Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

14 Desember 2015

Suatu Tempat di Dalam Ingatan Saya

Jadi, beberapa pekan yang lalu saya sempat merasakan pengalam personal yang lain ketika menonton sebuah film. Ini sebenarnya sebuah perasaan yang jarang-jarang terjadi, karena biasanya yang muncul hanya perasaan ingin untuk bisa membuat film dengan kualitas yang sama dengan yang baru saja di tonton.

Omoide no nakade atau somewhere in my memory atau di suatu tempat di dalam ingatan saya. Sebuah film karya Keihiro Kanyama. Saya menontonya di Jogja-Netpac Asian Film Festival awal bulan lalu. Saya tidak punya ekspektasi apa-apa terhadap film ini sebelumnya, karena toh niatan awalnya hanya menonton salah satu film teman saya. Omoide no nakade sendiri masuk ke dalam program lights of asia dalam JAFF 2015.

Dilihat dari judulnya saja, Somewhere In My Memory, film ini buat saya udah bisa dapet tempat tersendiri di ingatan, iya, sampe segitunya, bagus pemilihannnya. Untuk jalan cerita-nya sendiri sebenarnya simpel, tentang seorang perempuan yang lagi pulang ke kampung halamannya buat nemuin orang tuanya dan ngasih tau bahwa dia baru aja cerai.

Kalau dipikir-pikir apa personalnya buat saya? Saya bukan perempuan, menikah aja belum, latar tempat dan budaya, Jepang, tapi kok bisa? Saya juga ga ngerti sih, tapi... bagian personal buat saya adalah ketika si Tomoe, protagonis film ketemu sama temennya, ngobrol-ngobrol tentang yang lalu. Masalah personal kaya, milih untuk tetap tinggal di kotanya yang kecil atau pergi ke kota besar untuk mendapatkan sesuatu yang lebih. Sesimpel itu aja saya jadi ngerasa deket banget sama film ini.

Karena, tiba-tiba saya memproyeksikan diri saya beberapa tahun ke depan, ketemu temen saya, terus melakukan obrolan yang sama. Obrolan tentang rencana-rencana ataupun apa-apa saha yang sudah saya lewatkan selama meninggalkan kota saya dibesar, dan juga tentang mereka yang memilih untuk tetap tinggal memutuskan untuk membesarkan, dan mereka yang pergi, meninggalkan yang kecil untuk mendapatkan yang besar.

Sebagai sarjana muda, tinggal di kota kecil,  tentu saja saya dihadapi permasalahan yang juga mungkin dihadapi tomoe di dalam cerita dulunya. Meninggalkan atau bertahan? Ya mungkin sebenernya bukan itu juga inti cerita dari film, tapi bagi saya itu bagian yang paling personal. Hahaha.


05 Juli 2011

Memori

























Judul : Memori
Kamera : Sony Alpha
Model : Catyamarsha
Lokasi : Stasiun Lempuyangan, Nol Kilometer, Alun - Alun Selatan


Ini tugas dasar fotografi saya kemarin. Ya, memang, standar standar saja, heee.

22 Mei 2011

Nol Kilometer Yogyakarta






Malam itu cukup dingin di kawasan titik nol kilometer di mana saya sedang duduk di sebuah bangku yang terbuat dari kayu di depan gedung Agung memandangi sekitar. Hujan baru saja selesai mengguyur kota Yogyakarta sedari sore. Jejaknya masih terlihat cukup jelas. Semuanya masih terlihat basah, dedaunan dari pohon pohon yang besar, gedung gedung, dan jalan, bangku kayu yang saya duduki pun masih terasa basah. Malam itu terlihat cukup lengang, tak banyak orang berada di sekitar sini. Apakah mungkin saya yang terlalu malam berada disini atau hujan tadi membuat orang orang yang biasa berkunjung malas untuk datang? Entahlah. Di kawasan titik nol kilometer ini saya mencoba menghabiskan malam sambil sesekali mencari tahu tentang kawasan yang menjadi sebuah kawasan penting di kota ini, Yogyakarta.

Kawasan nol kilometer ini diketahui sering dijadikan patokan jarak antar daerah di Yogyakarta atau kota – kota lain di Yogyakarta. Tentu saja yang dijadikan patokan tersebut bukanlah kawasannya, melainkan titik nol kilometer itu. Meski begitu banyak juga orang yang menjadikan kawasan ini sebagai patokan. Mengenai titik nol kilometer itu sendiri, banyak sekali pendapat yang berbeda mengenai keberadaan titik nol kilometer ini. Namun, sebuah papan pemberitahuan yang berada di depan bangunan bekas gedung seniseno dapat dijadikan sebuah petunjuk mengenai keberadaan titik nol kilometer secara akurat. Papan pemberitahuan berwarna putih dengan tulisan berwarna merah itu berdiri sekitar 2 meter dari tanah. Sehingga rasanya dapat dilihat dengan mudah oleh siapa saja. Papan pemberitahuan itu memberitahukan bahwa titik nol kilometer itu berada di sekitar perempatan jalan yang ada di depannya. Bukan di tempat di mana papan pemberitahuan itu berada. Titik nol kilometer itu berada di sekitar perempatan jalan yang ada di depannya, perempatan jalan yang mempertemukan Jl. Ahmad Yani, Jl. KH. Ahmad Dahlan, Jl, Senopati dan Jl. Trikora. Menurut beberapa orang, dulunya di tengah perempatan itu terdapat sebuah air mancur kota, dan kemungkinan air mancur itulah yang menjadi titik nol kilometer kota Yogyakarta.

Entah karena saya yang datang terlalu malam atau karena suhunya yang cukup dingin sehingga tak banyak orang yang datang kesini, tapi biasanya kawasan ini selalu dipadati oleh wisatawan, lokal maupun mancanegara, sehingga selalu saja ada orang yang meramaikan kawasan ini. Ada yang sekedar mengobrol mengahabiskan waktu, berjalan – jalan, melihat lihat gedung – gedung yang memiliki nilai sejarah, atau berfoto – foto. Kawasan ini memang diketahui bisa dijadikan sebagai tempat wisata sejarah, meski memang tak banyak orang yang datang untuk berwisata sejarah, tapi tempat ini selalu ramai dikunjungi dari pagi hingga malam.

Kawasan ini juga sering didatangi oleh berbagai macam komunitas tertentu, pesepeda, skuterist, dan fotografer, namun kadang kala beberapa seniman juga datang kesini untuk mencari inspirasi. Para komunitas itu biasanya datang untuk sekedar berkumpul atau berekspresi, seperti malam ini, saya melihat kumpulan pesepeda BMX sedang menunjukan kebolehannya melakukan trick - trick bersepedanya, mereka melakukannya di lahan kosong dekat monumen tapak prasasti. Tak banyak orang melihat, meski begitu mereka tetap bersemangat untuk menunjukan kebolehannya.

Di seberang jalan sana, di depan monumen serangan umum satu maret, saya melihat tak banyak sepeda motor terjejer rapih seperti biasanya, meski begitu para tukang parkir yang bersedia menyusun rapih sepeda motor tersebut tampak tak kehilangan semangatnya untuk tetap menjaga dan menunggu sepeda motor lainnya, karena sepertinya itulah satu – satunya cara bagaimana mereka mendapatkan uang untuk bisa bertahan hidup. Pemandangan yang sama ketika saya melihat para pedagang asongan dan pengamen, mereka tetap bersemangat untuk berkeliling menghampiri mereka yang sedang duduk menghabiskan untuk menawarkan dagangannya atau mempertunjukkan kebolehan mereka dalam bernyanyi. Sebuah pemandangan kecil mengenai bagaimana kawasan ini dijadikan sebuah lapangan pekerjaan tidak langsung oleh masyarakat Yogyakarta. Selain para tukang parkir dan pedagan asongan tadi, ada juga pedagang makanan lesehan yang membuka lapaknya di sekitaran Jl. Malioboro sampai Jl. Ahmad Yani. Bila siang hari, kita juga akan menemukan tempat ini dipenuhi oleh para pedagang kaki lima yang menjual suvenir khas Jogja dan orang - orang yang menyediakan jasa angkut, seperti andong dan becak. Belum lagi mereka yang berjualan di kios kios atau di pasar Beringharjo. Ya, bisa dibilang kawasan ini juga menjadi pusat perekonomi untuk kota Yogyakarta.

Malam sudah semakin larut ketika saya menengok jam tangan saya, udaranya pun semakin mendingin, maka saya harus segera beranjak dari sini. Sebuah tempat yang menurut saya sangatlah bermanfaat, kawasan titik nol kilometer yang bermanfaat bagi siapa saja, pemerintah kota Yogyakarta, masyarakatnya, dan juga wisatawan yang berkunjung kesini. Maka ada baiknya tempat ini terus dipelihara agar terus bisa bermanfaat bagi siapa saja, selain itu karena kawasan ini bisa dibilang sebagai warisan sejarah yang menyimpan banyak informasi sejarah mengenai Indonesia, maka memang penting untuk terus menjaga dan memelihara tempat ini.

PS: Ini tugas naskah feature radio saya kemarin, ya, iseng saja di post disini, banyak yang masih perlu saya perbaiki dalam naskah ini, ya, kurangnya rewriting karena diburuburu deadline. Tapi, ya, itu tetap tidak bisa dijadikan alasan.

05 Mei 2011

Menolak Untuk Lupa

Kamu, terlalu berharga untuk ku lupa
Dengan segala indah yang kau punya
Aku menolak untuk lupa
Atas segala memori yang kita cipta bersama

Aku menolak untuk lupa
Atas nama suka dan bahagia
Yang selalu kau rasa tiap kita bersama

Aku menolak untuk lupa
Atas nama duka dan air mata
Yang selalu ada di setiap doa yang ku baca

Karena aku tahu kamu seorang wanita
Yang selalu senang untuk dipuja
Namun dapat terluka begitu saja
Meski hanya karena sebuah kata

Dan itu alasan yang kupunya
Untuk selalu tetap berkata
Aku menolak untuk lupa!


Menolak Untuk Lupa
Hazmi. Iskandar
Yogyakarta, 5 Mei 2011

28 Februari 2011

Sajak sajak Terpinggirkan #2

Ya, inilah kita
Terlahir di dunia nyata,
Menjadi manusia
Makhluk paling sempurna
Dengan jasad dan jiwa

Ya, inilah kita
Terlahir di dunia nyata
Menjadi manusia
Dengan segala rupa
Atas raga dan jiwa

Tapi,

Apa karena kita terlalu sempurna?
Sehingga rasa angkuh itu ada
Apa karena kita semua tak sama?
Sehingga rasa iri itu tercipta
Atau, karena kita memang manusia?

Karena kita memang manusia
Hazmi. Iskandar
Bogor, Februari 2011

###################

Butir demi butir terus berjatuhan
Mengisi ruang kosong yang berada di sisi seberang
Dari balik kaca ia terlihat tak begitu berarti
Hingga pada akhirnya nanti ruang kosong itu terisi
Membalik keadaan menjadi suatu yang sangat berarti
Membuat sesal menghampiri hati

Sesungguhnya ia tak dapat diukur dengan satuan ukur
Namun ketika sisi yang lain terisi semua menjadi terukur
Satu, dua, tiga, dan seterusnya
Ia beritahu berapa banyak yang telah dikonsumsi
Hingga pada akhirnya kita sadar
Begitu banyak yang telah terlewat

Banyak yang telah kita lewatkan
Tawa, kata, dan segala canda
Kini semua telah terganti
Airmata, caci, dan segala duka
Kini mengisi hari demi hari
Dan sesal terus saja menyelimuti hati

........
Hazmi. Iskandar
Yogyakarta, Januari 2011

29 Januari 2011

Ketika aku merasa

Bersama embun pagi ia turun ke bumi
Meninggalkan secercak bekas yang kemudian hilang terhapus matahari
Tapi meski sesaat ia mampu menentramkan jiwa yang tak terisi
Membawa hidup kembali menjadi hakiki yang bernilai

Ia datang dari Dia sang pencipta
Tersemat dalam tiap senyum yang kita cipta
Bukti cinta dan kasih dari Dia sang pencinta
Berawal dari setiap untaian kata yang disebut doa

Ia takkan merasa tersinggung meski aku lupa mengucap syukur
Atas segala nikmat yang tumbuh subur
Atas segala mimpi pekat yang ia kubur
Hingga pada akhirnya nanti aku mati terbujur

Januari, 2011
Yogyakarta

02 Januari 2011

Pampampam :))

Aku ingin mencinta,
Layaknya pelangi terhadap hujan
Setia menunggu dengan satu harap
Warna cerah menghias mendung di langit

Aku ingin mencinta,
Layaknya bulan di setiap bulan
Setia menunggu dengan satu harap
Terlihat sempurna, mencerahkan malam yang gelap

Aku ingin
Hazmi. Iskandar
Yogyakarta, 29 Desember 2010


#####


Btw, ini mungkin mirip sama aku inginnya Mas Sapardi, ya, emang terinfluence berat sama dia sih, mohon dimaklumi aja. hhe. Oh iya, selamat tahun baru yah, semoga semoga :)

28 Desember 2010

Aku?

Apa aku sekacau itu ?
Tanpa kau aku memang menjadi berantakan
Semua tak teratur lagi seperti dulu
Aku tak lagi sempurna seperti saat kau ada

Kau beri angka satu ketika hanya nol besar yang kupunya
Kau beri merah di sebuah hitam pekat

Tapi, kenapa kemudian kau beri api di secarik kertas penuh tinta ?
Menjadikannya abu lalu biarkan ia terbawa angin entah kemana

Cukup dengan sesimpel itu saja aku menganalogikan
Rasa ketika kau ada dan tiada
Cukup dengan sesimpel itu saja aku merasa
Senang ketika kau ada, dan sakit ketika kau jauh

Sejak awal kita memang sudah berbeda
Aku tercipta seperti adam, dan kau seperti hawa
Kau bagian dari hidupku,
Kehilanganmu maka kehilangan sebagian hidupku

Aku, lalu tentang kau
Yogyakarta, 28 Desember 2010
Hazmi. Iskandar

26 Desember 2010

Kita....

Hilang adalah sebuah ketiadaan
Yang menunjukan sebuah ketidaksempurnaan
Kita adalah sebuah ketiadaan
Ketidaksempurnaan yang selalu berangan

Kita terombang ambing di tengah terpaan badai
Meliuk ke kanan dan kekiri
Lalu berdansa kesana kemari
Hingga lemah tak berdaya lalu mati

Semua tercipta secara nyata
Tidak semu, tidak juga fana
Terpampang jelas dengan segala fakta
Tak menyadarinya, atau sekiranya kita buta ?

Kita mengira semuanya tak terarah
Dilakukan dengan semaunya dan terserah
Meski kasat mata, semua terhubung dengan benang merah
Tersusun secara rapi seperti pembuluh darah

Kita terus melahap secara gila
Hingga pada akhirnya kita resah
Hanya jasad dan ruh yang tersedia
Semua terjadi karena tumpulnya pisau yang tak pernah diasah

Mengaku sempurna atas segala ketidaksempurnaan
Mengejar sesuatu yang sesungguhnya tiada
Lalu mengelak dengan menyebutnya angan
Penutup manis menjadikannya alibi yang sempurna

Hazmi. Iskandar
Yogyakarta, 25 Desember 2010

Untukmu, yang tercinta...

Sekiranya apa yang dapat kuberi ?
Untuk bisa membuatmu terus tersenyum
Sekiranya mungkin aku ini orang yang amat beruntung
Hanya saja aku tak menyadarinya

Tubuh yang kau beri ini,
Dengan segala lebih dan kurangnya
Harus tetap kusyukuri
Karena kau sendiri yang memberi tak pernah menyesal

Aku merasa hina dengan segala hinaan dan cacian yang kadang mengalir deras dari lidahku
Segala keluh yang selalu kukatakan terhadap segala kekuranganmu
Aku merasa hina atas segala puji dan syukur yang kadang tak bisa kuucap
Pujian dan rasa terima kasih yang seharusnya kuucap terhadap segala lebihmu

Aku selalu bermimpi tinggi,
Suatu hari nanti bisa membahagiakanmu dengan materi
Namun, itu mimpi yang mungkin baru terwujud nanti
Lalu apa yang sekiranya dapat kuberi saat ini ?

Ibu, pantaskah aku atas apa yang ada di bawah telapak kakimu ?
Ibu, sesungguhnya aku hanya anak yang belum tahu balas budi bukan tidak
Ibu, sekiranya nanti kau telah tiada, izinkan aku untuk bisa menemuimu lagi
Ibu, sebelum kau tiada, izinkan aku untuk terus bisa membuatmu tersenyum bangga

Ibu
Hazmi. Iskandar
Yogyakarta, 22 Desember 2010

12 Desember 2010

Apa ?

Kembali ke Yogyakarta
Rasanya ada yang masih tersisa
Apakah itu rindu karena kita belum sempat berjumpa ?
Atau hanya rasa penasaran belaka ?

Apa ?
12 Desember 2010, Purwokerto
Hazmi Iskandar

09 Desember 2010

Sajak Sajak Terpinggirkan

Dalam gelap ia meringis kesakitan
Mencoba mengaduh namun tak sampai hati untuk bertindak gaduh
Ke daratan Jiran ia mengadu nasib
Namun sayang, malah malang yang datang...

Ia disiksa oleh mereka yang tak punya hati
Luka lebam dan lepuh terdapat dalam tubuh
Menyambung hidup niat awalnya, tapi apadaya, diputus begitu saja
Kini hanya tersisa berita dan amarah...

Sebutannya pahlawan, tapi mengapa dianggap seperti makhluk terbuang ?
Ia tidak jalang, bukan juga pecundang
Ia hidup penuh harap, bukan sama sekali tanpa arti
Berkeringat untuk tiap lembaran kertas bernilai...

Ia berdoa, kelak suatu saat dapat membuat bangga meski apa yang ia lakukan selalu dianggap remeh
Dalam darahnya tersemat beribu semangat
Dalam keringatnya terkandung harapan
Harapan dan semangat untuk membuat bangsa dan keluarga bahagia...

Apa kalian tak lihat itu ? Semangat, dan harap, tak lihatkah kalian ?
Tak berhargakah tiap kucuran darah yang kalian keluarkan dari tubuhnya ?
Tak ibakah kalian melihat banyak luka di tubuhnya ?
Dan, semurah ituklah harga untuk sebuah nyawa yang kalian layangkan ?

Semoga kelak, tuhan memberikan ganjaran yang setimpal untuk kalian yang dilukai dan melukai...

Untuk Mereka yang Tersiksa
24 November 2010, Yogyakarta
Hazmi Iskandar


##############

Senja di ibukota
Terendam dalam lautan tawa
Sesungguhnya tanpa makna
Hanya bahagia sesaat yang pebuh tipu daya...

Gemerlap, Menipu
Desember 2010, Jakarta
Hazmi Iskandar

09 Agustus 2010

Untuk Para Pembela

Atas nama dua syahadat yang kalian ucapkan
Dan atas nama tuhan yang kalian sebut sebut sewaktu melakukan tindak kekerasan
Segala tindak tanduk yang telah kalian lakukan
Aku mengutuk kebiadaban kalian

Kuasa apa yang kalian punya hingga harus menyakiti?
Atas dasar apa? Benci?
Kalian para hipokrit hanya bisa kusumpah dengan segala caci maki!

Lupakah kalian dengan ideologi negara ini?
Lupakah kalian atas ke Esaan dan 5 agama yang kami akui?
Atau kalian kira itu salah satu cara untuk mendapatkan kenikmatan surgawi?

Tak adakah cara lain selain harus memukuli?
Haruskah kalian main hakim sendiri?
Aku memang bukan seorang yang religius, tapi setidaknya aku tahu tindakan yang lebih berhati!

Aku mungkin memang tak sesuci kalian
Aku mungkin memang tak sereligius kalian
Tapi dengan apa yang telah kalian lakukan
Nama suci yang kalian agungkan, serasa hancur berantakan!

Nodai yang Suci atas Nama Kesucian!
Hazmi. Iskandar
Bekasi 2010

04 Agustus 2010

Tentang Satu Hal yang Saya Benci

Aku berteriak atas nama kekecewaan
Atas nama kepercayaan yang kalian hancurkan
Aku berteriak atas nama kekecewaan
Atas nama khianat yang kalian lakukan

Aku merintih kesakitan
Atas nama luka yang kalian timbulkan
Aku merintih kesakitan
Atas nama hati yang kalian siksa tanpa perasaan

Kalian susun semua siasat
Cara terbaik untuk berkhianat
Kalian orang orang keparat
Lebih baik tersiksa sampai hari kiamat

Kalian tahu rasa nikmat dari berkhianat
Apakah begitu memikat?
Tapi aku hanya tahu rasa sakit dari terkhianat
Rasanya seperti ditusuk oleh belati tajam berkarat


Khianat!
Hazmi. Iskandar
Bogor, 2010


Tiba tiba, ketika menemukan kata khianat dari buku yang gw baca, otak gw ga bisa lepas dari kata khianat tersebut dan tanpa sadar gw nulis kaya gini. Hahaha.

Seperti biasa, hanya sekedar berbagi :))

31 Juli 2010

Nimatnya Negeriku

Selamat datang dinegeri yang kucintai ini
Negeri yang terlihat sempurna
Terlalu sempurna
Untuk para kaum yang tak sempurna

Nikmatilah negeriku ini
Segala kekejamannya
Segala kengeriannya
Bisa membuatmu mati ternganga

Legitimasi yang diberi legalisasi
Pembantaian hak asasi manusia
Korupsi merajalela
Aparat yang merasa dirinya setengah dewa

Selamat datang di negeri yang kubanggakan ini
Lihatlah para pendosa yang sedang berposta pora
Akhlak serasa menghilang entah kemana?
Tak perdulikah mereka dengan negeri mereka yang tercinta?

Nikmatkah negeriku ini?
Apa kau sudah melihat kekejamannya?
Apa kau sudah merasakan kengeriannya?
Semoga saja itu tak membuatmu mati ternganga


Nikmatnya Negeriku
Hazmi, Iskandar
Bogor, 2010

******
Syair iseng yang gw bikin ini gw posting gara gara liat tingkahnya Om Pong Harjatmo kemarin. hehe. Disini gw juga ga ngerasa sok suci suci amat, hhe. Cuma mau berbagi aja dengan apa yang gw rasakan :))

Dan semoga saja negeri ini dapat membaik nantinya. Amiin.

26 Juli 2010

Tentang Setiap Kali Saya Jatuh Cinta Dengan Buku

Aku jatuh cinta,

Aku jatuh cinta kepada setiap aksara yang kubaca

Aku jatuh cinta,

Aku jatuh cinta kepada setiap kata yang kucerna

02 Juli 2010

Sedang Jatuh Cinta, Tapi Dengan Siapa?

Mengartikanmu, lebih dari sekedar mengartikan sebuah lagu cinta yang sering kunyanyikan

Menunggu senyummu lebih dari sekedar menunggu hujan berhenti membasahi daratan

Merindumu lebih dari sekedar merindu kedatangan bulan purnama di setiap akhir bulan

Dan, mencintaimu lebih dari sekedar mencintai setiap kata kata yang kau tulis dan katakan

Hazmi.Iskandar
Juli, 2010

25 Juni 2010

Syair yang Tertinggal

Gw menemukan ini, ketika ngebuangin file file yang tidak berguna dari pc gw. Jadi gw post disini aja buat sekedar ngeshare.

#####

Kali ini gelap benar benar datang
Datang dan menghapus terang
Kelam kini mengisi hati
Mengisinya dengan penuh benci

Dengan brutal, ia membuatku dipenuhi dengki
Penuh dengki hingga yang ku mau hanya ingin memaki
Putih yang dulu bersinar kini hilang
Hilang diterkam sang gelap yang berang

Dimana para terang yang biasa menghapus gelap?
Entah mengapa? semua kini menjadi senyap
Dimana putih yang biasa menerangi hati?
Entah kenapa? semua terasa mati

Gelap, beriku sebuah amarah
Buatku hilang arah
Gelap, beriku sebuah duka
Buat harapku sirna

Gelap datang dan menghitam
Membuat hati menjadi kelam
Gelap datang terlalu cepat
Membuat hati seperti berkarat


Hazmi. Iskandar
Gelap
Bogor, Mei 2010

#####

Akan datang suatu masa dimana jahiliyah kembali menguasai dunia
Suatu masa dimana orang orang tak lagi perduli siapa mereka sebenarnya
Masa dimana pahala tak lagi berarti di mata manusia
Dan dosapun, menggantikan kedudukannya

Akan datang suatu masa dimana para umat akan berlomba mengaku
Berlomba mengaku menjadi hipokrit hipokrit yang nyatanya tak bermutu
Akan datang masa dimana para pandir mengaku pintar
Dan para orang pintar diangap pandir

Ketika kezaliman dilazimkan
Yang ada hanya keburukan keburukan
Para umatpun akan saling mengumpat
Saling mengumpat sampai mereka terlumat

Akan datang suatu masa dimana semua akan hancur
Hancur tak bersisa, bagai dilebur
Datang suatu masa dimana takdir akan diselesaikan
Selesai tanpa satupun pengampunan

Ketika baik dan buruk terlihat saru
Hatipun seperti membeku
Ketika yang zalim itu lazim
Takkan ada lagi istilah alim

Maka hancurlah kita
Leburlah kita
Luluhlah kita
Lantaklah kita

Disama ratakan dengan kotoran


Hazmi. Iskandar
Masa ( untuk dunia dan penghuninya yang sudah mulai menggila )
Bogor, April 2010

#####


Kau anggap itu sebuah kebenaran tapi bagiku itu sebuah dusta
Kau janjikan mereka surga, surga imitasi
Sebuah dogma yang menyesatkan, tertata rapi layaknya skenario
Tercetak biru dalam bait bait penyesatan penuh laknat

Topeng emas yang kau gunakan hanya untuk tutupi karat yang memenuhi mukamu
Kata kata mutiara yang kau ucapkan tak lebih dari sumpah serapah
Sebar dusta penuh laknat, lewat untaian puisi yang menyesatkan
Kau adalah seorang yang didustakan oleh apa yang kau dustai

Merekayasa sebuah dosa, jadikan itu pahala
Dasar kau pendusta
Anggap dirimu seorang dewa, tapi nyatanya kaulah sang dajjal


Hazmi. Iskandar
Pendusta Bertopeng Emas
(untuk para orang gila yang mengaku sebagai utusan Tuhan)
Bogor, Desember 2009

10 Mei 2010

HUJAN!

Rintik hujan yang turun tak dapat lagi terbendung
Disenja yang terlihat begitu gelap dan murung

Langit tak lagi kuasa menahan tangisnya
Dan hujanpun turun dengan derasnya

Bumi ini mendingin seirama dengan rintik hujan
Membawaku terlelap dalam kerinduan

Rintik hujan yang turun tak dapat lagi terbendung
Disenja yang begitu gelap dan murung

Hujan yang dulu dinanti dengan penuh tawa
Kini hanya bisa diratapi dengan duka

Aku terlelap
Jauh terlelap
Terlelap dalam kerinduan

Sebuah rasa rindu
Yang membuatku
Terlupakan

Hujan,
Yang dulu kunikmati
Kini menjadi badai
Badai yang menghancurkan hati
Membuatnya seperti dibenci

____

Hujan
Bogor, 1 Mei 2010
Hazmi Iskandar

06 April 2010

Polemik hitam dan putih

Dan semua sekarang terlihat semakin jelas.

Rasa bimbang yang mungkin akan berujung sebuah kehancuran

karena semua berawal dari hitam dan putih, dan mungkin akan tetap begitu sampai akhir

Kerancuan yang terus membimbing, tak akan lepas sampai mati

Berikan sebuah titik terang untuk bisa keluar dari gelapnya jiwa