Tampilkan postingan dengan label Serius. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Serius. Tampilkan semua postingan

16 November 2011

Omong Kosong

Siapa yang bisa tau dengan apa yang akan terjadi nanti? Apa ada? Peramal kah, atau orang pintar? Apa mereka benar benar bisa tau? Ya saya mungkin orang yang selalu penasaran dengan apa yang akan terjadi nantinya pada hidup saya, atau jangan jangan semua orang memang begitu?

Saya termasuk orang yang terus terusan mengkhawatirkan waktu hidup saya, bukan Cuma soal apa yang akan terjadi nanti, tapi juga apa yang telah terjadi pada hidup saya. Hal ini adalah sesuatu yang terus menyangkut di otak saya dan membuat saya terus berpikir. Apakah saya hanya hidup menghabis habiskan waktu dengan banyaknya kegiatan yang mungkin hanya omong kosong? Saya sendiri yang menjalaninya berpikir bagaimana dengan orang lain yang mengenal saya dan tahu akan apa saja yang saya kerjakan?

Saya pernah menulis tentang bagaimana masa lalu dan masa depan berkaitan dengan sangat erat. Jadi, mungkinkah omong kosong yang selalu saya lakukan pada saat ini akan menghasilkan sesuatu yang kosong juga pada nantinya? Kalau dipikir pikir semuanya terlihat seperti bercocok tanam, apa yang kita tanam dan apa yang kita lakukan pada saat menanam akan mempengaruhi hasil dari apa yang telah kita tanam? Bukan begitu?  Benarkan saya bila saya salah.

Bila memang seperti itu perihalnya, saya ingin mengulang hal hal di masa lalu saya yang memang perlu dirubah, tapi, rasanya itu sedikit susah dan tidak mungkin. Saat ini belum ada mesin waktu yang dapat mengembalikan saya ke masa lalu, dan saya bukan orang orang yang ada di film Butterfly Effects. Tapi bukankah ketika saya dapat mengubah satu dari masa lalu saya semua alur kehidupan saya nantinya juga akan berubah?

Kadang saya berpikir, apa kah saya akan benar benar bisa hidup dengan umur yang panjang? Emmm, dengan konsumsi rokok dan juga alcohol yang lumayan, banyak, kadang membuat saya ragu akan hal itu. Hahaha. Baiklah, saya sudahi saja omong kosong saya ini. Dah.

22 Mei 2011

Nol Kilometer Yogyakarta






Malam itu cukup dingin di kawasan titik nol kilometer di mana saya sedang duduk di sebuah bangku yang terbuat dari kayu di depan gedung Agung memandangi sekitar. Hujan baru saja selesai mengguyur kota Yogyakarta sedari sore. Jejaknya masih terlihat cukup jelas. Semuanya masih terlihat basah, dedaunan dari pohon pohon yang besar, gedung gedung, dan jalan, bangku kayu yang saya duduki pun masih terasa basah. Malam itu terlihat cukup lengang, tak banyak orang berada di sekitar sini. Apakah mungkin saya yang terlalu malam berada disini atau hujan tadi membuat orang orang yang biasa berkunjung malas untuk datang? Entahlah. Di kawasan titik nol kilometer ini saya mencoba menghabiskan malam sambil sesekali mencari tahu tentang kawasan yang menjadi sebuah kawasan penting di kota ini, Yogyakarta.

Kawasan nol kilometer ini diketahui sering dijadikan patokan jarak antar daerah di Yogyakarta atau kota – kota lain di Yogyakarta. Tentu saja yang dijadikan patokan tersebut bukanlah kawasannya, melainkan titik nol kilometer itu. Meski begitu banyak juga orang yang menjadikan kawasan ini sebagai patokan. Mengenai titik nol kilometer itu sendiri, banyak sekali pendapat yang berbeda mengenai keberadaan titik nol kilometer ini. Namun, sebuah papan pemberitahuan yang berada di depan bangunan bekas gedung seniseno dapat dijadikan sebuah petunjuk mengenai keberadaan titik nol kilometer secara akurat. Papan pemberitahuan berwarna putih dengan tulisan berwarna merah itu berdiri sekitar 2 meter dari tanah. Sehingga rasanya dapat dilihat dengan mudah oleh siapa saja. Papan pemberitahuan itu memberitahukan bahwa titik nol kilometer itu berada di sekitar perempatan jalan yang ada di depannya. Bukan di tempat di mana papan pemberitahuan itu berada. Titik nol kilometer itu berada di sekitar perempatan jalan yang ada di depannya, perempatan jalan yang mempertemukan Jl. Ahmad Yani, Jl. KH. Ahmad Dahlan, Jl, Senopati dan Jl. Trikora. Menurut beberapa orang, dulunya di tengah perempatan itu terdapat sebuah air mancur kota, dan kemungkinan air mancur itulah yang menjadi titik nol kilometer kota Yogyakarta.

Entah karena saya yang datang terlalu malam atau karena suhunya yang cukup dingin sehingga tak banyak orang yang datang kesini, tapi biasanya kawasan ini selalu dipadati oleh wisatawan, lokal maupun mancanegara, sehingga selalu saja ada orang yang meramaikan kawasan ini. Ada yang sekedar mengobrol mengahabiskan waktu, berjalan – jalan, melihat lihat gedung – gedung yang memiliki nilai sejarah, atau berfoto – foto. Kawasan ini memang diketahui bisa dijadikan sebagai tempat wisata sejarah, meski memang tak banyak orang yang datang untuk berwisata sejarah, tapi tempat ini selalu ramai dikunjungi dari pagi hingga malam.

Kawasan ini juga sering didatangi oleh berbagai macam komunitas tertentu, pesepeda, skuterist, dan fotografer, namun kadang kala beberapa seniman juga datang kesini untuk mencari inspirasi. Para komunitas itu biasanya datang untuk sekedar berkumpul atau berekspresi, seperti malam ini, saya melihat kumpulan pesepeda BMX sedang menunjukan kebolehannya melakukan trick - trick bersepedanya, mereka melakukannya di lahan kosong dekat monumen tapak prasasti. Tak banyak orang melihat, meski begitu mereka tetap bersemangat untuk menunjukan kebolehannya.

Di seberang jalan sana, di depan monumen serangan umum satu maret, saya melihat tak banyak sepeda motor terjejer rapih seperti biasanya, meski begitu para tukang parkir yang bersedia menyusun rapih sepeda motor tersebut tampak tak kehilangan semangatnya untuk tetap menjaga dan menunggu sepeda motor lainnya, karena sepertinya itulah satu – satunya cara bagaimana mereka mendapatkan uang untuk bisa bertahan hidup. Pemandangan yang sama ketika saya melihat para pedagang asongan dan pengamen, mereka tetap bersemangat untuk berkeliling menghampiri mereka yang sedang duduk menghabiskan untuk menawarkan dagangannya atau mempertunjukkan kebolehan mereka dalam bernyanyi. Sebuah pemandangan kecil mengenai bagaimana kawasan ini dijadikan sebuah lapangan pekerjaan tidak langsung oleh masyarakat Yogyakarta. Selain para tukang parkir dan pedagan asongan tadi, ada juga pedagang makanan lesehan yang membuka lapaknya di sekitaran Jl. Malioboro sampai Jl. Ahmad Yani. Bila siang hari, kita juga akan menemukan tempat ini dipenuhi oleh para pedagang kaki lima yang menjual suvenir khas Jogja dan orang - orang yang menyediakan jasa angkut, seperti andong dan becak. Belum lagi mereka yang berjualan di kios kios atau di pasar Beringharjo. Ya, bisa dibilang kawasan ini juga menjadi pusat perekonomi untuk kota Yogyakarta.

Malam sudah semakin larut ketika saya menengok jam tangan saya, udaranya pun semakin mendingin, maka saya harus segera beranjak dari sini. Sebuah tempat yang menurut saya sangatlah bermanfaat, kawasan titik nol kilometer yang bermanfaat bagi siapa saja, pemerintah kota Yogyakarta, masyarakatnya, dan juga wisatawan yang berkunjung kesini. Maka ada baiknya tempat ini terus dipelihara agar terus bisa bermanfaat bagi siapa saja, selain itu karena kawasan ini bisa dibilang sebagai warisan sejarah yang menyimpan banyak informasi sejarah mengenai Indonesia, maka memang penting untuk terus menjaga dan memelihara tempat ini.

PS: Ini tugas naskah feature radio saya kemarin, ya, iseng saja di post disini, banyak yang masih perlu saya perbaiki dalam naskah ini, ya, kurangnya rewriting karena diburuburu deadline. Tapi, ya, itu tetap tidak bisa dijadikan alasan.

18 Oktober 2010

Konvensional dan modern

Seiring perkembangan zaman yang pesat, kini media media massa cetak, dan siaran, mulai tertinggal dengan adanya internet.

Di zaman yang udah maju ini, orang orang udah mulai nyari sesuatu yang simpel buat nyari informasi. Sekarang dengan hadirnya internet, mereka bisa mendapatkan informasi dengan gampang, mereka bisa mengakses internet dari mana aja. Belum lagi itu semua didukung dengan perangkatnya yang udah mulai memudahkan buat mengakses, ya liat aja, hape hape sekarang semua udah ada fitur buat mengakses internet, bahkan hape esia yang dulunya dipake cuma buat nelfon sama sms irit ngirit udah bisa ngakses internet.

Mendapatkan informasi lewat internet mungkin emang lebih mudah, contoh aja yah, seandainya punya akun di situs mikroblogging Twitter, kita tingal follow akun dari media media yang biasanya menyiarkan berita, dan sesegera mungkin mereka bisa mengupdate berita berita terbaru, yah, ini juga salah satu keuntungan mendapatkan berita dari internet, serba cepat.

Tapi sayangnya kekurangan mendapatkan informasi dari internet ini, sama kaya media media cetak lainnya, kita butuh melihat berita yang dibutuhkan. Tidak fleksibel, karena memang bukan karet sih dasarnya, oke ngawur. Untuk hal yang satu ini tentunya kita masih mengandalkan media radio bukan ? Ya, kita hanya perlu menyalakan radio dan mendengarkan informasi yang diberikan oleh media tersebut. Tapi ya tentu aja, dengan kemajuan zaman, kini, radio pun sudah bisa di akses melalui internet. Jadi ya, internet tetap unggul dalam sebuah penyampaian informasi.

Tapi, kalau dipikir-pikir, gw jadi kasian sama orang orang yang bergerak di industri media-media cetak, seiring perkembangan zaman ini, mereka mulai sepi peminat, bahkan diluar sana, di Inggris, sudah banyak perusahaan perusahaan yang bergerak di bidang ini mengalami kebangkrutan, ya kalau ngga bangkrut mereka mulai mem PHK pekerjanya. Ironis memang, kemajuan teknologi, mulai menggeser sesuatu yang bersifat manual. Meski pada dasarnya, pokok pokoknya hampir sama, media media internet juga membutuhkan reporter, penulis, penyuntin dan segala macamnya, tapi ya begitulah.

Internet, entah menguntungkan entah merugikan ? Yaah, tapi ya namanya sesuatu, pasti ada kontradiksinya kan ?

04 Agustus 2010

Tentang Satu Hal yang Saya Benci

Aku berteriak atas nama kekecewaan
Atas nama kepercayaan yang kalian hancurkan
Aku berteriak atas nama kekecewaan
Atas nama khianat yang kalian lakukan

Aku merintih kesakitan
Atas nama luka yang kalian timbulkan
Aku merintih kesakitan
Atas nama hati yang kalian siksa tanpa perasaan

Kalian susun semua siasat
Cara terbaik untuk berkhianat
Kalian orang orang keparat
Lebih baik tersiksa sampai hari kiamat

Kalian tahu rasa nikmat dari berkhianat
Apakah begitu memikat?
Tapi aku hanya tahu rasa sakit dari terkhianat
Rasanya seperti ditusuk oleh belati tajam berkarat


Khianat!
Hazmi. Iskandar
Bogor, 2010


Tiba tiba, ketika menemukan kata khianat dari buku yang gw baca, otak gw ga bisa lepas dari kata khianat tersebut dan tanpa sadar gw nulis kaya gini. Hahaha.

Seperti biasa, hanya sekedar berbagi :))

31 Juli 2010

Nimatnya Negeriku

Selamat datang dinegeri yang kucintai ini
Negeri yang terlihat sempurna
Terlalu sempurna
Untuk para kaum yang tak sempurna

Nikmatilah negeriku ini
Segala kekejamannya
Segala kengeriannya
Bisa membuatmu mati ternganga

Legitimasi yang diberi legalisasi
Pembantaian hak asasi manusia
Korupsi merajalela
Aparat yang merasa dirinya setengah dewa

Selamat datang di negeri yang kubanggakan ini
Lihatlah para pendosa yang sedang berposta pora
Akhlak serasa menghilang entah kemana?
Tak perdulikah mereka dengan negeri mereka yang tercinta?

Nikmatkah negeriku ini?
Apa kau sudah melihat kekejamannya?
Apa kau sudah merasakan kengeriannya?
Semoga saja itu tak membuatmu mati ternganga


Nikmatnya Negeriku
Hazmi, Iskandar
Bogor, 2010

******
Syair iseng yang gw bikin ini gw posting gara gara liat tingkahnya Om Pong Harjatmo kemarin. hehe. Disini gw juga ga ngerasa sok suci suci amat, hhe. Cuma mau berbagi aja dengan apa yang gw rasakan :))

Dan semoga saja negeri ini dapat membaik nantinya. Amiin.

25 Juni 2010

Syair yang Tertinggal

Gw menemukan ini, ketika ngebuangin file file yang tidak berguna dari pc gw. Jadi gw post disini aja buat sekedar ngeshare.

#####

Kali ini gelap benar benar datang
Datang dan menghapus terang
Kelam kini mengisi hati
Mengisinya dengan penuh benci

Dengan brutal, ia membuatku dipenuhi dengki
Penuh dengki hingga yang ku mau hanya ingin memaki
Putih yang dulu bersinar kini hilang
Hilang diterkam sang gelap yang berang

Dimana para terang yang biasa menghapus gelap?
Entah mengapa? semua kini menjadi senyap
Dimana putih yang biasa menerangi hati?
Entah kenapa? semua terasa mati

Gelap, beriku sebuah amarah
Buatku hilang arah
Gelap, beriku sebuah duka
Buat harapku sirna

Gelap datang dan menghitam
Membuat hati menjadi kelam
Gelap datang terlalu cepat
Membuat hati seperti berkarat


Hazmi. Iskandar
Gelap
Bogor, Mei 2010

#####

Akan datang suatu masa dimana jahiliyah kembali menguasai dunia
Suatu masa dimana orang orang tak lagi perduli siapa mereka sebenarnya
Masa dimana pahala tak lagi berarti di mata manusia
Dan dosapun, menggantikan kedudukannya

Akan datang suatu masa dimana para umat akan berlomba mengaku
Berlomba mengaku menjadi hipokrit hipokrit yang nyatanya tak bermutu
Akan datang masa dimana para pandir mengaku pintar
Dan para orang pintar diangap pandir

Ketika kezaliman dilazimkan
Yang ada hanya keburukan keburukan
Para umatpun akan saling mengumpat
Saling mengumpat sampai mereka terlumat

Akan datang suatu masa dimana semua akan hancur
Hancur tak bersisa, bagai dilebur
Datang suatu masa dimana takdir akan diselesaikan
Selesai tanpa satupun pengampunan

Ketika baik dan buruk terlihat saru
Hatipun seperti membeku
Ketika yang zalim itu lazim
Takkan ada lagi istilah alim

Maka hancurlah kita
Leburlah kita
Luluhlah kita
Lantaklah kita

Disama ratakan dengan kotoran


Hazmi. Iskandar
Masa ( untuk dunia dan penghuninya yang sudah mulai menggila )
Bogor, April 2010

#####


Kau anggap itu sebuah kebenaran tapi bagiku itu sebuah dusta
Kau janjikan mereka surga, surga imitasi
Sebuah dogma yang menyesatkan, tertata rapi layaknya skenario
Tercetak biru dalam bait bait penyesatan penuh laknat

Topeng emas yang kau gunakan hanya untuk tutupi karat yang memenuhi mukamu
Kata kata mutiara yang kau ucapkan tak lebih dari sumpah serapah
Sebar dusta penuh laknat, lewat untaian puisi yang menyesatkan
Kau adalah seorang yang didustakan oleh apa yang kau dustai

Merekayasa sebuah dosa, jadikan itu pahala
Dasar kau pendusta
Anggap dirimu seorang dewa, tapi nyatanya kaulah sang dajjal


Hazmi. Iskandar
Pendusta Bertopeng Emas
(untuk para orang gila yang mengaku sebagai utusan Tuhan)
Bogor, Desember 2009