Malam itu cukup dingin di kawasan titik nol kilometer di mana saya sedang duduk di sebuah bangku yang terbuat dari kayu di depan gedung Agung memandangi sekitar. Hujan baru saja selesai mengguyur kota Yogyakarta sedari sore. Jejaknya masih terlihat cukup jelas. Semuanya masih terlihat basah, dedaunan dari pohon pohon yang besar, gedung gedung, dan jalan, bangku kayu yang saya duduki pun masih terasa basah. Malam itu terlihat cukup lengang, tak banyak orang berada di sekitar sini. Apakah mungkin saya yang terlalu malam berada disini atau hujan tadi membuat orang orang yang biasa berkunjung malas untuk datang? Entahlah. Di kawasan titik nol kilometer ini saya mencoba menghabiskan malam sambil sesekali mencari tahu tentang kawasan yang menjadi sebuah kawasan penting di kota ini, Yogyakarta.
Kawasan nol kilometer ini diketahui sering dijadikan patokan jarak antar daerah di Yogyakarta atau kota – kota lain di Yogyakarta. Tentu saja yang dijadikan patokan tersebut bukanlah kawasannya, melainkan titik nol kilometer itu. Meski begitu banyak juga orang yang menjadikan kawasan ini sebagai patokan. Mengenai titik nol kilometer itu sendiri, banyak sekali pendapat yang berbeda mengenai keberadaan titik nol kilometer ini. Namun, sebuah papan pemberitahuan yang berada di depan bangunan bekas gedung seniseno dapat dijadikan sebuah petunjuk mengenai keberadaan titik nol kilometer secara akurat. Papan pemberitahuan berwarna putih dengan tulisan berwarna merah itu berdiri sekitar 2 meter dari tanah. Sehingga rasanya dapat dilihat dengan mudah oleh siapa saja. Papan pemberitahuan itu memberitahukan bahwa titik nol kilometer itu berada di sekitar perempatan jalan yang ada di depannya. Bukan di tempat di mana papan pemberitahuan itu berada. Titik nol kilometer itu berada di sekitar perempatan jalan yang ada di depannya, perempatan jalan yang mempertemukan Jl. Ahmad Yani, Jl. KH. Ahmad Dahlan, Jl, Senopati dan Jl. Trikora. Menurut beberapa orang, dulunya di tengah perempatan itu terdapat sebuah air mancur kota, dan kemungkinan air mancur itulah yang menjadi titik nol kilometer kota Yogyakarta.
Entah karena saya yang datang terlalu malam atau karena suhunya yang cukup dingin sehingga tak banyak orang yang datang kesini, tapi biasanya kawasan ini selalu dipadati oleh wisatawan, lokal maupun mancanegara, sehingga selalu saja ada orang yang meramaikan kawasan ini. Ada yang sekedar mengobrol mengahabiskan waktu, berjalan – jalan, melihat lihat gedung – gedung yang memiliki nilai sejarah, atau berfoto – foto. Kawasan ini memang diketahui bisa dijadikan sebagai tempat wisata sejarah, meski memang tak banyak orang yang datang untuk berwisata sejarah, tapi tempat ini selalu ramai dikunjungi dari pagi hingga malam.
Kawasan ini juga sering didatangi oleh berbagai macam komunitas tertentu, pesepeda, skuterist, dan fotografer, namun kadang kala beberapa seniman juga datang kesini untuk mencari inspirasi. Para komunitas itu biasanya datang untuk sekedar berkumpul atau berekspresi, seperti malam ini, saya melihat kumpulan pesepeda BMX sedang menunjukan kebolehannya melakukan trick - trick bersepedanya, mereka melakukannya di lahan kosong dekat monumen tapak prasasti. Tak banyak orang melihat, meski begitu mereka tetap bersemangat untuk menunjukan kebolehannya.
Di seberang jalan sana, di depan monumen serangan umum satu maret, saya melihat tak banyak sepeda motor terjejer rapih seperti biasanya, meski begitu para tukang parkir yang bersedia menyusun rapih sepeda motor tersebut tampak tak kehilangan semangatnya untuk tetap menjaga dan menunggu sepeda motor lainnya, karena sepertinya itulah satu – satunya cara bagaimana mereka mendapatkan uang untuk bisa bertahan hidup. Pemandangan yang sama ketika saya melihat para pedagang asongan dan pengamen, mereka tetap bersemangat untuk berkeliling menghampiri mereka yang sedang duduk menghabiskan untuk menawarkan dagangannya atau mempertunjukkan kebolehan mereka dalam bernyanyi. Sebuah pemandangan kecil mengenai bagaimana kawasan ini dijadikan sebuah lapangan pekerjaan tidak langsung oleh masyarakat Yogyakarta. Selain para tukang parkir dan pedagan asongan tadi, ada juga pedagang makanan lesehan yang membuka lapaknya di sekitaran Jl. Malioboro sampai Jl. Ahmad Yani. Bila siang hari, kita juga akan menemukan tempat ini dipenuhi oleh para pedagang kaki lima yang menjual suvenir khas Jogja dan orang - orang yang menyediakan jasa angkut, seperti andong dan becak. Belum lagi mereka yang berjualan di kios kios atau di pasar Beringharjo. Ya, bisa dibilang kawasan ini juga menjadi pusat perekonomi untuk kota Yogyakarta.
Malam sudah semakin larut ketika saya menengok jam tangan saya, udaranya pun semakin mendingin, maka saya harus segera beranjak dari sini. Sebuah tempat yang menurut saya sangatlah bermanfaat, kawasan titik nol kilometer yang bermanfaat bagi siapa saja, pemerintah kota Yogyakarta, masyarakatnya, dan juga wisatawan yang berkunjung kesini. Maka ada baiknya tempat ini terus dipelihara agar terus bisa bermanfaat bagi siapa saja, selain itu karena kawasan ini bisa dibilang sebagai warisan sejarah yang menyimpan banyak informasi sejarah mengenai Indonesia, maka memang penting untuk terus menjaga dan memelihara tempat ini.
PS: Ini tugas naskah feature radio saya kemarin, ya, iseng saja di post disini, banyak yang masih perlu saya perbaiki dalam naskah ini, ya, kurangnya rewriting karena diburuburu deadline. Tapi, ya, itu tetap tidak bisa dijadikan alasan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar