang. Dan akhirnya jam setengah 8 kita berangkat menuju tempat tujuan. Diawal perjalanan tentunya kita berdoa terlebih dahulu agar selamat sampai tujuan 

Ketika sudah masuk jalur tol, saya merasakan sesuatu yang aneh pada perut saya, saya merasa mual :/ ah sial! Umpat saya dalam hati, karena harus merasakan mual diperjalanan, pasti karena saya belum tidur dan terkena angin dijalan ini. Tapa untungnya saya tidak jackpot. Hhe. Saya sempat memutuskan untuk tidur, tapi sial, teman teman saya tidak senang melihat saya tertidur, mereka selalu saja membangunkan saya, ketika saya belum lama terlelap, dan selalu dengan becandaan yang sama “ woy! Emangnya hotel! Tidur disini!” dan saya hanya bisa memaki mereka sambil tertawa tapi juga sedikit kesal. Hhe.

Sekitar jam 12, kita tiba disebuah kondominium dipesisir pantai carita, tempat kami menginap berada di lantai 3, cukup besar, nyaman, ada balkon yang menghadap ke arah pantai, ada dapur, 2 kamar mandi. 3 kamar tidur full ac, dan tv ber parabola. Yaaa enaklah pokonya :D

Setelah check in semua mulai sibuk ada yang membereskan barang bawaan, membereskan tempat tidur, ada yang mulai memasak untuk makan siang, dan saya? Saya sibuk memakan bekal makanan yang tidak sempat saya makan diperjalanan, saya makan karena perut saya benar benar tidak bisa diajak berkompromi, saya sangat merasa mual, jadi saya memutuskan untuk makan agar tidak sakit. Selesai beres beres, dan makan siang, beberapa teman saya sudah mulai tak sabar untuk segera berenang di pantai, dan mereka juga mengajak saya, kerana mereka tau kalau saya ini anak pantai, jadi pasti suka berenang. Hhe, ngga ngga. Itu bercanda. Tapi perut saya masih mual, padahal saya sangat ingin untuk berenang, tapi untungnya saya sangat jago berspekulasi, jadi saya berspekulasi mungkin saja setelah berenang nanti keadaan saya akan membaik, padahal ini adalah salah satu bukti betapa idiotnya saya. Hha, karena spekulasi saya benarbenar tidak terbukti! Hhe.

Akhirnya saya pun tertarik dengan ajakan mereka dan mulai turun ke pantai. Setelah bosan hanya memandangi lautan, saya pun lari kepantai dan langsung berenang, dan akhirnya teman saya yang tadi hanya melihat, ikut saya berenang. Hhe. Satu hal yang saya lupakan mengenai pantai adalah betapa asinnya air di pantai! Saya benar benar lupa, jadi saya berenang dengan santainya dan mencoba melawan ombak yang sedang, namun karena mulut saya terbuka, masuklah itu air laut, dan memenuhi mulut dan syaraf syaraf lidah saya bekerja untuk mengenali rasa air laut itu, dan ASIN! Saya benar benar kewalahan mencegah air laut masuk ke mulut saya, karena apabila terlalu banyak, rasanya menjadi pedas! Hhe. Cowboy cowboy carita pun mulai beraksi menawarkan papan surfing mini untuk disewakan, kepada kami, dan kami cukup tertarik untuk mencobanya, jadi kami menyewanya, dan ternyata memang seru berenang dengan papan surfing terbawa oleh ombak, apalagi ketika tergulung oleh ombak, waaah, sensasinya memang keren, apalagi ketika ombak yang datang benar benar besar, itu benar benar memiliki senasi sendiri :D tapi sayang, saya harus kehilangan baju yang saya beli di Jogja, baju saya hilang terbawa ombak. Lalu setelah aga capai, kami pun berisitirahat di pinggiran pantai, sambil berfoto ria, dan cowboy pun mulai menawarkan pelayanan selanjutnya, Banana Boats. Meski pada awalnya kami kurang tertarik karena harga yang ditawarkan kurang bersahabat, tapi setelah mengadakan negosiasi yang cukup panjang, harga pun menjadi Rp 15. 000 / orang, dan kami memutuskan untuk naik.

Kloter pertama ada saya, Avri, Bento, Eten, Imron, Iye, Oon, kami pun berangkat menuju ketengah dengan kapal, setelah sampai di Banana Boats kami harus berpindah dari kapal ke Banana Boats, dan itu cukup sulit. Dan setelah naik, kami pun diajak berkeliling di perairan yang aga jauh dari daratan dan dari apa yang cowboy bilang kepada kami bahwa kedalaman disini itu sekitar 5 orang biasa, yang artinya kedalaman disini adalah 5 kalinya tinggi badan saya. Dan kalau saya tercebur sudah pasti tidak akan menginjak daratan. Hhe. Dalam perjalanan mengitarngitar kami dijatuhkan 3 kali, dan ketika dijatuhkan rasanya benarbenar tidak enak! Air lautnya bisa saja tertelan dan rasanya benarbenar pedas! Satu yang sangat saya sayangkan adalah, lautnya cukup kotor karena diperjalanan saya sering melihat sampah mengambang. Hmm.

Setelah selesai, kamipun dikembalikan ke pesisir, saya pun bergegas menuju kondo untuk segera membersihkan diri dari pasir sekaligus mandi tentunya. Seusai mandi badan saya menggigil, pala saya berat dan hidung saya tersumbat dan akhirnya saya memutuskan untuk tidur saja. Saya merasa kesal kenapa saya harus sakit disaat liburan seperti ini, teman teman saya yang lain bisa dengan tenangnya bercanda dan mengobrol. Huuuh. Tapi setelah, makan minum obat, minum susu, dan tertidur selama 3 jam, kesehatan saya pun membaik. Hhe, benar dugaan saya, saya memang hanya butuh istirahat yang cukup. Setelah cukup sehat sayapun bergabung kembali bersama teman teman, dan tertidur di kamar yang dipenuhi oleh teman teman yang lain sehingga membuatnya menjadi sempit! Saya benar benar berterima kasih kepada teman teman saya yang sudah baik, mau membantu disaat saya sakit kemarin 

Pagi esok harinya setelah sarapan, saya, Avri, Bento, Iye, dan Simon berjalan jalan disekitar pantai, lalu kami ke sebuah penginapan yang berada cukup jauh dari kondo, Oon yang memang kelasnya belum perpisahan melalukan survey untuk mengetahui harga dan fasilitas yang disediakan di situ. Setelah selesai kami pun kembali menuju kondo, ketika kami sampai di pantai yang berada di depan kondo, ternyata 3 orang teman saya sudah bersurfing ria, memang sewaktu berjalan tadi saya cukup kagum dengan ombaknya, rasanya ingin segera buka baju lalu mandi, oh ngga, maksud saya ingin segera bersurfing ria. Hhe. Tak sabar, saya pun bergegas berganti kostum, dan menceburkan diri ke pentai, tidak lupa menyewa papan dari cowboy yang sudah siap menunggu. Hhe. Pada saat sedang bersurfing hujan pun turun, dan itu menambah sensasi tersendiri, belum lagi ombaknya menjadi lebih hebat, sangat asyik untuk bersurfing. Hhe.

Setelah bersurfing kita mendapat tawaran untuk melihat terumbu karang di pulau seberang, yang nyatanya bukanlah terumbu karang, melainkan hanya karang biasa, kami sempat kesal memang, 15 ribu keluar hanya untuk melihat karang biasa, namun untungnya hal itu cukup terbayar dengan segala keseruan yang terjadi di Banana Boats dalam perjalanan menuju pulau, ombak yang besar, memberi sensasi tersendiri dalam perjalanan. Hhe. Tapi karena itu juga selama dalam perjalanan mulut saya komat kamit membaca doa agar selamat. Hhe. Teman saya Iye, hanya bisa diam karena dia trauma gara gara ikatan pelampungnya tercopot, dan membuatnya hampir tenggelam kemarin sewaktu bermain Banana Boats. Hha. Sesampainya di tempat yang para cowboy bilang ada terumbu karangnya padahal Cuma karang kami bertemu dengan teman kami dari IPA 4 yang juga sedang perpisahan. Kami sempat merasa terdampar, ketika hanya tersisa kami disini, belum lagi hujan membuat suhu udara menjadi dingin, jadi saya hanya ingin cepat cepat pergi dari tempat ini. Sewaktu menunggu salah satu cowboy yang ditinggal bilang “ nanti mah ga usah dijatohin juga pasti jatoh, soalnya nanti ngikutin ombak, dan kalau ombaknya gede yaa banana boatsnya kebawa” setelah mendengar itu saya memutuskan untuk naik dikapalnya saja, begitu juga Iye yang sudah trauma. Hhe. Dan benar saja ketika dalam perjalanan pulang 2 kali banana boatsnya terbawa, dan jatuh. Hhe. Setelah cukup lama akhirnya kami dekembalikan ke pesisir, tapi teman teman saya yang dari banana boats dipindahkan dulu ke kapal, dan salah satu cowboy ditinggal disana, ditengah perairan yang dalam, dan ombak yang besar, dia duduk dengan tenang di banana boat layaknya pemeran utama di film Baywatch yang sedang menjaga pantai. Hha. Sampai di pesisir kami berlari menuju kondo karena hari sudah terlalu siang dan teman teman yang berada di kondo pasti sudah bete menunggu, dan benar saja. Saya mencoba tidak perduli dan langsung menuju kamar mandi.

Setelah semua siap, semua keluar dari kondo, dan menuju ke bis yang sudah menunggu, dan pulang menuju Depok, memang perut saya ini keroncongan tapi saya harus bersabar sampai menemukan indomart, dan setelah menemukan indomart, saya dan beberapa teman teman saya memutuskan untuk membeli popmie, selain untuk mengisi perut, juga untuk menghangatkan badan. Setelah masuk tol, di dalam bis mulai sepi, kerena rata rata sudah tertidur, dan saya juga memutuskan untuk tidur. Hhe.

Sesampainya di Depok, saya diantar teman saya kerumah, karena rumah saya memang jauh dari mana mana, jadi dia berbaik hati untuk mengantar saya kerumah.
Sesampainya di rumah ibu saya berkomentar, “ kamu iteman yah, apalagi muka kamu, kebakar gitu.”
Yaaa emang bener sih, tapi mau diapain lagi. Hhe. Pokonya seru deh, meski ga semuanya ikut, tapi seru  makasih yaa semuanya atas kebaikannya. Mungkin kita udah ga bisa jalan jalan bareng lagi kaya gini. Hehe. Sotoy sekali saya. Hha.



Sepertinya saya memang tidak akan mengambil kuliah saya di UI, sepertinya saya akan ke Jogja, beberapa teman saya juga berpendapat lebih baik di sana, teman ayah saya juga berpendapat seperti itu. Dan saya juga lebih ingin kesana, tapi apa saya sanggup untuk hidup disana? Sendiri?